Kanselir Jerman Sebut Amerika Serikat Dipermalukan Iran dalam Negosiasi

Andi M. Arief
28 April 2026, 11:32
Kanselir Jerman Friedrich Merz. Foto: Instagram/bundeskanzler
Instagram/bundeskanzler
Kanselir Jerman Friedrich Merz. Foto: Instagram/bundeskanzler
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Amerika Serikat disentil oleh sekutunya sendiri terkait Perang Iran. Ini setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan pemerintah Iran telah mempermalukan Presiden AS Donald J Trump.

Merz mengatakan, dirinya tidak menemukan strategi jalan keluar yang akan dipilih oleh Trump dalam negosiasi. Menurutnya, negosiator Iran melanjutkan perundingan dengan sangat lihai.

"Seluruh negara sedang dipermalukan oleh pimpinan Iran, khususnya oleh Garda Revolusi Islam Iran," kata Merz seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (28/4).

Komentar Merz terhadap kepemimpinan Trump dilontarkan saat beberapa Kepala Negara di Eropa mulai merenggangkan hubungan dengan Negara Abang Sam. Walau demikian, Merz telah mengunjungi Gedung Putih untuk membuka saluran produktif dengan Trump bulan lalu.

AS dan Israel mulai menyerang Iran pada akhir Februari 2026, Sabtu (28/2). Merz tampak kerap kritis terhadap agresi tersebut mengingat meningkatnya harga minyak dunia mulai mempengaruhi perekonomian Jerman.

Merz mengatakan, Trump tidak berkonsultasi dengan pemimpin negara-negara Eropa sebelum menyerang Iran. Dia juga yakin, dirinya akan skeptis kepada Trump jika tahu perang akan terjadi secara berlarut-larut.

"Jika saya tahu perang ini akan berlangsung lima atau enam pekan dan terus memburuk, saya akan menyampaikan poin saya dengan lebih keras," katanya.

Perundingan Iran-AS di Pakistan
Perundingan Iran-AS di Pakistan (Reuters)

Berkaca pada masa lalu, Merz mengatakan masalah utama dalam agresi yang dilakukan AS terhadap Afganistan dan Irak adalah penyelesaian konflik. Karena itu, dia berharap konflik AS dan Iran cepat rampung.

Merz juga mengaku pesimistis akan prospek berakhirnya konflik tersebut dalam waktu dekat. Sebab, Iran ternyata lebih kuat dari yang dinilai Amerika Serikat, sementara AS tidak menunjukkan strategi negosiasi yang meyakinkan.

"Perang terhadap Iran ini telah berdampak langsung pada performa ekonomi kami. Karena itu, konflik ini harus diakhiri secepat mungkin," ujarnya.

AS dan Iran telah gagal bertemu dalam ronde kedua negosiasi damai pada Sabtu (25/4). Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah melakukan dua kunjungan yang berbeda ke tempat negosiasi berlangsung akhir pekan lalu, yakni Islamabad, Pakistan.

Axios melaporkan Araghchi telah menyampaikan proposal damai baru kepada Amerika Serikat dalam kunjungan tersebut melalui mediator asal Pakistan. Walau demikian, perundingan tersebut gagal seiring pembatalan kunjungan kenegaraan Trump ke Pakistan pada hari yang sama.

"Iran telah mengajukan banyak hal dalam negosiasi damai, tapi tidak cukup," kata Trump.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...