Geliat AMMN Diprediksi Genggam Laba Triliunan 2026, Target Harga Saham Rp 11.000

Nur Hana Putri Nabila
11 Maret 2026, 10:53
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (7/7). PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dalam rangka pencatatan saham AMMN di Papan Utama BEI.
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Pekerja berjalan di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (7/7). PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dalam rangka pencatatan saham AMMN di Papan Utama BEI.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten pertambangan kongsi Grup Salim dan Keluarga Panigoro, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), diprediksi bakal menggenggam laba triliunan pada tahun buku 2026. Seiring dengan proyeksi itu, target harga sahamnya juga diramal bisa mencapai Rp 11.000.

Berdasarkan kinerja keuangan terakhir kuartal ketiga 2026, AMMN mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 178,53 juta atau sekitar Rp 2,97 triliun (kurs: 16.640 per dolar AS), berbalik dibandingkan laba periode yang sama tahun lalu US$ 717,11 juta. Lalu penjualan bersih AMMN anjlok 78,1% dari US$ 2,49 miliar menjadi US$ 545,33 juta atau Rp 9,07 triliun.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan dan Shabbhi Valdi, memperkirakan kinerja Amman Mineral akan berbalik kuat pada 2026. Meski diproyeksikan mencatat kerugian bersih sekitar US$ 54 juta pada 2025.

Angka ini menjadi kerugian pertama sejak masa pra-produksi, terutama disebabkan oleh penurunan tajam volume produksi saat Tambang Batu Hijau memasuki masa transisi antar fase penambangan.

Pada 2026, laba bersih perusahaan diperkirakan melonjak hingga US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 22 triliun. Pemulihan tersebut didorong oleh peningkatan produksi dari Fase 8 yang diperkirakan akan mendorong output tembaga sekitar 113% secara tahunan dan emas hingga 543%, di tengah prospek bullish komoditas secara struktural.

“Risiko terhadap perkiraan kami meliputi penundaan peningkatan produksi, harga tembaga dan emas yang lebih rendah, serta ketergantungan pada satu tambang,” tulis Hasan dan Shabbhi dalam risetnya, dikutip Rabu (11/3).

Prospek Tambang Emas dan Tembaga

Selain itu, Maybank Sekuritas Indonesia menyebut Amman Mineral (AMMN) merupakan produsen tembaga dan emas terintegrasi terbesar kedua di Indonesia setelah PT Freeport Indonesia. Perusahaan ini didukung oleh operasi Tambang Batu Hijau kelas dunia hingga cadangan Elang yang masif, yang termasuk di antara deposit porfiri terbesar di dunia dengan sumber daya sekitar 2,5 miliar ton bijih.

Secara strategis, AMMN berada tepat di belakang Freeport Indonesia dari sisi volume produksi tembaga dan emas. Perusahaan juga tengah mengoptimalkan rantai nilai terintegrasi melalui fasilitas smelter baru yang telah beroperasi.

Adapun kapasitas pengolahannya sekitar 900.000 ton konsentrat per tahun menjadi sekitar 220.000 ton katoda tembaga serta sekitar 579.000 ons emas batangan.

Lebih lanjut, AMMN kini memasuki fase peningkatan produksi penting pada Fase 8 di Tambang Batu Hijau yang diperkirakan menjadi pendorong pemulihan kinerja berbasis volume.

Produksi konsentrat tembaga diproyeksikan berlipat ganda pada 2026 menjadi sekitar 900.000 dmt, dengan kandungan sekitar 485 juta pon tembaga atau naik 113% secara tahunan serta sekitar 579.000 ons emas atau melonjak 543% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Lonjakan ini bertepatan dengan kenaikan harga tembaga dan emas terbesar dalam sejarah modern, karena tahun-tahun produksi puncak AMMN sejalan dengan siklus bull multi-tahun yang diproyeksikan untuk harga tembaga dan emas,” tulis Maybank.

Target Harga Saham AMMN

Maybank Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli saham AMMN dengan target harga Rp 11.000 per saham berdasarkan valuasi sum-of-the-parts (SOTP).

Rekomendasi tersebut berdasarkan pada proyeksi transformasi operasional yang mulai terlihat sejak akhir 2025, didorong oleh akses ke cadangan bijih berkadar tinggi pada Fase 8 di Tambang Batu Hijau dan pengoperasian fasilitas smelter katoda tembaga.

Maybank Sekuritas menyebut kondisi ini diperkirakan mendorong pemulihan laba berbentuk V dan memperkuat posisi AMMN sebagai salah satu proxy investasi tembaga dan emas di tengah proyeksi defisit struktural logam global.

“Meskipun 2025 sebagian besar merupakan tahun transisi yang ditandai dengan pembuangan limbah tinggi dan pengeluaran modal (mengakibatkan kerugian bersih yang diproyeksikan), 2026 menandai titik balik,” tulis Maybank.

Maybank Sekuritas Indonesia menilai prospek kinerja AMMN juga didukung oleh pandangan makro bahwa harga tembaga berpotensi tetap tinggi di atas US$ 10.000 per ton. Seiring gangguan pasokan global serta meningkatnya permintaan dari sektor kecerdasan buatan dan pusat data.

Sedangkan, harga emas diperkirakan tetap kuat dengan level dasar di atas US$2.500 per ons.

Meski begitu, Maybank Sekuritas mencatat sejumlah risiko utama bagi perusahaan. Dari sisi regulasi, ketidakpastian berkaitan dengan perpanjangan izin ekspor konsentrat di luar kuota 480.000 dmt yang berlaku hingga April 2026.

Dari sisi operasional, proses komisioning smelter teknologi double flash yang kompleks masih berpotensi menimbulkan risiko terhadap margin jika proses peningkatan kapasitas memerlukan waktu lebih lama dari perkiraan.

Selain itu, operasi tambang terbuka di Tambang Batu Hijau juga menghadapi risiko geoteknik dan kondisi cuaca tropis seiring pendalaman pit pada Fase 8. Risiko tersebut diupayakan dimitigasi melalui penguatan infrastruktur pengelolaan air, sistem pemantauan radar, serta rencana diversifikasi operasi ke proyek Elang.

Di sisi lain, volatilitas harga tembaga dan emas dinilai relatif terjaga oleh posisi biaya tunai C1 perusahaan yang kompetitif. Maybank Sekuritas memperkirakan AMMN tetap mampu menghasilkan arus kas bebas yang kuat bahkan di tengah tekanan makroekonomi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...