AS Berbulan-bulan Siapkan Penangkapan Maduro, Libatkan CIA hingga Pasukan Khusus
Militer Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi di Caracas, Sabtu (3/1). Operasi tersebut ternyata telah dipersiapkan AS sejak lama.
Dikutip dari Reuters, seorang sumber yang mengetahui operasi ini mengatakan, perencanaan aksi bernama Operation Absolute Resolve memakan waktu berbulan-bulan.
Pasukan elit AS, termasuk Delta Force dari Angkatan Darat, membuat replika persis rumah persembunyian Maduro. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana pasukan bisa memasuki kediaman yang dijaga ketat.
Sedangkan Badan Intelijen Pusat AS (CIA) memberikan informasi dari lapangan sejak Agustus 2025. CIA memasok informasi tentang pola hidup Maduro untuk memudahkan penangkapan.
Dua sumber lain juga mengatakan bahwa CIA memiliki informan yang dekat Maduro. Informan tersebut memantau pergerakan sang presiden untuk menentukan lokasi tepat operasi dijalankan.
Presiden AS Donald Trump sebenarnya telah memberikan lampu hijau untuk menggelar operasi sejak beberapa hari sebelumnya. Meski demikian, pihak militer dan intelijen menyarankan Trump menunda operasi untuk menunggu cuaca yang lebih baik.
Pada Jumat (2/1) pada pukul 22.46 waktu setempat, Trump memberikan persetujuan untuk menggelar operasi. Trump bersama para penasihatnya menyaksikan siaran langsung penangkapan Maduro dari klub Mar-a-Lago miliknya di Palm Beach, Florida.
"Saya telah melakukan beberapa operasi yang cukup bagus, tapi saya belum pernah melihat yang seperti ini," kata Trump kepada Fox News.
Libatkan Ratusan Pesawat
Penangkapan ini dilakukan di tengah-tengah tekanan AS kepada Venezuela. Beberapa kali militer AS menembak kapal-kapal yang dinilai membawa narkoba dari negara tersebut.
Pentagon juga telah mengawasi pengerahan pasukan militer besar-besaran di Laut Karibia. Mereka mengirimkan sebuah kapal induk, 11 kapal perang, dan lebih dari selusin pesawat F-35. Secara total, lebih dari 15.000 pasukan telah dikerahkan ke wilayah tersebut.
Salah satu sumber di pemerintahan AS mengatakan, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Direktur CIA John Ratcliffe, dan ajudan senior Trump Stephen Miller telah membentuk tim inti selama beberapa bulan belakangan untuk membahas aksi AS di Venezuela.
Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine mengatakan operasi tersebut melibatkan lebih dari 150 pesawat yang diluncurkan dari 20 pangkalan di sekitar Belahan Bumi Barat. Sejumlah pesawat yang dilibatkan termasuk jet F-35 dan F-22, serta pesawat pembom B-1.
Pasukan Khusus AS Membawa Las Pemotong Baja
Serangan udara AS mengenai sasaran militer di Caracas, salah satunya pangkalan udara La Carlota. Di tengah serangan udara, pasukan khusus AS tiba di kediaman Maduro pada pukul 01.00 pagi.
Mereka datang dengan persenjataan lengkap, termasuk membawa obor yang akan digunakan untuk memotong pintu baja. Meski demikian, pasukan yang datang dihujani tembakan. Bahkan, salah satu helikopter terkena tembakan walaupun masih bisa mengudara.
Tak hanya pasukan, agenda Biro Investigasi Federal (FBI) juga ikut dalam penangkapan. Trump mengatakan, pasukan menerobos tempat yang digambarkan sebagai benteng berpengamanan ketat.
"Mereka menerobos tempat-tempat yang sebenarnya tidak bisa ditembus," kata Trump.
Setelah pasukan berada di dalam rumah persembunyian, Maduro dan istrinya menyerah. Trump mengatakan, Maduro telah mencoba mencapai ruang aman tetapi tidak dapat menutup pintu.
"Dia diserbu begitu cepat sehingga dia tidak sempat masuk ke sana," kata Trump. Trump juga mengatakan, beberapa pasukan AS terkena tembakan, namun tak ada yang tewas.
Dan Caine mengatakan pasukan AS terlibat dalam beberapa pertempuran saat meninggalkan wilayah Venezuela. Pukul 03.20 pagi, helikopter militer yang membawa Maduro telah berada di atas lautan.
Beberapa jam setelah operasi digelar, Trump mengumumkan penangkapan Maduro.

