Satgas Sebut Vaksin Nusantara Dikembangkan di AS, Diuji di Indonesia
Satuan Tugas Penanganan Covid-19 angkat bicara mengenai Vaksin Nusantara yang dikembangkan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Juru Bicara Satgas, Prof Wiku Adisasmito mengatakan vaksin tersebut dikembangkan di Amerika Serikat dan menjalani uji coba di Indonesia.
Wiku berharap tim pengembang vaksin tersebut bisa berkoordinasi dan mau mengikuti prosedur yang ada di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menyelesaikan perizinan. Apalagi seluruh vaksin harus memenuhi kriteria keamanan, kelayakan, hingga efikasi.
“Kalau memenuhi kriteria tersebut tentunya Pemerintah akan memberikan dukungan,” kata Wiku dalam konfernesi pers virtual, Kamis (15/4).
Pemerintah akan mendukung seluruh inovasi anak bangsa demi menyelesaikan masalah Covid-19. Meski demikian, Wiku mengingatkan bahwa mereka tetap harus mengikuti kaidah, etika, serta tahapan ilmiah. “Sehingga memiliki manfaat,” katanya.
Polemik vaksin Nusantara ini bertambah ramai usai sejumlah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat menyambangi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Rabu (14/4).
Beberapa yang datang antara lain Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, politisi Partai Amanat Nasional Saleh Daulay hingga politisi PDI Perjuangan Adian Napitupulu. Dasco beralasan keikutsertaannya lantaran mendukung vaksin buatan dalam negeri.
Prosesnya, sampel darahnya yang telah diambil akan diolah dengan sistem dendritic cell selama tujuh hari. Usai sepekan, sampel darah yang diambil akan disuntikkan lagi ke dalam tubuh untuk mengajari sel darah melawan virus.
Ia juga meminta semua pihak tidak memperdebatkan antara satu vaksin dengan vaksin yang lain “Adanya Vaksin Nusantara akan menambah kekayaan vaksin, apalagi ini produksi dalam negeri,” kata politisi Partai Gerindra ini.
Kepala RSPAD Letnan Jenderal TNI dr. Albertus Budi Sulistya mengatakan mereka menjadi sampel penelitian vaksin Covid-19 tersebut. Budi mengatakan jika hasil penelitian membuktikan ada kenaikan imunitas terhadap virus corona, maka vaksin ini akan jadi penemuan baru. “Mereka juga menjalani penelitian sesuai protokol,” kata Budi, Rabu (14/4).
Meski demikian, dokter menganggap langkah Anggota DPR tersebut riskan lantaran menggunakan vaksin yang belum terbukti efikasinya. Apalagi BPOM belum memberi izin Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) uji klinis fase II Vaksin Nusantara.
"Vaksin lain sampai fase tiga baru boleh dipakai, ini kan belum. Menurut saya sangat riskan ya," kata Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Cabang Jakarta dr. Erlina Burhan, Rabu (14/4).
