Menkes Peringatkan Covid-19 Jenis Lain Mungkin Muncul di Masa Depan
Pandemi SARS CoV-2 atau Covid-19 telah melanda dunia selama 18 bulan terakhir. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin melihat bukan tidak mungkin muncul virus corona jenis berikutnya di masa depan.
Sebelumnya, virus corona pertama kali muncul dengan sebutan SARS CoV-1. SARS CoV-1 melanda Tiongkok pada 2002-2003 lalu.
"Tujuh belas tahun (17) tahun kemudian ada SARS COV-2 lebih menular. Tidak ada yang bisa menjamin SARS COV-3, SARS COV-4 tidak akan muncul," kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (16/8). Kemungkinan, virus corona berikutnya akan muncul di zaman anak maupun cucu masyarakat yang hidup pada masa sekarang.
Oleh karenanya, pemerintah bertugas mempersiapkan kehadiran virus corona lainnya. Hal ini dilakukan dengan mentransformasi sistem kesehatan pada 2021-2024. Pertama, pemerintah mentransformasi layanan primer dengan fokus pada promosi pencegahan penyakit. "Kita fokus pada menciptakan orang sehat, bukan sembuhkan orang sakit," ujar dia.
Kedua, pihaknya akan transformasi layanan sekunder. Untuk itu, seluruh fasilitas kesehatan diupayakan untuk memberikan standar layanan terbaik hingga pelosok daerah.
Selanjutnya, transformasi pada ketahanan sistem kesehatan untuk memastikan rantai pasok dan produksi obat maupun alat kesehatan siap. "Kita akan siapkan cadangan tenaga kesehatan kalau perang menghadapi virus ini akan terjadi kembali di masa mendatang," katanya.
Keempat, tranformasi sistem keuangan kesehatan. Mantan Direktur Utama Bank Mandiri itu ingin memastikan dana kesehatan, mulai dari dana pemerintah pusat, daerah, BPJS, hingga asuransi swasta digunakan secara efisien.
Kelima, transformasi sumber daya manusia kesehatan. Hal ini untuk memastikan seluruh dokter, perawat, dan tenaga kesehatan berjumlah cukup dan terdistribusi secara merata di seluruh Tanah Air, baik di daerah kota dan pelosok daerah.
Terakhir, pemerintah akan transformasi teknologi kesehatan, baik information technology dan biotechnology. "Sehingga ke depannya menjadi batu lompatan dari obat-obatan kita, alat kesehatan kita, alat medis kita, layanan kesehatan kita untuk berikan yang terbaik bagi rakyat," ujar dia.
Selain Budi Gunadi, Menteri Keuangan Sri Mulyani, mengatakan pemerintah akan menjadikan penanganan pandemi Covid-19 untuk mempercepat reformasi struktural anggaran. Menurutnya, Pandemi Covid-19 telah membuktikan akan pentingnya perencanaan anggaran untuk kepentingan mendadak.
Mulai tahun depan, pemerintah akan meminta kementerian/lembaga diharuskan meng-earmark atau mengalokasikan 5-10% pagu untuk antisipasi kebutuhan mendadak dan kondisi bergejolak, seperti penanganan pandemi.
Dalam RUU APBN Tahun 2022 disebutkan earmarking ini juga bisa dimanfaatkan untuk dipakai dalam menghadapi ancaman yang membahayakan perekonomian nasional dan/atau stabilitas sistem keuangan.
