Deret Penyusup Gunakan Atribut Ojol untuk Picu Kerusuhan
Demonstrasi para sopir ojek online (ojol) dan masyarakat yang berlangsung di Jakarta dan sejumlah wilayah berubah menjadi kerusuhan pada Sabtu (30/8). Aksi unjuk rasa ini diduga disusupi perusuh yang merusak fasilitas umum hingga melakukan penjarahan.
Kepala Divisi Hukum Koalisi Ojol Nasional (KON), Rahman Tohir, mengakui aksi unjuk rasa sudah tidak lagi murni dari kalangan ojol. Pada mulanya ojek onlne ini turun ke jalan setelah pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan meninggal dunia dilindas mobil rantis Brimob pada Kamis (28/8).
Para pengemudi menuntut agar insiden terlindasnya seorang ojol diselesaikan secara transparan dan adil, termasuk penghukuman terhadap oknum aparat yang terlibat.
“Di tengah berjalan aksi kok menjadi anarkis. Kita sudah mengimbau kepada rekan-rekan ojol untuk tidak terpancing isu-isu provokatif dan ajakan demo yang dibarengi pengrusakan fasilitas umum serta penjarahan,” kata Rahman kepada Katadata, Senin (1/9).
Ia menambahkan sulit membedakan antara ojol asli dengan penyusup. “Atribut kan bisa dibeli bebas dan banyak dijual online atau jalanan. Soal aplikasi, siapa yang bisa memeriksa dan membuka HP pemiliknya?” ujarnya.
Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), Lily Pudjiati, juga menegaskan hal serupa. Menurutnya, selama seseorang memakai atribut ojol, publik akan kesulitan mengetahui apakah dia pengemudi asli atau bukan.
Namun demikian, mengatakan satu-satunya cara memastikan bahwa seseorang merupakan ojol atau bukan adalah melalui akun aplikasi.
"Semua ojol mempunyai akun masing-masing dan itu tidak bisa dipatahkan karena pasti ada data di aplikator,” ujar Lily.
Deret Dugaan Penyusup Gunakan Atribut Ojol
Sejumlah foto dan video yang beredar di media sosial menunjukkan adanya orang-orang menggunakan atribut ojek online (ojol) saat kerusuhan terjadi. Berikut yang beredar di media sosial:
1. Seorang pria memakai jaket ojol diduga perusuh ditangkap di Solo. Dalam rekaman video yang diunggah akun X @BuayaUbanan pada Minggu (31/8), warga mendorong pria tersebut agar melepas atributnya. “Lepas, kau kan tak punya akun,” kata seorang warga.
Warga menilai atribut ojol tidak boleh digunakan sembarangan, apalagi untuk aksi yang berpotensi anarkis.
2. Netizen juga membongkar kejanggalan penampilan sejumlah orang beratribut ojol. Sebuah foto memperlihatkan seorang pria berdiri di depan kobaran api saat kerusuhan, mengenakan jaket Gojek lama, helm, dan masker yang menutupi wajah.
Netizen menilai penampilannya tidak konsisten dengan keseharian ojol. “Baju ojol tahun 2015–2019 tapi kondisi masih mulus? Jaket ojol tuh gampang butek + belel bro tiap hari dipake di bawah sinar matahari. Kelihatan banget nipunya!” tulis akun X @Noctambuliist.
Detail lain yang disorot adalah sepatu Adidas Terrex yang dipakai pria itu, dengan harga mulai dari Rp 1,3 juta. “Sepatu Adidas Terrex, celana kargo, jaket Gojek lama tapi warnanya masih cerah. Cosplay jadi pendemo, Bang?” sindir akun @jerryarvino.
3. Unggahan lain dari akun @Farraz_kepri juga menampilkan seorang pria mengenakan jaket ojol dengan topeng menutupi seluruh wajah. “Hati-hati penyusup. Mereka ada sebagai pendemo, ojol, wartawan, dan masih banyak lagi. Tetap waspada,” tulisnya.
4. Video lain yang beredar di komunitas Facebook Gojek Driver Indonesia menunjukkan seorang yang diduga provokator menggunakan jaket Maxim yang tampak masih baru.
Ia tertangkap kamera memulai aksi kerusuhan dengan melempar barang-barang dan memulai aksi corat-coret di dinding gerbang DPR. Aksi tersebut dilakukan saat massa aksi lain tengah melakukan diskusi.
