LD FEB UI Ungkap Strategi Menyiapkan Masa Pensiun yang Produktif dan Sejahtera

Ferrika Lukmana Sari
27 Agustus 2025, 09:52
pensiun
LD FEB UI
Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) merayakan hari jadinya yang ke-61 dengan menyelenggarakan forum “Pensiun Sejahtera 101: Kolaborasi untuk Lansia Indonesia Sejahtera”. Acara ini menjadi wadah penting untuk membahas strategi menyiapkan masa tua yang produktif, sehat, dan bermartabat di tengah transisi menuju populasi menua. Acara ini digelar pada Selasa (26/8).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) menggelar forum “Pensiun Sejahtera 101: Kolaborasi untuk Lansia Indonesia Sejahtera”, Selasa (26/8). Acara ini menjadi wadah penting untuk membahas strategi menyiapkan masa tua yang produktif, sehat, dan bermartabat di tengah transisi menuju populasi menua.

Forum didukung oleh mitra dari sektor swasta, termasuk PT Merck Tbk, PT Bank Syariah Indonesia Tbk, Asuransi MSIG, PT Paragon Corp, dan Alanabi Herbal Wellness, yang berkomitmen mendorong ekosistem hari tua lebih sejahtera.

Wakil Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sonny Harry Budiutomo Harmadi, membuka forum dengan keynote speech “Membangun Kesejahteraan Lansia di Era Penuaan Penduduk”. Ia menekankan pentingnya data kependudukan untuk memahami perubahan struktur umur dan dampaknya terhadap pembangunan nasional.

“Indonesia sedang bergerak menuju era ageing population, dengan lansia yang lebih rentan terhadap kemiskinan, kesenjangan teknologi, dan keterbatasan akses ekonomi. Data statistik yang akurat harus menjadi fondasi kebijakan agar kesejahteraan lansia terjamin,” ujarnya.

Dekan Fakultas Psikologi UI Bagus Takwin menekankan bahwa kesejahteraan lansia tidak hanya ditentukan oleh panjang umur, tetapi juga kualitas hidup yang mencakup kesehatan, relasi sosial, kontribusi, dan makna hidup. Ia mencontohkan Saparinah Sadli dan Mbah Wiryo sebagai teladan lansia yang tetap aktif dan berdaya.

“Program seperti kota ramah lansia, posyandu lansia berbasis makna, dan mentoring antargenerasi dapat menciptakan ekosistem lansia yang sehat, bahagia, dan produktif,” kata Bagus.

Akses Keuangan untuk Mendukung Dana Pensiun

Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk Banjaran Surya Indrastomo, menekankan pentingnya akses keuangan untuk mendukung dana pensiun. Dalam paparannya “Akses Keuangan dan Masa Depan Dana Pensiun”, ia mengingatkan bahwa rasio ketergantungan lansia diperkirakan mencapai 54% pada 2050.

“Inovasi instrumen pensiun, digitalisasi layanan, dan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta diperlukan agar dana pensiun menjangkau pekerja formal maupun informal,” ujarnya.

Sebagai penutup keynote, Direktur Pengembangan Dana Pensiun, Asuransi, dan Aktuaria Kementerian Keuangan Ihda Muktiyanto menekankan pentingnya dukungan kebijakan fiskal. Menurut Ihda, insentif perpajakan dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam program pensiun.

“Untuk menghasilkan sistem pensiun yang baik, perlu kerja sama membangun desain program yang mempertimbangkan tantangan nyata di lapangan,” kata Ihda.

Perlu Perluas Jaminan Sosial

Kepala LD FEB UI I Dewa Gede Karma Wisana menyoroti kondisi lansia di Indonesia yang terus meningkat. Dalam paparannya “Pensiun Sejahtera 101: Memahami, Merencanakan, dan Mewujudkan Indonesia Masa Depan”, ia menekankan bahwa mayoritas pekerja informal belum memiliki perlindungan pensiun memadai.

“Perlu diperluas jaminan sosial, inovasi produk mikro-pensiun, dan integrasi kebijakan agar pensiun menjadi fase hidup yang bermartabat, bukan sekadar bertahan hidup,” ujarnya.

Pakar perencanaan keuangan Aliyah Natasya menambahkan bahwa risiko utama menghadapi pensiun meliputi inflasi, biaya kesehatan, literasi digital, dan ketidakpastian sumber pendapatan. Ia memperkenalkan konsep “Uang Hidup, Uang Tenang, dan Uang Tumbuh” sebagai fondasi kesejahteraan pensiun.

"Setiap individu perlu mengalokasikan dana dengan tepat agar kebutuhan rutin, proteksi kesehatan, dan investasi jangka panjang dapat terpenuhi. “Jika gagal merencanakan, sama saja kita sedang merencanakan kegagalan,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ferrika Lukmana Sari

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...