Hungaria Diam-diam Pasok Informasi Intelijen tentang Israel kepada Iran
Hungaria yang merupakan anggota NATO, ternyata diam-diam memasok informasi intelijen untuk Iran. Berdasarkan data intelijen, Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pasca meledaknya ribuan penyeranta atau pager diledakkan oleh Israel di kawasan Hezbollah pada September 2024.
Percakapan antara Szijjarto dan Araghchi tersebut telah diverifikasi oleh dinas intelijen barat dan ditinjau ulang oleh The Washington Post. Pembicaraan tersebut bertolak belakang dengan posisi publik Hungaria yang mendukung sikap Israel di kawasan.
"Jika Anda memerlukan informasi lebih lanjut atau ingin menghubungi saya, maka saya selalu siap melayani Anda," kata Szijjarto kepada Araghchi seperti dilansir dari The Washington Post pada Jumat (10/4).
Gelombang ledakan pager yang dilakukan Israel telah menewaskan 12 orang dan membuat 2.800 orang luka-luka. Szijjarto menjelaskan kepada Araghchi pager tersebut tidak dibuat di negaranya.
Namun Szijjarto mengakui pager tersebut dibuat menggunakan teknologi dari negaranya walaupun diproduksi di Taiwan. Karena itu, Szijjarto menekankan pihaknya akan mengirimkan semua dokumen yang mungkin dikirimkan ke pemerintah Iran.
Araghchi mengakhiri dialog tersebut dengan apresiasi kepada Szijjarto atas informasi tersebut. Namun Araghchi tidak memberikan sinyal bahwa hubungan intelijen tersebut akan dilanjutkan.
"Kami sangat berterima kasih atas semua yang Anda lakukan," kata Araghchi.
Seperti diketahui, Hungaria telah menjadi anggota Organisasi Perjanjian Atlantik Utara atau NATO sejak Maret 1999. Dilansir dari Al Jazeera, Presiden Amerika Serikat Donald J Trump sedang mendiskusikan keluar dari NATO.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan NATO telah gagal dalam ujian yang berbentuk perang antara negaranya dan Iran. Sebab, NATO telah menolak mengirimkan pasukan militer anggotanya ke konflik tersebut di luar kegiatan pertahanan.
Adapun pernyataan Leavitt dilayangkan sebelum Trump bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Gedung Putih kemarin, Rabu (8/4). Leavitt menyampaikan Trump telah memutuskan bahwa NATO telah gagal dalam ujian yang diberikan Amerika Serikat.
"Hal yang cukup sedih bahwa NATO meninggalkan masyarakat Amerika Serikat dalam enam pekan terakhir walaupun masyarakat Amerika Serikat telah mendanai pertahanan mereka," kata Leavitt.
