Alih ke Bisnis Ramah Lingkungan, Startup Sociolla Siapkan Dana Jumbo

Sociolla menggelontorkan dana dalam jumlah besar untuk beralih ke bisnis ramah lingkungan. Startup kecantikan ini mengklaim bisa mengurangi potensi sampah bubble wrap 250 ribu meter persegi.
Desy Setyowati
13 Januari 2022, 15:25
startup, sociolla, kecantikan, ramah lingkungan
Sociolla
Co-Founder sekaligus CMO Sociolla Chrisanti Indiana

Sociolla beralih ke bisnis ramah lingkungan lewat kampanye Waste Down, Beauty Up. Startup di bidang kecantikan ini pun menggelontorkan dana dalam jumlah besar.

Co-Founder sekaligus CMO Social Bella Chrisanti Indiana menyampaikan, perusahaan ingin tumbuh berkelanjutan. Oleh karena itu, Sociolla beralih ke bisnis ramah lingkungan.

Namun, ia tidak memerinci anggaran yang digelontorkan untuk beralih ke bisnis ramah lingkungan. "Lumayan besar," kata Chrisanti saat wawancara terbatas dengan media di Lippo Mall Puri, Jakarta, Kamis (13/1).

Dana yang besar itu digunakan untuk mengubah kemasan dari bubble wrap atau plastik menjadi berbahan kertas. Startup kecantikan itu juga bekerja sama dengan penyedia khusus.

Advertisement

"Kami hitung, kalau diganti dengan material eco friendly bisa mengurangi penggunaan bubble wrap 250 ribu meter persegi. Dampaknya besar, meski bubble wrap itu lebih murah," katanya.

Selain itu, gerakan Waste Down Beauty Up itu mencakup empat inisiatif utama, yaitu:

1. Look up on trusted reviews atau membaca review terlebih dahulu

Dalam hal ini, Sociolla menyediakan fitur review di aplikasi SOCO. Chrisanti mencatat, sudah ada 2,5 juta ulasan di platform ini.

"Yang diulas itu produknya seperti efek dan kesesuaian dengan kulit. Konsumen bisa mencari ulasan yang sesuai," ujar dia.

2. Try tester in Sociolla stores before buying atau mencoba tester di toko Sociolla sebelum membeli.

Produk uji coba (tester) ini akan tersedia di setiap gerai. Saat ini, Sociolla memiliki 31 toko di Indonesia dan sembilan di Vietnam.

Perusahaan rintisan itu menargetkan jumlah gerai di Nusantara melonjak dua kali lipat tahun ini. Begitu juga di Vietnam.

Chrisanti mengatakan, Sociolla melatih penasehat kecantikan alias beauty advicer (BA) untuk mendorong konsumen membeli produk sesuai kebutuhan.

Dengan begitu, calon pembeli bisa bertanya soal kesesuaian produk terhadap kulit kepada beauty advicer.

3. Buy minis/small size before full size atau beli versi mini/kecil sebelum ukuran penuh

Sociolla juga menyediakan kemasan ukuran mini, supaya konsumen bisa menguji coba produk dan mengurangi potensi sampah.

Kemasan mini itu berbeda dengan paket wisata (travel).

4. Gift with less waste atau hadiah dalam bentuk elektronik (e-gift) yang bisa digunakan untuk membeli produk sesuai kebutuhan

Chrisanti menyadari bahwa perubahan ini berpotensi mengurangi potensi yang bisa diraih. Apalagi banyak konsumen yang membeli karena Fear Of Missing Out (FOMO).

"Menurut kami yang FOMO itu bukan sustainable," ujar dia. "Kesannya ada opportunity loss, tetapi kami yakin ini hal benar untuk dilakukan."

Ia juga melihat bahwa banyak perusahaan di dunia mulai beralih ke operasional ramah lingkungan. Langkah Sociolla menggelar kampanye Waste Down, Beauty Up juga sudah dikaji sejak 2018.

Sociolla bekerja sama dengan Waste4Change untuk menggelar kampanye tersebut. “Melalui gerakan strategis dan akan terus berjalan ini, kami berharap dapat memberikan dampak nyata dalam mengurangi sampah kemasan pada industri kecantikan di Indonesia,” kata Tim Kampanye Waste4Change Silviana Chandra dalam siaran pers.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait