Indeks Wall Street Anjlok Dipicu Kekhawatiran RUU Pajak Amerika Serikat

Nur Hana Putri Nabila
22 Mei 2025, 06:32
wall street, amerika serikat, pajak
Pixabay/Rabbimichoel
Ilustrasi New York Stock Exchange
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) merosot pada perdagangan saham hari Rabu (21/5) usai imbal hasil treasury melonjak. Hal ini ini terjadi akibat kekhawatiran pasar terhadap RUU anggaran dan pajak baru yang dinilai dapat memperburuk defisit fiskal AS.

Indeks Dow Jones anjlok 816,80 poin atau 1,91% ke posisi 41.860,44, S&P 500 turun 1,61% ke level 5.844,61. Nasdaq Composite juga melemah 1,41% ke 18.872,64.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun naik ke sekitar 5,09%, level tertinggi sejak Oktober 2023. Sementara yield obligasi tenor 10 tahun, yang menjadi acuan, tercatat di level 4,59%.

Lonjakan yield ini dikarenakan investor melepas obligasi tenor panjang di tengah kekhawatiran bahwa RUU fiskal yang baru. RUU tersebut dikhawatirkan akan memperburuk defisit.

Kekhawatiran juga meningkat usai lelang obligasi 20 tahun yang dinilai pasar mengecewakan. Hal ini memberikan sinyal minat investor untuk membiayai defisit AS mulai melemah.

Kepala Strategi Investasi CFRA Research, Sam Stovall, menyoroti kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal AS, khususnya terkait RUU pajak yang tengah dibahas.

Menurutnya, muncul pertanyaan besar apakah RUU tersebut justru akan menghapus dampak positif dari upaya penghematan fiskal yang baru-baru ini dilakukan. Apalagi dengan hanya memperlambat laju kenaikan utang alih-alih benar-benar menurunkannya. 

Menurut Stovall, hal ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi treasury bertenor 10 tahun. Para investor, katanya, khawatir pemerintah belum mengambil langkah konkret untuk menekan inflasi dan mengendalikan utang negara.

“Sekarang tampaknya ada peluang lebih besar bahwa RUU pajak akan lolos, dan itu bisa berakhir dengan terus menaikkan tingkat utang secara keseluruhan,” kata Stovall dikutip CNBC, Kamis (22/5). 

Imbal hasil obligasi AS melonjak bulan lalu, dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap rencana tarif tinggi dari Presiden Donald Trump. Hal itu membuat investor ragu terhadap status utang AS sebagai aset safe haven

Tak hanya itu, yield obligasi bertenor 10 tahun sempat melonjak dari di bawah 3,9% menjadi lebih dari 4,5% hanya dalam hitungan hari, sebelum akhirnya turun kembali setelah Trump mengumumkan penundaan pemberlakuan tarif tersebut.

Di sisi lain, pasar saham juga tertekan setelah sejumlah perusahaan memangkas proyeksi penjualan tahunan. Ini akibat ketidakpastian akibat tarif dan reaksi negatif terhadap langkah mundur perusahaan dari inisiatif keberagaman dan inklusi. 

UnitedHealth mencatat penurunan terbesar di antara saham Dow, merosot 5,8% usai mendapat penurunan peringkat dari HSBC. Tekanan juga dirasakan saham-saham teknologi besar seperti Apple dan Amazon yang tertekan akibat lonjakan suku bunga.

Aksi jual terjadi pada saham AS dengan S&P 500 mengakhiri reli enam hari berturut-turut dan Nasdaq mencatat hari negatif pertama dalam tiga hari.

Meski begitu, ketiga indeks utama telah mencatatkan pemulihan tajam sejak pelemahan bulan lalu akibat pengumuman tarif Trump. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik lebih dari 13% dan 18% dalam sebulan terakhir.

“Beberapa (investor) sedikit khawatir bahwa pasar telah melangkah terlalu jauh, terlalu cepat, dan perlu mencerna kenaikan baru-baru ini,” kata Stovall.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...