Ilmuwan China Kembangkan Rahim Buatan dan Pengasuh AI
ZIGI – Ilmuwan China di salah satu universitas mengembangkan teknologi rahim buatan dengan bantuan pengasuh Artificial Intelligence atau AI. Penelitian ini digunakan untuk melihat perkembangan embrio dari hari ke hari.
Meski teknologi rahim buatan untuk manusia bisa dibuat, tapi hukum internasional belum mengizinkan penerapannya. Simak berita lengkapnya di sini.
Baca Juga: Viral Ilmuwan Temukan Embrio Bayi Dinosaurus Berusia 70 Juta Tahun
Ilmuwan China Kembangkan Rahim Buatan dan Pengasuh AI
Ilmuwan China dari Institut Teknik dan Teknologi Biomedis Suzhou sedang mengembangkan rahim buatan. Sebuah kotak kubus berisi cairan nutrisi memperlihatkan sebuah embiro yang sedang berkembang.
Di luar kotak, pengasuh memantau perkembangan janin. Kotak tersebut adalah rahim buatan, sementara pengasuh merupakan robot Artifical Intelligence (AI) alias robot dengan kecerdasaan buatan.
Embiro yang digunakan adalah janin tikus. Para ilmuwan telah menguraikan tahap penelitian dalam peer-review. Peer-review merupakan proses ketika penelitian ditinjau oleh sesama ilmuwan. Proses ini penting untuk memastikan tahapan dan etika percobaan sesuai. Hasil penelitian rahim buatan lalu dipublikasikan dalam Journal of Biomedical Engineering.
Konsep penelitian ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, masyarakat akan lebih memahami asal usul kehidupan dan perkembangan embiro manusia. Dari sini, kemungkinan cacat lahir yang menimpa janin bisa diatasi sejak dalam kandungan. Selanjutnya, rahim buatan diharapkan bisa menjadi solusi dari masalah kesehatan reproduksi.
"Sistem pemantauan embrio yang dilakukan secara online, dapat melacak dan merekam karakteristik morfologis dari proses perkembangan tanpa mempengaruhi perkembangan embrio," melansir dari IFL Science pada Rabu, 2 Februari 2022.
Pemantauan ini digunakan sebagai dasar evaluasi perkembangan embiro dan optimalisasi sistem kultur in vitro. Konsep in vitro adalah prosedur medis, tes, dan eksperimen yang dilakukan di luar organisme hidup. Penelitian semacam ini biasanya dilakukan di tabung atau kotak khusus.
Pemantauan juga bertujuan untuk mencatat perkembangan embrio setiap harinya. Saat ini, penelitian masih berjalan dengan pengawasan dari pengasuh AI.
Rahim Buatan Bakal Terganjal Masalah Etika
Untuk melakukan eksperimen, para peneliti mengembangkan perangkat kultur embrio jangka panjang. Perangkat ini melibatkan sistem wadah cairan yang kompleks, tempat embrio berkembang, dibantu serangkaian pengontrol cairan dan dilengkapi dengan oksigen.
Lalu tersedia pula perangkat optik yang mampu memperbesar embrio dan memantaunya dengan detail mengesankan, yang mana memberikan informasi pertumbuhan penting kepada pengasuh AI. Berdasarkan informasi ini, AI bahkan dapat menentukan peringkat kesehatan embrio dan potensi secara keseluruhan, jika para peneliti menginginkannya.
Jika berhasil, konsep rahim buatan bertujuan untuk membantu banyak pasangan yang bermasalah dengan reproduksi. Meski secara teknologi rahim buatan dan pengasuh Artifical Inteligence bukanlah hal yang mustahil, tapi kemungkinan inovasi ini akan terganjal masalah etika.
Konsep rahim buatan masih menggunakan hewan sebagai percobaan. Hukum internasional masih melarang eksperimen semacam ini diterapkan kepada manusia. Para ilmuwan China memang tidak mengumumkan teknologi akan diterapkan kepada manusia. Teknologi Artificial Intelligence sendiri memang sedang marak dikembangkan.
Baca Juga: Asal Mula Spirit Doll dan Pandangan Menurut Agama Islam
