Menjaga Napas Pangan: Dari Sawah ke Cadangan Negara
Matahari makin turun di barat ketika anak-anak berlarian di petak sawah yang baru dipanen di Desa Hegar Mukti, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (16/5). Sebagian memainkan layang-layang, sebagian lain menendang bola di atas jerami yang mengering.
Di tengah suara mesin perontok dan bau khas jerami dan tanah basah, sepeda motor trail mondar-mandir membawa padi dari tengah sawah menuju pinggir jalan tanah. Opak, petani berusia 53 tahun, berdiri di dekat tumpukan gabah hasil panennya.
Pakaiannya yang sudah pudar basah oleh keringat. Sesekali ia mengawasi pekerja yang memanggul karung gabah ke atas motor.
“Alhamdulillah hasil panen kali ini lumayan baik,” ujar Opak kepada Katadata yang menemuinya di pinggir sawah.
Hari itu panen berlangsung di lahan sawah seluas tiga hektare miliknya. Bagi Opak, musim panen selalu menjadi momen yang menentukan. Harga gabah, cuaca, hingga siapa pembeli hasil panen akan sangat memengaruhi pendapatan keluarganya selama beberapa bulan ke depan.
Selain soal cuaca dan hama, Opak juga kerap berhadapan dengan harga gabah yang dibeli murah oleh pengumpul. Namun kali ini ia mengaku harga yang diperoleh relatif baik, Rp 6.800 per kilogram gabah.
Selama ini, ia lebih sering menjual gabah kepada penampung atau tengkulak yang datang langsung ke sawah. Setelah berdiskusi dengan Katadata Opak baru tahu ada tangan pemerintah lewat Perum Bulog yang bertugas memastikan harga gabah di tingkat petani terjaga.
Opak mengaku belum pernah menjual gabah ke Perum Bulog. Namun, pengetahuan baru soal Bulog membuatnya kini merasa lebih tenang.
“Kalau ada Bulog kan aman. Ada kepastian harga bagi kami petani,” ujar Opak merujuk Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram yang dijalankan Bulog.
Adanya jaminan dan kepastian hasil panen menjadi salah satu yang diharapkan Opak. Menurut dia, terkadang petani dihadapkan dengan daya serap yang rendah. Saat panen raya tiba, pengumpul sering lebih selektif membeli gabah sehingga sebagian hasil panen tidak terserap dan berisiko dijual murah.
Bagi Opak dan jutaan petani lainnya, langkah Bulog yang makin aktif menyerap gabah menjadi angin segar di tengah ketidakpastian harga panen. Apalagi, tak jauh dari sawahnya berdiri Gudang Bulog Purwasari Karawang, salah satu titik serap gabah terbesar di kawasan itu.
Dari Desa Hegar Mukti, perjalanan menuju Gudang Bulog Karawang memakan waktu tak sampai satu jam. Wilayah yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional itu masih dipenuhi bentang sawah yang menghampar di sisi jalan utama.
Di gudang Bulog di Karawang, aktivitas logistik pangan berlangsung sepanjang musim. Seorang petugas keamanan, Sopian, yang berjaga di depan gudang mengatakan bongkar muat biasanya ramai pada Senin dan Sabtu.
“Padi dari Karawang sama Indramayu,” katanya singkat.
Karawang memang menjadi salah satu simpul penting rantai pangan nasional. Pada April 2026, luas panen padi di kabupaten itu mencapai 12.531 hektare yang tersebar di 23 kecamatan. Di saat yang sama, Karawang masih memiliki sekitar 99 ribu hektare lahan baku sawah berdasarkan data pemerintah daerah dan Kementerian ATR/BPN
Besarnya produksi membuat arus gabah dari sawah menuju gudang terus bergerak. Dari Karawang dan Indramayu, padi mengalir masuk ke pusat-pusat penyimpanan sebelum didistribusikan kembali menjadi cadangan beras pemerintah.
Di balik dinding-dinding gudang itulah Bulog menjalankan peran yang selama hampir enam dekade menjadi sabuk pengaman pangan nasional. Ketika produksi terganggu, harga melonjak, atau bencana datang tiba-tiba, stok beras pemerintah menjadi penyangga agar gejolak tidak berubah menjadi krisis.
Gudang yang Menjadi Penyangga
Keberadaan gudang Bulog memang menjadi salah satu nadi dalam mengatur napas ketahanan pangan Tanah Air. Hingga akhir 2025, Bulog memiliki sekitar 1.550 unit gudang yang tersebar di berbagai daerah untuk menjaga cadangan pangan nasional.
Pemerintah juga menambah 100 gudang baru untuk memperbesar kapasitas penyimpanan cadangan beras nasional. Proyek yang dibangun dengan anggaran mencapai Rp 5 triliun itu diharapkan bisa meningkatkan kapasitas penyimpanan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga 900.000 ton.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan stok beras pemerintah hingga pertengahan Mei telah mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah Bulog berdiri sejak 1967. Bahkan hingga puncak musim panen di Juli 2026 jumlahnya bisa terus bertambah.
“Syukur Alhamdulillah sampai di bulan Mei ini sampai 5,3 juta ton,” ujar Rizal di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (11/5).
Di tengah konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga ancaman El Nino, banyak negara mulai khawatir terhadap pasokan pangan domestik. Presiden Prabowo Subianto mengingatkan agar stok pangan nasional diamankan terlebih dahulu sebelum Indonesia membuka keran ekspor lebih luas.
