Covid-19 Mengganas, BOR RS di Jakarta Hampir Lampaui Batas Aman WHO

Ameidyo Daud Nasution
4 Februari 2022, 20:15
covid-19, jakarta, BOR
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Keluarga korban pasien Covid-19 menunggu di pelataran untuk anggota keluarganya yang terpapar Covid-19 bisa mendapatkan tempat tidur perawatan di IGD RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu, (23/6/2021).

Kasus Covid-19 terus menyebar di Indonesia pada awal tahun 2022. Salah satu yang menyumbangkan angka penularan terbesar adalah Provinsi DKI Jakarta.

Hingga Jumat (4/2) kasus positif di ibu kota terus menjadi yang tertinggi dari seluruh provinsi. Kenaikan kasus positif juga berdampak kepada kenaikan tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit atau (BOR).

Dari data Kementerian Kesehatan, hingga Rabu (2/2), angka BOR di DKI Jakarta telah menyentuh angka 58%. Rasio ini nyaris dua kali lipat dari Provinsi Banten yang berada di bawahnya yakni 30%.

Berikutnya adalah Provinsi Bali yang melaporkan rasio serupa mencapai 26%. Sedangkan secara nasional, angka BOR hingga dua hari lalu telah meningkat lagi menjadi 17%.

Adapun pada awal pekan ini,  BOR di DKI masih berada pada angka 52%. Sedangkan rasio keterisian tempat tidur pasien Covid-19 mencapai 13,8%.

Angka BOR saat ini juga kian mendekati batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni 60%. Meskipun demikian perawatan saat ini didominasi pasien yang tak mengalami gejala.

"Batasnya jangan sampai (BOR) 60%. Kita sudah sempat turun sampai 5%, tapi sekarang meningkat lagi," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria pada 28 Januari lalu.

Sedangkan Kementerian Kesehatan meminta pasien corona tanpa gejala (OTG) atau gejala ringan melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Hal ini lantaran karakteristik gejala ringan serta kesembuhan tinggi dari Omicron dibandingkan Alfa, Beta, dan Delta.

Sedangkan rumah sakit akan diprioritaskan bagi pasien dengan gejala sedang, berat, kritis, serta memerlukan oksigen. “Pasien masuk rumah sakit, sebanyak 85% sudah sembuh, sedangkan yang kasus berat, kritis, hingga membutuhkan oksigen sekitar 8%,” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi dalam keterangan tertulis, Jumat (4/2).

(Catatan Redaksi: Artikel ini telah diubah pada Jumat (4/2) pukul 20.52 WIB untuk menghapus pernyataan Direktur Yayasan Wellcome Trust, Sir Jeremy Farrar agar sesuai dengan konteks yang terjadi di Indonesia)

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rizky Alika

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...