Harga Bitcoin Melorot Rp 335 Juta dalam 2 Minggu, Diramal Anjlok Makin Dalam

Rahayu Subekti
2 Februari 2026, 06:50
Harga Bitcoin,
shutterstock
Bitcoin
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga Bitcoin Anjlok US$ 20 ribu atau Rp 335,5 juta (kurs Rp 16.773 per US$) hanya dalam dua pekan menjadi kisaran US$ 76 ribu. Harga kripto ini diramal terus menurun.

Namun reli tersebut gagal terwujud. Investor juga ramai-ramai menjual Bitcoin, sehingga harganya jatuh ke level terendah sejak guncangan tarif tahun lalu seiring dengan runtuhnya reputasinya sebagai aset digital setara emas.

Harga Bitcoin turun 7% pada Sabtu (31/1) ke level terendah US$76.503. Harganya naik menjadi sekitar US$ 78 ribu, namun tetap turun sekitar 11% jika dihitung sejak awal tahun.

Padahal harga kripto itu sempat mencapai US$ 97.641 atau Rp 1,65 miliar pada 15 Januari.

Carmelo Alemán, seorang trader dan analis di perusahaan analitik kripto CryptoQuant, mengatakan pola perdagangan spot dan futures Bitcoin sekarang jelas 'bearish'.

Dia mengatakan bahwa pasar sekarang berada dalam fase 'kapitulasi', di mana sebagian besar pelaku pasar akan menderita kerugian.

Para analis memperkirakan harga Bitcoin turun terus hingga US$ 75 ribu , atau bahkan serendah US$ 10 ribu.

“Bitcoin mengalami penurunan karena tekanan jual terus berlanjut, tanpa adanya modal baru yang masuk,” tulis CEO CryptoQuant Ki Young Ju di X, dikutip dari DLNews, Senin (2/2).

Kripto itu mengalami penurunan harga ketika harga emas batangan dan logam mulia lainnya melesat sangat pesat karena investor mencari keamanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman tarif perdagangan.

Harga smas mencapai rekor tertinggi dalam beberapa hari terakhir, melonjak 23% hingga diperdagangkan di atas US$ 5.600 per troy ounce, meskipun kemudian turun tajam pada Jumat (29/1) menjadi sekitar US$ 4.800. Satu troy ounce sama dengan 31,1035 gram.

Para pendukung kripto telah lama menggembar-gemborkan Bitcoin sebagai 'emas digital', versi virtual dari logam mulia, dan mengatakan bahwa mata uang kripto ini adalah aset aman di saat-saat sulit.

Namun Ahli Strategi Pasar Global Senior di Marex Solutions, Ilan Solot mengatakan Bitcoin medupakanaset yang sedang mencari model valuasi. "Tidak ada konsensus yang jelas tentang apa yang seharusnya mendorong harga kripto ini," demikian dikutip dari Finansial Times, Senin (2/2).

Direktur Pelaksana di Pimco, Pramol Dhawan mengatakan narasi bitcoin sebagai emas digital telah 'lenyap' dan penurunan harganya menunjukkan bahwa ini bukan revolusi moneter.

Bitcoin mencapai rekor tertinggi hampir US$ 125.000 pada akhir tahun lalu, karena investor menyambut baik langkah-langkah Presiden AS Donald Trump yang ramah terhadap kripto, termasuk menunjuk regulator yang berpihak, menghentikan tindakan penegakan hukum terhadap perusahaan kripto, dan mengesahkan aturan stablecoin yang penting.

Sejak saat itu harganya anjlok. Token lain termasuk Ethereum dan Solana juga mengalami penurunan nilai yang tajam sejak puncaknya tahun lalu. 

Ancaman tarif dagang Trump, tuntutannya untuk merebut Greenland, dan ketegangan geopolitik yang lebih luas dengan Iran dan Venezuela telah membuat investor berbondong-bondong membeli emas dan perak. Namun, para pedagang memperlakukan kripto sebagai aset yang lebih berisiko. 

“Bitcoin dikaitkan dengan pemerintahan,” kata seorang investor modal ventura kripto. "Bitcoin menanggung akibat dari keterkaitannya dengan partai politik (Republik)."

Analis di perusahaan riset kripto Kaiko juga menilai korelasi Bitcoin dengan emas pada dasarnya tidak stabil, berayun antara hubungan positif dan negatif yang kuat tergantung pada narasi makro yang dominan. “Volatilitas tarif mengungkap krisis identitas Bitcoin yang sedang berlangsung," demikian dikutip.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...