Harga Bensin AS Meroket, Trump Didesak Segera Damai dengan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berada di bawah tekanan untuk segera mencapai kesepakatan dengan Iran setelah lonjakan harga energi memicu kenaikan harga bensin di AS menjelang pemilihan kongres November.
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik yang berlangsung sejak akhir Februari telah mengganggu pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga energi. Kondisi ini meningkatkan tekanan politik terhadap Trump karena pemilih mulai menunjukkan frustrasi atas kenaikan biaya hidup.
Di tengah tekanan tersebut, Trump tetap bersikeras bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir sebagai syarat utama dalam setiap kesepakatan damai.
Trump mengatakan akan membuat “keputusan akhir” mengenai proposal negosiasi dengan Iran. Proposal itu akan memperpanjang gencatan senjata yang telah berlaku sejak awal April selama 60 hari lagi guna memberi waktu bagi para negosiator mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pertemuan di Ruang Situasi berlangsung sekitar dua jam, tetapi tidak mengungkap apakah Trump telah mengambil keputusan. “Presiden Trump hanya akan membuat kesepakatan yang baik untuk Amerika dan memenuhi garis merahnya. Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” kata pejabat itu, dikutip dari Reuters, Sabtu (30/5).
Sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa kesepakatan sebenarnya sudah dekat. Namun, dua syarat utama yang diajukan Trump masih belum disetujui, yakni pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian kemampuan Iran untuk membuat senjata nuklir.
Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, menyebut tuntutan Trump agar Teheran menghentikan program nuklir dan membuka Selat Hormuz sebagai upaya untuk menciptakan kesan kemenangan politik.
Menurut Fars, Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz jika AS mencabut blokade terhadap kapal-kapal Iran. Namun Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan, pencabutan blokade dapat dilakukan secara bertahap apabila Selat Hormuz kembali dibuka.
Fars juga melaporkan adanya kesepakatan mengenai pelepasan aset Iran yang dibekukan senilai US$12 miliar.
Akan tetapi, sebelumnya Trump mengatakan tidak akan ada pertukaran uang hingga pemberitahuan lebih lanjut. Pernyataan itu diduga berkaitan dengan tuntutan Iran mengenai pembayaran tol di Selat Hormuz, kompensasi kerusakan akibat perang, atau pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Selain itu, Iran menginginkan pencabutan sanksi, penarikan pasukan AS dari kawasan, serta penghentian serangan sekutu AS, Israel, di Lebanon.
Trump Terjepit Harga Energi
Trump kini menghadapi tekanan dari dua arah. Di satu sisi, ia didorong untuk segera membuka kembali Selat Hormuz guna menurunkan harga bensin dan meredakan tekanan ekonomi dalam negeri. Di sisi lain, ia berisiko mendapat kritik dari kelompok garis keras di Partai Republik apabila memberikan terlalu banyak konsesi kepada Teheran.
Perang yang dimulai oleh AS dan Israel pada 28 Februari telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon. Konflik ini juga memicu gejolak ekonomi global akibat gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Israel telah menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi dan masuk jauh ke wilayah Lebanon dalam upaya mengejar milisi Hizbullah yang didukung Iran.
Lebanon menyebut lebih dari 3.200 orang tewas akibat serangan Israel, sementara Israel mengatakan 23 tentaranya dan empat warga sipil tewas.
