Kejar Net Sink Karbon, Pemerintah Harus Lindungi Bentang Alam Tersisa

Rezza Aji Pratama
22 Oktober 2021, 18:16
 Presiden Joko Widodo saat meninjau hutan mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Bali, pada Jumat, 8 Oktober 202. Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sek
Katadata
Presiden Joko Widodo saat meninjau hutan mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Bali, pada Jumat, 8 Oktober 2021. Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sek

Pemerintah didorong untuk melestarikan jutaan hektar kawasan hutan, gambut, dan mangrove yang sampai saat ini belum terlindungi untuk mengejar target penyerapan bersih atau net sink karbon di 2030.

Executive Director Yayasan Madani Nadia Hadad mengatakan dalam dokumen Updated Nationally Determined Contribution (NDC), pemerintah menargetkan penurunan emisi 29% dengan upaya mandiri dan 41% dengan dukungan global. Namun, di sisi lain pemerintah juga masih memberikan peluang deforestasi hingga 325.000 hektar per tahun hingga 2030. Bahkan dalam dokumen LTS-LCCR 2050, Nadia menyebut ada jatah deforestasi 6,8 juta hektar sampai 2050. 

Advertisement

“Kunci penting komitmen iklim Indonesia adalah dengan melindungi bentang alam dan lahan gambut yang tersisa,” ujarnya dalam diskusi Katadata Road to COP 2026, Jumat (22/10).

Nadia melanjutkan dari hitungan Yayasan Madani, ada 9,62 juta hektar hutan dan 2,8 juta hektar lahan gambut di Indonesia yang belum terlindungi. Ini bisa menjadi peluang pemberian izin baru jika dibiarkan sebagaimana adanya.

Nadia menyebut pemerintah harus menyelaraskan kebijakan pembangunan dan ekonomi dengan perlindungan terhadap bentang alam. Pengakuan terhadap masyarakat adat juga harus diperhatikan sebab mereka berperan sangat penting dalam menjaga kelestarian hutan. 

Sementara itu, ECO EcoNusa Bustar Maitar mengatakan kondisi hutan mangrove di Indonesia saat ini tidak baik-baik saja. Padahal, dari 16,5 juta hektar lahan gambut dunia, 3,3 juta hektar di antaranya ada di Indonesia. Namun, laporan terakhir menyebut dunia telah kehilangan sekitar 30% lahan mangrove.

“Yang paling besar justru terjadi di Indonesia,” ujarnya, dalam diskusi yang sama, Jumat (22/10). 

Halaman:
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement