Bitcoin Bergerak Naik, Tapi Rawan Anjlok ke Level US$ 55 Ribu

Rahayu Subekti
3 Februari 2026, 09:56
Ilustrasi cara mining Bitcoin
Unsplash/Brian Wangenheim
Ilustrasi cara mining Bitcoin
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga sejumlah aset kripto, termasuk Bitcoin bergerak naik pada Selasa (3/2) di tengah sentimen terungkapnya dokumen pelaku pedofilia Jeffrey Epstein yang ikut menyeret para pencipta Bitcoin. 

Berdasarkan data Coinmarketcap, harga Bitcoin (BTC) pagi ini berada di level US$ 78.746,15 per dolar AS atau setara Rp 1,32 miliar (kurs Rp 16.800 per dolar AS. Level Bitcoin ini naik 2,40% dalam 24 jam terakhir yang menandakan posisinya masih menjadi aset kripto dengan kapitalisasi besar.

Sejumlah aset kripto lainnya juga menguat. Ethereum (ETH) berada di level US$ 2.345,76 atau setara Rp 39,4 juta, naik 2,02% dalam 24 jam terakhir.

Sementara itu Tether (USDT) juga menguat tipis 0,003% di level US$ 0,999 atau setara Rp 16.800. Demikian pula dengan aset kripto lain seperti BNB juga naik 0,66% di level US$ 770,44 atau setara Rp 12,94 juta.

Meski dibuka menguat, tekanan terhadap Bitcoin diprediksi masih akan ada. Mengutip Coindesk, Analis Compass Point memproyeksikan Bitcoin rawan terkoreksi hingga titik terendah antara US$ 60 ribu hingga US$ 68 ribu atau setara  Rp 1 miliar hingga Rp 1,14 miliar.

Namun, analis mengatakan tekanan lebih dalam terhadap Bitcoin membutuhkan peristiwa yang membawa risiko lebih luas lagi. “Meskipun risiko jangka pendek masih cenderung ke arah penurunan, kami percaya saat ini sedang mendekati babak akhir di pasar bearish kripto. Penurunan lebih lanjut kemungkinan besar memerlukan pasar bearish di saham AS,” kata Analis Ed Engel dan Michael Donovan.

Jika Bitcoin turun melewati batas US$ 60 ribu maka level baru Bitcoin berikutnya adalah sekitar US$ 55 ribu atau nilainya merosot setara Rp 924 juta.

Mengutip Financial Times, Senin (2/2), harga Bitcoin makin tertekan karena harga emas dan logam mulia lainnya mengalami reli kuat. Saat ini investor mencari aset aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman tarif dagang AS.

 

 

 

 

 

 

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...