1 Juta UMKM Mulai Berjualan Online Akibat Pandemi Corona

Pemerintah mengklaim, 1 juta UMKM mulai berjualan online dalam tiga bulan. Total, ada sekitar 9 juta UMKM yang sudah bergabung ke platform digital.
Image title
17 Juli 2020, 20:43
1 Juta UMKM Mulai Berjualan Online Akibat Pandemi Corona
ANTARA FOTO/Makna Zaezar/foc.
Ilustrasi, model memperagakan produk kerajinan rotan yang disiarkan langsung secara daring (live streaming) saat Gelar Produk Industri Kecil Menengah (IKM) di Central Borneo Souvenir, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Rabu (15/7/2020) malam.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Pemerintah mengklaim, satu juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bergabung ke platform digital hanya dalam tiga bulan. Pelaku usaha mulai berjualan online untuk mendongkrak penjualan di tengah pandemi corona.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menilai, program Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang diluncurkan pada Mei lalu, mendorong UMKM untuk berjualan online. “Sejak saat itu, lebih dari satu juta UMKM masuk ekosistem digital,” katanya saat konferensi pers secara virtual, Jumat (17/7).

Selain itu, pandemi Covid-19 memang memaksa UMKM di banyak sektor untuk merambah layanan digital. Sebab, pemerintah menerapkan kebijakan jaga jarak fisik guna meminimalkan potensi penularan virus corona.

(Baca: Bank BUMN Akan Salurkan Kredit Rp 4,2 T untuk UMKM yang Jualan Online)

Secara keseluruhan, sekitar sembilan juta UMKM di Indonesia masuk ke ekosistem digital. Pemerintah pun optimistis bisa melampaui target 10 juta UMKM go-online hingga akhir tahun ini.

Meski begitu, pelaku usaha yang berjualan online hanya sekitar 14,6% dibandingkan total UMKM di Indonesia. Mayoritas berada di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menambahkan, sebagian besar UMKM terkena dampak pandemi corona, baik dari sisi permintaan (demand) dan penawaran (supply). Oleh karena itu, ia mendorong UMKM untuk beradaptasi agar bisa bertahan.

Salah satu caranya, dengan bergabung di platform digital dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen saat pandemi. (Baca: Pemerintah Targetkan 10 Juta Lebih UMKM Jualan Online Akhir Tahun Ini)

Berdasarkan survei Katadata Insight Center (KIC), 82,9% UMKM terpukul pandemi Covid-19. Hanya, 5,9% yang penjualannya positif selama krisis kesehatan saat ini.

Survei tersebut dilakukan terhadap 206 responden UMKM di lima kategori usaha. Mereka berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sebagian besar UMKM ini memiliki skala usaha mikro dengan omzet di bawah Rp 300 juta per tahun.

Berdasarkan survei tersebut, 80,6% berjualan online dan merasa terbantu dengan penggunaan internet untuk berusaha. Sayangnya, UMKM seringkali mengalami kendala saat menjalankan usaha menggunakan teknologi digital.

(Baca: Menkop Teten Sebut 50% UMKM Terganggu Usahanya karena Corona)

Tantangan itu di antaranya belum mampu menggunakan internet (34%) dan kurangnya pengetahuan menjalankan usaha online (23,8%). Lalu, pegawai tak siap (19,9%), infrastruktur tidak layak (18,4%), dana kurang memadai (9,7%), dan banyaknya pesaing (3,4%).

Indeks Kesiapan Digital UMKM di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) pun pada tahap menengah. Indikatornya yakni optimisme, kompetensi, keamanan, dan kenyamanan.

Hasilnya, rerata Indeks Kesiapan Digital UMKM hanya 3,6. “Generasi yang semakin tua memiliki indeks kesiapan digital yang lebih rendah dibandingkan yang muda,” demikian dikutip dari survei KIC yang dirilis akhir Juni lalu (26/6).

(Baca: Survei KIC: Mayoritas UMKM Terpukul Corona, Ada Dua Strategi Bertahan)

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait