Kemenkes Diminta Hati-hati Kelola Proyek Data Genom BGSi

Ameidyo Daud Nasution
26 Juni 2023, 18:15
data genomik, kemenkes, bgsi
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/YU
Peneliti melakukan penelitian di Laboratorium Genomik milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/8/2022).

Kementerian Kesehatan telah meluncurkan Biomedical and Genome Science Initiative (BGSi) sejak Agustus 2022. BGSi adalah  pemanfaatan data genom atau informasi genetik untuk mencegah serta mengobati penyakit dengan akurat.

Meski demikian, pakar meminta Kemenkes untuk berhati-hati dalam mengelola data tersebut. Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman mengatakan kehati-hatian penting untuk menjaga keamanan data ketahanan kesehatan nasional.

"Prinsip kecurigaan itu penting dalam aspek ketahanan," kata Dicky kepada Katadata.co.id, Senin (26/6).

Tak hanya itu, Dicky juga meminta ada kejelasan peruntukan data genom. Hal ini tak kalah penting dari siapa yang mengambil data dan di mana pengambilan dilakukan.

"Selain rumah sakit Indonesia harus jelas spesifikasinya, karena ini tidak bisa sembarangan," katanya.

Terakhir, Dicky meminta ada regulasi yang jelas dan detail untuk mengatur data genom. Aturan ini diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1141/2022.

"Regulasi di negara maju ini rinci, bahkan tidak hanya diatur dalam satu undang-undang saja," katanya.

Sedangkan Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan, Rizka Andalusia mengatakan pemrosesan data genomik dikerjakan di 9 rumah sakit. Ini artinya tidak ada sampel data DNA yang dikirim ke luar negeri untuk diperiksa.

"Kemenkes juga bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN)," kata  dalam keterangan tertulis, Jumat (23/6).

Rizka juga menjelaskan poin positif keberadaan BGSi. Sistem ini diharapkan bisa membantu menekan penyakit yang selama ini menghantui masyarakat Indonesia seperti tuberkulosis.

Ia menjelaskan, saat ini kuman TBC mulai kebal terhadap antibiotik yang ada. Makanya, dokter perlu mengetahui apa kombinasi obat yang tepat.

Dengan kondisi tersebut, para ahli harus menumbuhkan kuman di laboratorium. Namun hal tersebut terkendala sedikitnya fasilitas lab di Indonesia. Tercatat, saat ini baru 12 laboratorium yang bisa melakukan pemeriksaan genomik kuman TBC.

Rizka menjelaskan, dengan pemeriksaan data genomik, maka diharapkan waktu yang digunakan untuk mengetahui obat dari kuman TBC bisa dipangkas jadi satu hari dari sebelumnya 4 pekan/

"Dalam satu hari bisa mendapatkan informasi bahwa kuman punya kemungkinan resisten terhadap obat TBC yang ada," katanya.

Saart ini, sudah ada 9 rumah sakit yang bisa melakukan pemeriksaan data genomik. Kesembilan RS tersebut adalah:

RSUPN Cipto Mangunkusumo untuk penyakit metabolik seperti diabetes
RS Dharmais untuk penyakit kanker
RS Pusat Otak Nasional untuk penyakit stroke
RSPI Sulianti Saroso untuk penyakit TBC
RSUP Persahabatan untuk penyakit TBC
RSUP Ngoerah Denpasar untuk wellness dan kecantikan
RS Sardjito untuk penyakit genetik atau penyakit langka
RSPJD Harapan kita untuk penyakit jantung
RSAB Harapan kita unutk kesehatan ibu dan anak

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...