Mendagri Tito Sebut 22 Desa Hilang Akibat Banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian melaporkan 22 desa di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hilang akibat banjir dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November lalu.
Tito mengatakan, puluhan desa yang hilang itu terdiri atas 13 desa hilang di Aceh, delapan desa di Sumatra Utara dan satu desa di Sumatara Barat. “Data kami menunjukkan bahwa desa yang hilang itu totalnya ada 22,” kata Tito dalam konferensi pers di Pangkalan Angkatan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada Senin (29/12).
Tito menyatakan pemerintah akan mengirimkan 1.054 personel Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ke wilayah terdampak bencana mulai 3 Januari 2026. Para personel tersebut akan bertugas selama satu bulan di daerah dengan dampak terberat, antara lain Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Tamiang.
Ia mengatakan pengiriman personel IPDN bertujuan untuk membantu pemulihan kawasan karena tingkat kerusakan yang terjadi turut melumpuhkan pemerintahan desa. Tito menyebutkan ada 1.580 kantor desa terdampak sehingga pemerintahan desa tidak dapat berjalan normal saat ini.
Dari jumlah tersebut, 1.455 kantor desa berada di Aceh, sementara 93 di Sumur dan 32 di Sumbar. “Yang paling banyak kantor desa rusak itu dan terdampak itu adalah di Aceh Utara 800-an dan Aceh Tamiang,” ujar Tito.
Kapolri periode 2016-2019 itu mengatakan, kehadiran personel IPDN nantinya diharapkan dapat membantu pemulihan fungsi pemerintahan desa, termasuk pendataan penduduk, administrasi pemerintahan, serta koordinasi penyaluran bantuan.
“Jadi sebulan ini mereka termasuk dalam kurikulum, masuk sebagai semacam kuliah kerja nyata riil. Jadi ini mereka berhadapan langsung dengan permasalahan sambil membantu masyarakat,” ujar Tito.
