Demonstrasi di Iran Berujung 544 Tewas, Ini Kronologi dan Penyebabnya
Demonstrasi yang pecah di Iran sejak 28 Desember 2025 telah menewaskan ratuan orang dan lebih dari 10 ribu orang ditangkap aparat penegak hukum.
Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan konflik di Iran telah menewaskan 544 orang, dengan 496 korban berasal dari kalangan demonstran dan 48 lainnya merupakan aparat keamanan.
Aparat keamanan dilaporkan telah menahan lebih dari 10.600 orang selama rangkaian aksi berlangsung. Melansir pemberitaan Associated Press, aparat keamanan, termasuk Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC serta kepolisian menggunakan senapan laras panjang hingga memukul untuk membubarkan demonstran.
HRANA mengandalkan jaringan pendukung di dalam Iran untuk memverifikasi data, meskipun pemadaman internet dan pemutusan jaringan telepon menyulitkan pemantauan independen. Pemerintah Iran hingga kini belum merilis data resmi korban.
Pemadaman internet dan pembatasan arus informasi yang berlangsung sejak akhir Desember 2025 memicu kekhawatiran komunitas internasional. Di tengah situasi tersebut, demonstrasi besar kembali pecah di Teheran dan Mashhad, lalu meluas ke Kerman.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan terkejut atas laporan kekerasan terhadap para demonstran dan mendesak otoritas Iran menahan diri serta segera memulihkan akses komunikasi.
Paus Leo XIV juga menyerukan dialog dan perdamaian, seraya menyebut Iran sebagai wilayah yang terus kehilangan banyak nyawa akibat ketegangan yang berkepanjangan.
Penyebab Demonstrasi
Aksi protes berskala nasional di Iran yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi domestik terus meningkat. Situasi di Teheran masih terguncang oleh dampak perang selama 12 hari yang dilancarkan Israel pada Juni lalu.
Tekanan ekonomi kian berat sejak September setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran terkait program nuklirnya. Kondisi tersebut mendorong nilai tukar rial Iran anjlok tajam dan kini diperdagangkan di atas 1,4 juta rial per dolar Amerika Serikat (AS).
Awalnya demonstrasi cenderung berfokus pada isu ekonomi, tetapi dengan cepat berkembang menjadi aksi dengan slogan-slogan anti-pemerintah. Associated Press mengabarkan runtuhnya nilai tukar rial memicu krisis ekonomi yang semakin dalam di Iran.
Harga daging, beras, dan berbagai kebutuhan pokok melonjak tajam sementara negara itu terus bergulat dengan inflasi tahunan sekitar 40%. Pada Desember 2025, pemerintah Iran memberlakukan skema harga baru untuk bahan bakar bensin bersubsidi nasional.
Kebijakan tersebut menaikkan harga salah satu bensin termurah di dunia dan semakin menekan masyarakat. Teheran berpeluang kembali menaikkan harga bensin karena pemerintah kini meninjau kebijakan harga setiap tiga bulan.
Ekonom yang berbasis di Teheran, Hossein Raghfar, mengatakan bahwa sejak tahun 2009, harga bensin telah naik 15 kali lipat dan memberikan pandangan pesimistis terhadap subsidi pemerintah.
“Subsidi tersebut tidak hanya gagal mengurangi defisit anggaran, tetapi menjebak perekonomian negara dalam lingkaran negatif inflasi dan defisit anggaran,” kata Hossein Raghfar dikutip dari Associated Press.
Harga pangan diperkirakan kembali melonjak setelah Bank Sentral Iran dalam beberapa hari terakhir menghentikan nilai tukar preferensial dolar terhadap rial bersubsidi untuk seluruh produk kecuali obat-obatan dan gandum.
Ancaman Donald Trump
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyebut Iran telah mengajukan pembicaraan dengan Washington. Trump mengatakan Teheran menawarkan negosiasi setelah ia mengancam akan menyerang Iran menyusul tindakan aparat keamanan terhadap para demonstran.
Pernyataan itu muncul di tengah laporan kelompok aktivis yang menyebut jumlah korban tewas terus bertambah. Tim keamanan nasional AS saat ini tengah mempertimbangkan berbagai opsi respons terhadap Iran, mulai dari serangan siber hingga serangan militer langsung oleh AS atau Israel.
Dua sumber internal Gedung Putih menyebut pembahasan tersebut berlangsung secara intens dan tertutup. “Kami mempertimbangkan opsi yang sangat keras,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One. Ia juga mengancam akan melancarkan serangan besar jika Iran melakukan pembalasan.
Sedangkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, berbicara kepada para diplomat asing di Teheran, mengklaim situasi telah terkendali. Ia juga menyalahkan AS dan Israel atas demonstrasi tersebut, meski tak memberikan bukti.
"Demonstrasi berubah menjadi kekerasan dan berdarah untuk memberi alasan kepada presiden Amerika untuk campur tangan,” kata Araghchi.

