Kabel Bawah Laut Putus, Jaringan Komunikasi di Papua Andalkan Satelit

Kabel bawah laut di antara Sami dan Biak, Papua, putus kemarin (30/4). Ini membuat jaringan internet di tiga kota dan kabupaten di Papua tidak dapat digunakan untuk sementara waktu.
Desy Setyowati
1 Mei 2021, 16:07
Kabel Bawah Laut Putus, Jaringan Komunikasi di Papua Andalkan Satelit
ANTARA FOTO/Gusti Tanati/aww.
Suasana lengang di kawasan jalan utama Jayapura, Papua, Senin (30/3/2020).

Jaringan komunikasi di Papua terganggu, karena kabel bawah laut di titik 360 kilometer putus kemarin (30/4). PT Telkom Indonesia pun mengandalkan satelit dan Palapa Ring Timur untuk mendukung layanan telekomunikasi di wilayah ini.

Vice President Corporate Communication Telkom Pujo Pramono, mengatakan layanan telepon dan pesan singkat sudah normal. "Layanan data baik fixed maupun mobile broadband masih proses pemulihan kualitas secara bertahap,” ujarnya dalam siaran pers, Sabtu (1/5).

Untuk memulihkan layanan data, perusahaan mengoptimalkan kapasitas satelit dan sistem komunikasi radio IP terrestrial, termasuk pemanfaatan jaringan Palapa Ring Timur.

"Kami akan mengupayakan percepatan agar kualitas layanan bisa segera normal,” kata Pujo.

Advertisement

Gangguan pada layanan telekomunikasi di Papua terjadi karena kabel bawah laut di antara Sami dan Biak, putus. Ini membuat jaringan data seluler tidak bisa digunakan untuk sementara waktu.

Kepala Telkom Papua Sugeng Widodo menyampaikan, ada tiga kabupaten dan kota di Papua yang mengalami gangguan jaringan telekomunikasi sejak Jumat malam (30/4). Ketiganya yakni Kota dan Kabupaten Jayapura, serta Kabupaten Sarmi.

"Sekitar Pukul 21.30 WIT kabel optik bawah laut antara Sarmi dan Biak putus hingga menyebabkan gangguan telekomunikasi,” kata dia kepada Antara. Namun, Telkom belum mengetahui penyebab kabel laut putus tersebut.

Guna mengatasi gangguan tersebut, sebagian layanan dialihkan ke satelit. Namun belum bisa maksimal.

Sedangkan perbaikan kabel yang putus di tengah laut harus menunggu kapal khusus. Alhasil, membutuhkan waktu sekitar sebulan. "Diharapkan perbaikan dapat dilakukan lebih cepat," kata dia.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait