Iran Balas Serangan AS, Pangkalan Militer di Qatar hingga Kuwait Jadi Sasaran
Angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk tetangga pada Kamis (9/7) menyusul serangan AS di provinsi pesisir selatan dan timur Iran. Aksi saling serang ini semakin memperburuk kesepakatan gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga minggu.
Kantor berita Fars menyatakan, angkatan udara Iran menerbangkan jet MiG-29 untuk mengamankan langit di atas prosesi pemakaman di Mashhad.
Harga minyak, yang sempat melonjak di tengah kekhawatiran tentang dampak serangan baru terhadap pasokan global, turun kembali pada Kamis (9/7). Investor mempertimbangkan apakah peningkatan ketegangan itu bersifat taktis dan sementara atau mungkin menandai runtuhnya gencatan senjata sepenuhnya.
Militer AS mengatakan pada Rabu (8/7) bahwa serangan terbarunya terhadap Iran bertujuan untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka setelah mereka mengatakan pasukan Iran telah menyerang tiga kapal tanker di daerah tersebut. Serangan itu terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia percaya gencatan senjata sementara dengan Iran telah "berakhir".
Para pejabat Iran mengatakan, serangan AS telah menewaskan 14 orang dan melukai 78 orang di lima provinsi pada tanggal 8 dan 9 Juli. Laporan media Iran, Fars mengatakan satu serangan AS telah mengenai jembatan kereta api yang digunakan untuk perdagangan dengan Rusia dan China.
Beberapa ledakan terdengar pada Kamis pagi di provinsi Bushehr, Iran, dan di Bandar Abbas, sebuah kota pelabuhan di Selat Hormuz di pantai selatan Iran, lapor kantor berita semi-resmi Mehr.
Bushehr adalah rumah bagi pembangkit listrik tenaga nuklir buatan Rusia. eorang pejabat setempat kemudian mengatakan kepada media pemerintah bahwa sebuah proyektil AS telah menghantam area perimeter fasilitas tersebut, yang sebelumnya telah beberapa kali dihantam selama konflik.
Serangan AS juga menghantam situs militer dan dermaga perikanan di provinsi Bushehr, meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan
Targetkan Militer AS di Qatar, Bahrain, Kuwait
Tentara Iran mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh media pemerintah bahwa mereka telah melancarkan serangan terhadap sistem Patriot AS dengan drone di Kuwait, sebuah situs peringatan dini di Qatar (antena satelit) dan sebuah penyimpanan bahan bakar tentara AS di Bahrain.
Kuwait mengatakan, angkatan bersenjatanya telah terlibat baku tembak dengan sebuah rudal jelajah, tiga rudal balistik, dan 10 drone di wilayah udaranya, dan satu orang terluka akibat pecahan peluru.
Sirene juga berbunyi di Yordania pada Kamis (9/7) setelah rudal yang diluncurkan dari Iran terdeteksi di wilayah udara Yordania, lapor kantor berita pemerintah, mengutip juru bicara pemerintah. Delapan rudal berhasil dicegat, tanpa ada laporan cedera atau kerusakan.
Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di kawasan ini dan sering menjadi mediator antara Washington dan musuh-musuhnya termasuk Teheran, menyerukan kembalinya diplomasi.
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani juga mengutuk serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Meskipun Iran belum mengaku bertanggung jawab atas serangan kapal tersebut, para analis mengatakan Teheran menggunakan tindakan semacam itu untuk mendapatkan pengaruh dalam negosiasi.
Selat Hormuz menangani sekitar seperlima pasokan minyak global sebelum perang meletus pada 28 Februari dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Sejak saat itu, Teheran telah menguasai selat tersebut secara efektif, memungkinkan mereka untuk memaksa kebuntuan dalam konfrontasi mereka dengan AS.
"AS belum belajar bahwa intimidasi dan pelanggaran komitmen tidak lagi tanpa konsekuensi. Izinkan saya memperjelas: Jika Anda menyerang, Anda akan diserang balik," tulis negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, di X.
"Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali berdasarkan kesepakatan Iran, bukan melalui ancaman AS," kata dia.
