Pemerintah Pulangkan Jenazah WNI Korban Penembakan Aparat di Malaysia

Ringkasan
- Ketahanan pangan menjadi isu utama dalam Pemilihan Presiden 2024 di Indonesia, dengan fokus pada debat mengenai kebijakan food estate yang memicu kekhawatiran terhadap dampak lingkungan.
- Achmad Suryana menyoroti kompleksitas isu ketahanan pangan yang mencakup aspek sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan, dengan tantangan yang datang dari peningkatan permintaan dan berkurangnya pasokan karena penurunan lahan pertanian dan pengaruh perubahan iklim.
- Gerakan pangan lokal dilihat sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan daripada food estate, yang mendorong upaya-upaya seperti pasar petani, pertanian berbasis komunitas, dan kebun komunitas untuk meningkatkan ketahanan pangan berbasis komunitas di tengah tantangan globalisasi dan pasar bebas.

Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) akan memulangkan jenazah warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban insiden penembakan otoritas maritim Malaysia, Agensi Penguatkuasa Maritim Malaysia (APMM) pada Jumat (24/1) lalu. Menteri P2MI Abdul Kadir Karding mengatakan jenazah akan dipulangkan pada Kamis (30/1).
“Kepala BP3MI Riau, Pak Fanny, sudah saya minta untuk membantu pengurusan pemulangan jenazah," kata Karding dalam keterangan tertulis yang dikutip, Selasa (28/1).
Menurut Karding pemerintah akan menyiapkan seluruh fasilitas pendukung seperti penyeberangan dalam upaya memulangkan jenazah pekerja migran tersebut. Karding mengatakan hal itu dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam membantu pekerja migran yang menjadi korban insiden penembakan.
"Intinya kita berkoordinasi dengan Pemda setempat kemudian juga dengan pihak-pihak terkait untuk memberikan dukungan pemulangan jenazah PMI," ujar Karding.
Dia juga mengungkapkan, seluruh proses pemulangan atau pengembalian jenazah setelah di Indonesia menjadi tanggung jawab Kementerian P2MI. Kementerian menurut Karding juga mengecam penggunaan kekuatan berlebihan dalam insiden penembakan oleh otoritas maritim Malaysia, APMM terhadap lima pekerja migran.
Adapun Kepala Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Riau Fanny Wahyu Kurniawan mengatakan WNI yang tewas akibat penembakan oleh APMM di Malaysia diduga merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal berasal dari Provinsi Riau. Selain satu orang tewas, empat korban lainnya saat ini tengah dirawat di rumah sakit di Malaysia.
Berdasarkan informasi awal yang diterima, korban terdiri dari dua orang asal Riau, dua asal Sumatera Utara dan satu dari Kepulauan Riau. Adapun WNI yang meninggal berinisial B.
Sebelumnya, insiden penembakan terhadap lima PMI non-prosedural oleh APMM terjadi pada Jumat (24/1/2025) pukul 03.00 dini hari waktu Malaysia. Insiden penembakan tersebut mengakibatkan seorang pekerja migran meninggal dunia, satu lainnya dalam kondisi kritis, dan tiga orang dirawat di beberapa rumah sakit di Selangor, Malaysia.