“Yang utama kita amankan rakyat kita dulu,” kata Presiden saat meresmikan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5).
Pemerintah menilai capaian tersebut menjadi penanda penting bahwa fondasi swasembada pangan nasional mulai menguat. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut Indonesia kini menghentikan impor beras setelah stok pemerintah menembus lebih dari 5 juta ton.
Adapun produksi padi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan seperti terlihat dari infografis berikut:
Sepanjang 2026, Bulog mendapat penugasan menyerap 4 juta ton gabah petani setara beras. Mekanisme jemput bola dilakukan langsung ke sentra panen agar gabah petani tidak dipermainkan tengkulak.
Kerja itu membuat aktivitas pegawai Bulog kian padat. Panen raya dimanfaatkan untuk memperkuat stok sebelum gangguan produksi akibat cuaca ekstrem datang pada paruh kedua tahun ini.
Menjaga Kemandirian di Tengah Ketidakpastian
Di tengah upaya memastikan cadangan pangan terpenuhi, Bulog juga mulai memperluas infrastruktur logistik pangan nasional. Keberadaan gudang, silo, pengering, hingga rice milling unit modern diperluas agar pasokan pangan lebih stabil. Modernisasi itu dilakukan ketika tantangan pangan global semakin tidak menentu.
Pengalaman bencana di Sumatra pada akhir 2025 menjadi pengingat pentingnya cadangan pangan pemerintah. Saat banjir dan longsor memutus akses distribusi, stok beras pemerintah menjadi penopang agar krisis pangan tidak meluas. Bulog bersama TNI bahkan harus menggunakan helikopter untuk mengirim bantuan pangan ke wilayah yang terisolasi akibat kerusakan infrastruktur.
Ancaman lain datang dari potensi kemarau panjang akibat El Nino. Badan iklim Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), memperkirakan fenomena itu mulai terbentuk pada Mei hingga Juli 2026 dan berpotensi memicu kondisi lebih kering pada Oktober hingga akhir tahun.
Di tengah tantangan tersebut, Bulog juga menghadapi keraguan publik mengenai kondisi stok beras nasional. Dosen dari Universitas Bakrie yang juga mantan Menteri Pertanian Anton Apriantono mengatakan selain harus memiliki cadangan beras yang cukup, antisipasi kemarau panjang juga bisa dilakukan dengan menyiapkan sumber air dan irigasi yang baik.
Pemerintah menurut dia juga perlu menyiapkan varietas padi gogo supaya kebutuhan airnya tidak banyak. Sementara itu untuk cadangan beras harus lebih bersifat dinamis untuk mencegah adanya potensi penimbunan dan beras lama menjadi tidak tersalurkan.
“Dalam arti jangan disimpan terlalu lama karena akan rusak sehingga harus ada sistem in and out dengan penggunaan yang relevan,” ujar Anton kepada Katadata.co.id.
Di sisi lain Anton melihat program penyerapan gabah petani yang saat ini gencar dilakukan oleh Bulog sudah relevan untuk dilanjutkan. Meski begitu ia mengingatkan agar penyerapan dilakukan dengan terukur sesuai dengan kebutuhan.
“Harus hati-hati jangan sampai hanya sekadar disimpan tapi harus dirotasi,” ujar Anton lagi.
Sementara itu Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innoprenership IPB Handian Purwawangsa menilai tingginya stok beras pemerintah menjadi modal besar menjaga keberlanjutan pangan nasional. Menurut dia selama ini panjangnya rantai distribusi dan ketergantungan pada tengkulak menjadi salah satu beban yang sering dihadapi petani.
“Ini menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan produksi ke depan,” kata Handian saat meninjau gudang Bulog di Karawang.
Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, pangan tak lagi sekadar soal murah atau mahal. Ia menjadi penentu daya tahan bangsa menghadapi krisis. Di antara sawah dan gudang-gudang penyimpanan itu, Bulog terus menjaga aliran pasokan pangan nasional.
Dirut Bulog mengatakan masa panen raya hingga Juli 2026 dimanfaatkan untuk mempercepat penyerapan gabah petani. Langkah itu dilakukan sebelum kemarau panjang mulai memengaruhi produksi pangan nasional.
“Insya Allah aman, jadi kalau melihat stok yang sekarang sudah mencapai 5,3 juta ton itu kami pastikan menghadapi El Nino itu akan aman,” katanya.
Bagi petani seperti Opak di Desa Hegar Mukti, persoalan pangan mungkin terlihat sederhana. Yang paling penting baginya adalah hasil panen terserap dengan harga layak sehingga ia bisa kembali menanam pada musim berikutnya. Sementara bagi anak-anak yang bermain di sawah petang itu, panen yang berlimpah menjadi harapan akan masa depan yang lebih cerah.
Dari sawah kecil di perbatasan Cikarang dan Karawang, ketahanan pangan Indonesia bermula. Bulir-bulir padi yang diangkut dengan motor trail dari hamparan sawah perlahan menjadi bagian dari cadangan beras nasional, menjaga jutaan meja makan dan membuat negeri ini tetap tegak di tengah tekanan global. Hampir enam dekade sejak berdiri, Bulog tetap menjadi salah satu penyangga yang menjaga napas pangan Indonesia dari musim ke musim.




