Khamenei Tolak Uranium Iran Dibawa Keluar, Netanyahu Sebut Perang Belum Berakhir

Desy Setyowati
22 Mei 2026, 07:34
iran, uranium, trump, netanyahu
https://www.rudaw.net/
Pemimpin Iran
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemimpin Tertinggi Iran telah mengeluarkan arahan bahwa uranium tingkat hampir-senjata nuklir milik negara itu, tidak boleh dikirim ke luar negeri. Hal ini mempertegas pendirian Teheran untuk tidak memenuhi salah satu tuntutan utama AS dalam perundingan perdamaian.

Para pejabat Israel sebelumnya mengatakan, Presiden AS Donald Trump telah meyakinkan Israel bahwa persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran, yang dibutuhkan untuk membuat senjata atom, akan dikirim keluar dari Iran dan setiap kesepakatan perdamaian harus mencakup klausul tentang hal ini.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia tidak akan menganggap perang berakhir sampai uranium yang diperkaya dikeluarkan dari Iran, Teheran mengakhiri dukungannya untuk milisi proksi, dan kemampuan rudal balistiknya dihilangkan.

Namun, dua sumber senior Iran mengatakan, para pejabat tinggi percaya bahwa pengiriman material itu ke luar negeri akan membuat negara itu lebih rentan terhadap serangan di masa depan oleh Amerika Serikat dan Israel. Khamenei memiliki keputusan akhir dalam masalah-masalah kenegaraan yang paling penting.

"Arahan Pemimpin Tertinggi, dan konsensus di dalam pemerintahan, yakni persediaan uranium yang diperkaya tidak boleh meninggalkan negara itu," kata salah satu dari dua sumber Iran, yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas masalah itu, dikutip dari Reuters, Jumat (22/5).

Perintah Ayatollah Mojtaba Khamenei dapat semakin membuat frustrasi Presiden AS Donald Trump dan mempersulit pembicaraan tentang mengakhiri perang AS-Israel di Iran.

“Presiden Trump telah menjelaskan garis merah Amerika Serikat dan hanya akan membuat kesepakatan yang mengutamakan rakyat Amerika,” kata juru bicara Gedung Putih Olivia Wales berkomentar soal perintah pemimpin Iran itu.

Trump bersumpah pada Kamis (21/5) bahwa Amerika Serikat tidak akan mengizinkan Iran untuk memiliki persediaan uranium yang diperkaya tinggi.

"Kita akan mendapatkannya. Kita tidak membutuhkannya dan tidak menginginkannya. Kita mungkin akan menghancurkannya setelah mendapatkannya, tetapi kita tidak akan membiarkan mereka memilikinya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Dua sumber senior Iran mengatakan, ada kecurigaan mendalam di Iran bahwa jeda dalam permusuhan alias gencatan senjata merupakan tipu daya taktis oleh Washington untuk menciptakan rasa aman sebelum memperbarui serangan udara.

Negosiator perdamaian utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan pada Rabu (20/5) bahwa AS menyiapkan langkah-langkah yang jelas dan tersembunyi, untuk mempersiapkan serangan baru.

Para pejabat Iran telah berulang kali mengatakan bahwa prioritas Teheran yakni memastikan perang berakhir permanen, serta ada jaminan yang kredibel bahwa AS dan Israel tidak akan melancarkan serangan lebih lanjut. Hanya setelah jaminan ini diberikan, kata mereka, Iran akan siap untuk terlibat dalam negosiasi terperinci mengenai program nuklirnya.

Sumber Reuters mengatakan, Iran dan AS sebenarnya mulai mempersempit beberapa kesenjangan dalam negosiasi, tetapi perpecahan yang lebih dalam tetap ada mengenai program nuklir Teheran, termasuk nasib persediaan uranium yang diperkaya dan tuntutan Teheran untuk pengakuan haknya untuk melakukan pengayaan.

Sebelum perang, Iran memberi sinyal kesediaan untuk mengirimkan setengah dari persediaan uraniumnya yang telah diperkaya hingga 60%, tingkat yang jauh lebih tinggi daripada yang dibutuhkan untuk penggunaan sipil.

Tetapi sumber-sumber mengatakan bahwa posisi itu berubah setelah ancaman berulang dari Trump untuk menyerang Iran.

Israel, Amerika Serikat, dan negara-negara Barat lainnya telah lama menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, termasuk menunjuk pada langkahnya untuk memperkaya uranium hingga 60%, jauh lebih tinggi daripada yang dibutuhkan untuk penggunaan sipil dan mendekati 90% yang dibutuhkan untuk sebuah senjata. Iran membantah berupaya mengembangkan senjata nuklir.

Akan tetapi, Israel juga diyakini memiliki persenjataan atom, namun tidak pernah mengonfirmasi atau membantah memiliki senjata nuklir. Mereka mempertahankan apa yang disebut kebijakan ambiguitas mengenai masalah ini selama beberapa dekade.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...