AS - Iran Resmi Teken Gencatan Senjata, Trump Ancam Serangan Bisa Berlanjut
Amerika Serikat dan Iran merilis teks perjanjian sementara untuk mengakhiri perang pada Rabu (17/7). Namun, Presiden AS Donald Trump masih mengancam akan melanjutkan serangan dan membunuh pejabat Iran jika mereka gagal menghormati komitmen tersebut.
Trump, yang menghadiri G7 bersama para pemimpin lainnya di Prancis, juga menarik kembali setidaknya salah satu alasan yang sebelumnya ia nyatakan untuk menyerang Iran. Menurut Trump, akan "tidak adil" bagi Teheran untuk tidak memiliki rudal balistik, setelah sebelumnya berjanji untuk menghancurkannya.
"Kita akan membombardir mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian. Saya tidak ingin mereka melakukannya. Saya ingin mereka menghormati perjanjian itu," kata Trump tentang Iran dalam konferensi pers seperti dikutip dari Reuters.
Ia juga menyebut warga Iran sebagai "orang-orang cerdas" saat para negosiator AS dan Iran berupaya mencapai gencatan senjata permanen selama 60 hari ke depan.
AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, membunuh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang berusia 86 tahun dan para pejabat militer tinggi pada hari pertama. Perang tersebut kemudian berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas yang telah mendorong kenaikan harga energi, memperbarui tekanan inflasi, dan memicu kekhawatiran tentang krisis pasokan pangan besar di negara-negara berkembang.
Harga minyak kembali turun pada Rabu karena prospek pembukaan kembali Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent berjangka turun di bawah US$80, level terendah sejak awal konflik AS-Iran.
Namun, harga minyak ini kembali naik lebih dari 1% setelah Trump mengatakan dia bisa melanjutkan perang jika dia tidak puas dengan Iran.
Seorang pejabat senior AS, yang berbicara kepada wartawan dengan syarat anonim, membacakan teks nota kesepahaman yang telah ditandatangani dengan Iran, tetapi mengatakan bahwa kedua pihak masih dapat menarik diri hingga kesepakatan yang mengikat tercapai.
Perjanjian 14 poin tersebut, yang telah beredar luas sebelum isinya dipublikasikan, memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada bulan April selama 60 hari lagi untuk memungkinkan kedua pihak bernegosiasi untuk mencapai gencatan senjata akhir.
Pejabat AS dan Iran menyebut, baik Trump maupun Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menandatangani nota kesepahaman tersebut secara digital. Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa perjanjian tersebut telah berlaku sejak Rabu (17/6).
Tanggapan Para pemimpin G7
Memorandum tersebut mencakup pengakhiran segera perang di semua lini, termasuk Lebanon, dimulainya kembali sepenuhnya lalu lintas maritim di Selat Hormuz, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran, penghapusan sanksi AS terhadap Iran, pencairan asetnya, dan rencana senilai US$300 miliar untuk rehabilitasi ekonomi Iran,
Iran juga berjanji untuk tidak membangun senjata nuklir, menegaskan kembali sumpah yang telah dibuatnya selama beberapa dekade. Terlepas dari retorika agresifnya yang khas, Trump tampaknya hanya mencapai sedikit dari apa yang dikatakannya di awal perang. Sedangkan Iran, tampaknya jauh lebih dekat dengan pencabutan sanksi senilai miliaran dolar daripada sebelum diserang.
Pemerintahan teokratis Iran tetap berkuasa, persediaan uranium yang diperkaya tinggi belum diserahkan, kemampuan rudal balistiknya belum dihancurkan, dan belum mengakhiri dukungannya terhadap milisi anti-Israel seperti Hizbullah di Lebanon.
Berbicara kepada wartawan di Paris, Trump mencabut janjinya di awal perang untuk menghancurkan semua rudal Iran dan menghancurkan industri rudal mereka hingga rata dengan tanah. "Saya mengatakan bahwa jika negara lain memilikinya, agak tidak adil jika mereka tidak memilikinya," kata Trump setelah meninggalkan KTT tersebut.
Para pemimpin G7 memuji kesepakatan tersebut pada KTT mereka, yang diadakan di kota Evian-les-Bains, Prancis. Lokasi KTT ini hanya satu jam perjalanan dari tempat AS mengatakan bahwa akan ada upacara penandatanganan resmi untuk perjanjian AS-Iran di seberang perbatasan Swiss pada Jumat (19/6).
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, meragukan rencana tersebut. Ia mengatakan kepada Jaringan Berita IRIB bahwa, karena kedua presiden telah menandatangani perjanjian tersebut secara digital, tidak akan ada upacara penandatanganan yang diadakan di Swiss."
Para pemimpin Eropa berbagi kekhawatiran AS tentang program nuklir Iran dan isu-isu lainnya. “Kami menggarisbawahi perlunya negosiasi… untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh Iran di kawasan dan sekitarnya dan memastikan bahwa mereka tidak pernah memperoleh senjata nuklir,” kata para pemimpin Prancis, Jerman, Inggris, Jepang, Italia, Kanada, dan AS dalam sebuah pernyataan.
Mereka juga menuntut gencatan senjata segera di Lebanon, di mana memorandum tersebut menyerukan penghentian permusuhan antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran yang telah menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi.
Pertempuran di sana telah mereda tetapi belum berhenti sejak kesepakatan tercapai pada hari Minggu, dan Israel, yang tidak menjadi bagian dari negosiasi dan yang militernya menduduki Lebanon selatan, mengatakan bahwa mereka tetap berhak untuk menggunakan kekuatan.
Trump Menegur Netanyahu
Trump pada Rabu (17/6) dengan lembut menegur Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas taktiknya di Lebanon melawan Hizbullah. Kedua pria itu telah berulang kali berselisih mengenai penolakan Israel untuk membatasi pengejarannya terhadap Hizbullah di Lebanon, di mana penghentian permusuhan adalah tuntutan utama Iran.
“Netanyahu kebetulan orang baik, kadang-kadang sedikit bersemangat. Kita punya sedikit perselisihan tentang Lebanon. Saya katakan Anda bisa sedikit lebih lunak, Bibi,” katanya, menggunakan julukan Netanyahu.
“Anda tidak perlu merobohkan bangunan setiap kali seseorang dari Hizbullah masuk ke dalamnya.”
Media pemerintah Lebanon melaporkan serangan udara dan tembakan artileri Israel baru-baru ini di beberapa kota selatan sepanjang hari Rabu. Sumber keamanan Lebanon mengatakan Hizbullah juga telah melancarkan dua serangan drone terhadap pasukan Israel di selatan. Kelompok itu tidak secara terbuka mengklaim serangan tersebut.
Israel kemudian mengatakan lima tentaranya terluka dalam dua serangan drone Hizbullah di Lebanon selatan.
