Google Diduga Lacak Ponsel Android & Data Biometrik, Didenda Triliunan

Google diduga mengambil data biometrik seperti wajah dan suara. Perusahaan juga didenda Rp 1,3 triliun karena diduga melacak lokasi pengguna Android.
Lenny Septiani
21 Oktober 2022, 16:35
google,
Arief Kamaludin (Katadata)
Google

Pemerintah Texas menggugat Google karena diduga mengambil data biometrik jutaan pengguna tanpa izin. Raksasa teknologi ini sebelumnya didenda US$ 85 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun di negara bagian Arizona, Amerika Serikat (AS) karena dianggap melacak lokasi pengguna perangkat Android.

Google diduga mengumpulkan data biometrik warga Texas sejak 2015. Data biometrik yang dimaksud seperti wajah, suara hingga sidik jari.

“Di seluruh negara bagian, setiap hari warga Texas menjadi ‘sapi perah’ tanpa disadari yang diperah oleh Google untuk mendapatkan keuntungan,” kata Jaksa Agung Texas Ken Paxton dikutip dari Reuters, Jumat (21/10).

Data-data tersebut dikumpulkan melalui produk-produk seperti Foto Google, Asisten Google, dan Nest Hub Max.

Advertisement

Reuters melaporkan, Google akan melawan gugatan tersebut. Google mengatakan bahwa pengguna layanan memiliki opsi untuk mematikan fitur pengumpulan biometrik.

"AG Paxton sekali lagi salah mengkarakterisasi produk kami dalam gugatan lain yang tak tertahankan," kata juru bicara Google Jose Castaneda. "Kami akan meluruskannya di pengadilan."

Sebelumnya, Jaksa Agung Arizona Mark Brnovich menggugat Google pada Mei 2020. Ia mengklaim bahwa ‘pola gelap’ atau ‘dark patterns’ dibangun di dalam perangkat lunak (software) Google di ponsel atau aplikasi Android.

Dark patterns adalah antarmuka pengguna yang dibuat untuk mengelabui pengguna agar melakukan sesuatu, seperti membeli asuransi yang mahal.

Gugatan tersebut menyebutkan bahwa Google terus melacak lokasi pengguna Android untuk mengumpulkan data iklan. “Bahkan setelah pengguna mematikan berbagi lokasi, dan membuat pengaturan privasi untuk menjaga informasi lokasi tetap sulit ditemukan,” demikian isi gugatan dikutip dari The Verge, dua pekan lalu (7/10).

The Associated Press melaporkan pada 2018 bahwa Google melacak pengguna melalui layanan seperti  Google Maps, pembaruan cuaca, dan pencarian (browser) meski Riwayat Lokasi dimatikan.

Bloomberg menyebutkan, denda US$ 85 juta merupakan yang terbesar yang pernah diberikan kepada Google terkait konsumen.

"Ketika saya terpilih sebagai jaksa agung, saya berjanji kepada warga Arizona bahwa saya akan berjuang untuk mereka dan meminta pertanggungjawaban semua orang, termasuk perusahaan seperti Google," kata Brnovich dalam pernyataan.

Reporter: Lenny Septiani
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait