Cek Data: Menguji Klaim Sawit sebagai Komoditas Pengguncang Dunia
Pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman bahwa Indonesia bisa mengguncang tatanan dunia jika menghentikan ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) memantik diskusi di ruang publik. Klaim itu menyiratkan, sawit bukan cuma komoditas ekonomi, tetapi juga instrumen strategis yang dapat digunakan sebagai daya tawar geopolitik.
Sebagai produsen dan eksportir CPO terbesar di dunia, posisi Indonesia memang sangat dominan. Namun, seberapa jauh dominasi itu bisa diterjemahkan menjadi kekuatan politik global?
Kontroversi
Dalam Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI di Makassar pada Kamis, 26 Maret lalu, Amran mengklaim Indonesia sanggup mendikte pasar global dengan cara yang cukup ekstrem: menyetop ekspor CPO.
Ia bahkan menyamakan aksi itu dengan blokade Selat Hormuz yang dilakukan Iran, yang membikin harga minyak dunia meroket tajam dan menciptakan krisis energi di berbagai negara.
“Iran menutup Selat Hormuz, kita bisa tutup lebih besar: CPO. Sawit, kita yang menguasai pasar dunia. Kalau kita hilirisasi [CPO], kiamat itu dunia,” ujar Amran, dikutip dari kanal SulawesiPos di YouTube.
Faktanya
Data memang menunjukkan Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejak 2018 Indonesia sanggup memproduksi lebih dari 40 juta ton per tahun. Bahkan, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan produksi tahun 2025 mencapai lebih dari 50 juta ton.
Jika dibandingkan dengan estimasi produksi global, yakni sekitar 80 juta ton, menurut United States Department of Agriculture (USDA), kontribusi produksi Indonesia mencapai lebih dari separuh total produksi dunia. Ini menempatkan Indonesia sebagai aktor terpenting komoditas minyak sawit.
Namun, tentu tidak seluruh produksi dipasok untuk pasar global. Konsumsi domestik pun terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Laporan Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) menunjukkan konsumsi sawit nasional mencapai titik tertinggi pada 2025.
Kenaikan konsumsi tersebut dipengaruhi beberapa faktor, terutama program biofuel yang semakin berkembang dan bertambahnya penduduk yang meningkatkan kebutuhan pangan. Dengan begitu, sebagian besar produksi diserap di dalam negeri sebelum dikirim ke luar.
Selain Indonesia yang rata-rata ekspor minyak sawitnya mencapai 25 juta ton sejak 2018, Malaysia juga merupakan pemain penting kedua, dengan rata-rata 14 juta ton dalam periode yang sama. Adapun gabungan ekspor dari seluruh negara sisanya rata-rata hanya 6 juta ton.
Secara umum, Indonesia tetap menjadi eksportir terbesar. Ada jarak yang menganga lebar dengan Malaysia. Kendati begitu, ekspor Indonesia cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Adapun tren ekspor Malaysia dan pasokan gabungan negara lainnya terlihat lebih stabil.
Meski Indonesia sangat dominan, perdagangan sawit sebetulnya juga bersifat timbal balik. Sebab ekspor minyak sawit dan turunannya merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar negara ini.
Minyak kelapa sawit menempati urutan kedua sebagai ekspor utama komoditas nonmigas di bawah batu bara. Pada 2023 dan 2024, nilainya masing-masing mencapai US$25 miliar dan US$22,8 miliar, setara hampir Rp400 triliun (kurs rata-rata 2023-2024).
Sepanjang 28 April hingga 22 Mei 2022, Indonesia pun pernah menyetop ekspor minyak sawit. Ini merupakan kebijakan Presiden Joko Widodo demi memenuhi kebutuhan dalam negeri saat itu.
Namun, alih-alih bergolak, tidak ada perubahan yang berarti di tatanan dunia. Sebaliknya, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan saat itu, Askolani, menyebut kebijakan larangan ekspor CPO dan fraksinya berdampak terhadap menurunnya devisa negara sebesar US$2,2 miliar, setara Rp29,2 triliun (kurs Rp14.600).
Bahkan, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, Gulat Manurung, mengatakan kerugian petani mencapai Rp14 triliun akibat penerapan kebijakan larangan ekspor tersebut.
Mengapa CPO Tak Sekuat Minyak?
Pernyataan Amran yang menyamakan CPO dengan blokade energi seperti di Selat Hormuz, dan karenanya bisa menjadi alat “tekan”, perlu dilihat dalam konteks struktur pasar global yang sangat berbeda. Dalam minyak global, Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu chokepoint paling krusial.
Selat sempit ini dilalui sekitar 20% dari perdagangan minyak dunia setiap harinya. Ketika terjadi gangguan di Hormuz—baik konflik maupun ancaman penutupan—pasokan minyak dunia langsung terhambat dalam waktu singkat dan memicu lonjakan harga.
Kondisi itu juga ditopang oleh sifat pasar minyak yang sulit beradaptasi dalam jangka pendek. Minyak fosil masih menjadi tulang punggung energi global, terutama untuk transportasi dan industri. Saat pasokan terganggu, negara konsumen tidak punya banyak pilihan beralih ke sumber energi lain.
Di sisi lain, dalam struktur pasar biofuel di mana minyak sawit termasuk di dalamnya, tidak ada satu bahan baku yang mendominasi secara absolut.
Selain minyak sawit, biofuel juga diproduksi dari minyak kedelai dan rapeseed. USDA juga mencatat adanya peningkatan produksi minyak kedelai di seluruh dunia. Pada 2025/2026, total produksi minyak kedelai global mencapai 71,4 juta ton, hanya berselisih sekitar 9 juta ton dengan sawit. Cina, AS, Brasil, dan Argentina menjadi negara produsen terbesarnya.
Adapun minyak rapeseed ramai di Eropa. Uni Eropa tercatat memproduksi 10,2 juta ton minyak tersebut pada 2025/2026. Meski produksinya masih rendah ketimbang yang lain, rata-rata 30,8 juta ton sejak 2016, minyak rapeseed memiliki peningkatan tertinggi secara tahunan, yakni 5%.
Perbedaan ini menunjukkan pasar energi alternatif, terutama bahan dasar biofuel, tidak terkunci pada satu negara. Berbeda dengan minyak bumi yang bergantung pada negara-negara tertentu, biofuel berkembang dan dapat dikembangkan secara lebih terdiversifikasi.
Referensi
BPS. 2025. Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri (diakses 7 April)
IPOSS. 2026. Outlook Industri Sawit Indonesia 2026 (diakses 7 April)
SulawesiPos. 2026. Pertemuan Saudagar Bugis Makassar XXVI 2026 (diakses 7 April)
USDA. 2025. Oilseeds: World Markets and Trade (diakses 7 April)
USDA. 2026. Global Production (diakses 7 April)
