AS Perluas Sanksi Ekonomi Iran, Negara Mana Saja yang Terdampak?
AS mengumumkan kampanye "D-Day ekonomi" untuk mengisolasi Iran dari ekonomi global, seraya mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap pihak-pihak yang memfasilitasi ("enablers") dan terus berbisnis dengan Teheran.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Washington untuk memutus jalur kehidupan perdagangan yang telah menopang ekonomi Teheran selama hampir enam bulan masa perang. Meskipun rincian penegakannya masih belum jelas, ancaman tersebut berpotensi memicu benturan antara AS dan beberapa mitra dagang utama Teheran.
Dikutip dari CNBC, Minggu (30/8), ini negara-negara yang akan terdampak kebijakan tersebut:
- Cina
Cina adalah pembeli terbesar minyak Iran dan berperan sebagai penghubung krusial bagi Teheran ke ekonomi global; menurut pemerintah AS, Tiongkok menyerap sekitar 90% dari ekspor minyak Iran.
Menurut Komisi Peninjauan Ekonomi dan Keamanan AS-Tiongkok, Tiongkok mencatat nilai perdagangan bilateral sebesar US$9,96 miliar dengan Iran pada tahun 2025. Angka ini belum termasuk ekspor minyak mentah Iran yang tidak dilaporkan ke Tiongkok pada tahun tersebut, yang nilainya diperkirakan mencapai sekitar $31,2 miliar.
Menurut Kpler, sebagian besar minyak tersebut diserap oleh kilang-kilang independen Tiongkok. Minyak ini sering kali dilabeli ulang sebagai minyak mentah Malaysia atau Indonesia dan pembayarannya diselesaikan melalui perantara di luar sistem dolar. Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan sanksi terhadap beberapa kilang tersebut tahun ini karena pembelian minyak Iran, namun tidak menyasar lembaga keuangan Tiongkok.
Beijing secara terbuka menentang sanksi AS terhadap Iran, dengan argumen bahwa tekanan ekonomi tidak akan menyelesaikan sengketa yang ada. Pada bulan Mei, Tiongkok memerintahkan perusahaan-perusahaan domestik untuk mengabaikan sanksi AS terhadap lima kilang yang terkait dengan perdagangan minyak Iran.
Meskipun Beijing kemungkinan tidak akan melawan secara langsung upaya sanksi Washington, mereka akan "diam-diam meningkatkan kepatuhan" di kalangan bank milik negara dan perusahaan minyak agar tidak ikut terkena dampak sanksi, ujar Dan Wang, direktur wilayah Tiongkok di Eurasia Group, seraya menyoroti adanya "dikotomi antara pernyataan resmi dan praktik di lapangan."
"Otoritas Tiongkok lebih mementingkan akses dolar dalam pembiayaan serta akses pasar ke AS," ujarnya.
2. Uni Emirat Arab (UEA)
Negara yang terletak hanya 50 mil dari Iran di seberang Teluk Persia, telah lama menjadi pusat perdagangan utama bagi Iran.
Nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar US$28 miliar pada tahun 2024, di mana UEA menjadi sumber impor terbesar bagi Iran dengan kontribusi lebih dari 30%, menurut data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). UEA juga merupakan tujuan ekspor terbesar ketiga bagi Iran, mencakup 12% dari total pengiriman barangnya dengan nilai lebih dari US$7 miliar.
Hubungan tersebut mengalami kendala pekan lalu ketika UEA mengambil langkah untuk menangguhkan seluruh transaksi perdagangan dan keuangan dengan Iran, menyusul peluncuran dua rudal balistik ke arah wilayah UEA, yang salah satunya menargetkan kapal tanker milik UEA.
Iran selama ini mengandalkan bank dan sistem keuangan UEA untuk mengakses ekonomi global melalui transaksi ilegal yang sering kali tidak transparan. Menurut lembaga pemikir (think tank) The Washington Institute yang berbasis di AS, memutus akses Iran akan memerlukan tindakan lebih tegas dari otoritas UEA untuk menindak aktivitas keuangan dan perdagangan yang tidak transparan tersebut.
"Sebagian besar aktivitas transshipment, penyelundupan, dan shadow banking (perbankan bayangan) Iran terjadi di Dubai. Oleh karena itu, Washington harus berupaya membantu para pemimpin nasional UEA di Abu Dhabi untuk meyakinkan dan membujuk para pemimpin Dubai agar mau bekerja sama," tulis Matthew Levitt, mantan pejabat Departemen Keuangan AS, dalam sebuah catatan pada hari Senin.
3. Turki
Negara ini menjalin hubungan komersial yang signifikan dengan Teheran, dengan mengimpor gas alam Iran dan mengekspor barang-barang manufaktur ke negara tersebut.
Perdagangan bilateral antara Turki dan Iran mencapai US$5,7 miliar pada tahun 2024 menurut Kementerian Luar Negeri Turki; Ankara terutama mengekspor mesin dan suku cadang, produk kimia, serta produk pertanian, sementara mengimpor produk energi dari Teheran.
Sementara itu, di bawah kontrak pasokan gas berdurasi 25 tahun antara kedua negara yang berakhir pada akhir Juli, impor gas Iran oleh Turki melonjak tahun ini, dan pangsa Iran dalam total impor gas alam Turki naik menjadi 18,6%, menurut laporan media setempat. Meskipun Ankara berupaya melakukan diversifikasi ke pemasok lain—dengan meningkatkan impor melalui pipa dari Azerbaijan dan Rusia—sejauh ini mereka belum menunjukkan niat untuk menghentikan pasokan dari Iran.
4. Irak
Irak yang bergantung pada listrik dan gas Iran, secara historis memiliki nilai perdagangan miliaran dolar dengan Teheran.
Pada Maret 2024, Iran memperbarui kontrak lima tahun untuk memasok hingga hampir 660 miliar kaki kubik gas alam per tahun ke Irak. Sementara itu, menurut U.S. Energy Information Administration, impor listrik dari Iran menyumbang lebih dari 30% dari total pembangkitan listrik Irak pada tahun 2023.
Menurut Reuters, nilai perdagangan Irak-Iran mencapai lebih dari US$10 miliar pada tahun 2025, di mana Teheran mengekspor bahan pangan, barang konsumsi, dan produk lainnya ke pasar Irak. Namun, perdagangan tersebut menurun tahun ini akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan serta gangguan yang terjadi sesekali di perbatasan sejak perang dimulai pada akhir Februari.
Irak dilaporkan membayar Iran sekitar US$4 miliar hingga US$5 miliar per tahun untuk gas alam yang digunakan dalam pembangkitan listrik.
