BRIN Miliki Empat Kandidat Vaksin Malaria, Prabowo Minta Kebut Proses Riset
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengembangkan riset terkait vaksin malaria. Kepala BRIN Arif Satria mengatakan saat ini ada empat kandidat vaksin.
“Ada kurang lebih sekitar lima atau enam kandidat vaksin. Kami berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk dengan Kementerian Kesehatan, kemudian juga dengan Bio Farma,” kata Arif dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Selasa (27/10).
Arif mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah menghubunginya via telepon untuk menanyakan terkait perkembangan vaksin. Dalam telepon, Prabowo menginginkan adanya kemandirian vaksin dan meminta proses riset dikebut.
“Kami berharap dengan dukungan dari Bapak Presiden, (riset) vaksin ini bisa dipercepat 3 tahun dari seharusnya,” ujarnya.
Arif menyebut beberapa parasit di Indonesia memiliki karakteristik yang agak berbeda. Dia menyontohkan salah satunya seperti plasmodium vivax atau malaria, yang memang saat ini belum ada.
Menurutnya jika vaksin ini bisa diproduksi disini maka dapat menjadi salah satu kontribusi Indonesia untuk dunia. “Bapak Presiden tadi menekankan apa sumbangan kita untuk dunia juga, karena malaria tidak sekedar di Indonesia, tapi vaksinnya di dunia tidak ada," katanya.
Kasus malaria belakangan ramai di salah satu negara Asia yakni Korea Selatan. Otoritas kesehatan Korea Selatan, mengeluarkan peringatan malaria tingkat nasional setelah mendeteksi parasit penyebab penyakit tersebut pada nyamuk.
Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) menyatakan materi genetik dari parasit malaria Plasmodium vivax terdeteksi pada nyamuk Anopheles yang dikumpulkan di Paju dan Yeoncheon, Korea Selatan bagian utara, antara 27 Juli dan 2 Agustus.
"Ditemukannya parasit pada nyamuk vektor berarti kemungkinan tertular malaria akibat gigitan nyamuk yang terinfeksi telah meningkat," ungkap badan tersebut dalam sebuah pernyataan. dikutip dari Antara.
Peringatan nasional itu menyusul imbauan terkait malaria yang dikeluarkan pada 22 Juni akibat peningkatan jumlah nyamuk vektor. Sebelumnya, peringatan juga telah dikeluarkan di lima wilayah karena adanya klaster kasus dan lonjakan populasi nyamuk.
Meskipun ada peringatan nasional, Korea Selatan mencatat 201 kasus malaria yang terinfeksi di dalam negeri antara 1 Januari dan 1 Agustus. Angka itu turun 43,4% dibandingkan dengan 355 kasus pada periode yang sama tahun lalu.
