Serba-serbi Gerbong Perempuan KRL usai Kontroversi Usul Menteri PPPA
Kecelakaan kereta di Kota Bekasi pada Senin (27/4) mengakibatkan 16 orang meninggal. Seluruh korban merupakan penumpang perempuan yang berada di gerbong KRL paling ujung.
Seiring dengan kejadian tersebut, muncul kontroversi soal keberadaan gerbong khusus perempuan di KRL. Apalagi setelah sejumlah pejabat ikut menyoroti hal tersebut.
Salah satunya sebab kontroversi setelah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi bicara soal posisi gerbang khusus wanita di KRL.
Arifah mengusulkan gerbong wanita dipindahkan ke tengah rangkaian kereta. Dia beralasan posisi gerbong di ujung berisiko lebih tinggi.
"Yang laki-laki di ujung," kata Arifah saat menjenguk korban kecelakaan KRL di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4).
Pemindahan Bukan Solusi
Pernyataan Arifah ini menjadi kontroversi, terutama di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan mengapa menteri membandingkan soal gender terkait keselamatan transportasi.
Sedangkan Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang juga mengatakan pernyatan Arifah bukan solusi yang tepat.
"Sama saja, nyawa laki-laki atau perempuan, semua mahal," kata Deddy
Ketimbang itu, Deddy menyarankan agar pemerintah melakukan pembenahan keselamatan transportasi kereta api secara menyeluruh.
Dia meminta pemerintah segera mempercepat pembangunan jalur double-double track lintas Bekasi-Cikarang untuk memisahkan jalur KRL dan kereta jarak jauh hingga audit sistem pengendali perjalanan kereta api.
Keselamatan untuk Semua
Sedangkan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, keselamatan penumpang perempuan dan laki-laki setara.
Oleh sebab itu hal yang menurutnya lebih penting adalah memastikan transportasi publik yang aman bagi semua penumpang, tak terbatas gender.
"Laki-laki dan perempuan sama saja, tak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun," kata AHY di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4).
Alasan Keberadaan Gerbong Perempuan
PT KAI meluncurkan gerbong khusus perempuan pada Agustus 2010 untuk relasi kereta Jakarta-Bogor. Keberadaan gerbong ini awalnya untuk merespons maraknya pelecehan seksual kepada penumpang wanita saat itu.
KAI juga sempat meluncurkan KRL khusus wanita pada akhir 2012 lalu. Meski demikian, KRL ini belakangan tak dioperasikan lagi.

