Utang Paylater Warga RI Tembus Rp 44 Trilun, OJK Sebut Gaya Hidup Generasi Muda
Otoritas Jasa Keuangan mencatat total penyaluran pinjaman buy now pay later (BNPL) oleh perbankan dan perusahaan pembiayaan mencapai Rp 44 triliun hingga Juni 2026. Regulator bahkan menilai paylater kini mulai menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan kemudahan akses melalui platform fintech dan e-commerce membuat layanan paylater semakin diminati masyarakat. Menurutnya, proses persetujuan yang cepat dan sederhana menjadikan paylater sebagai alternatif pembiayaan konsumtif dibandingkan kartu kredit.
"Perilaku konsumsi masyarakat khususnya generasi muda menunjukkan kecenderungan menjadikan cicilan berbunga jangka pendek sebagai bagian dari gaya hidup," kata Dian dalam konferensi pers RDKB OJK Juli 2026, Selasa (4/8).
Menurutnya, dari perspektif ekonomi makro, meningkatnya penggunaan paylater juga mencerminkan upaya rumah tangga memenuhi kebutuhan konsumsi jangka pendek melalui layanan digital yang mudah diakses. Karena itu, OJK masih mendukung perbankan mengembangkan produk pembiayaan tersebut sepanjang tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko.
Data OJK menunjukkan baki debet atau outstanding paylater perbankan mencapai Rp 30,71 triliun hingga Juni 2026. Nilai tersebut tumbuh 33,54% secara tahunan, meski lajunya mulai melambat dibandingkan pertumbuhan pada Mei yang mencapai 37,72%.
Namun, OJK mencatat porsi kredit BNPL terhadap total kredit perbankan masih sangat kecil yakni 0,34%. Ruang ekspansi produk ini dinilai masih cukup besar dibandingkan keseluruhan portofolio kredit bank.
Sejalan dengan meningkatnya outstanding, jumlah rekening paylater perbankan juga terus bertambah. “Jumlah rekening paylater perbankan itu sudah mencapai angka 32,8 juta rekening dengan rata-rata baki debet untuk setiap rekening itu sebesar 0,94 juta,” ujarnya.
Di sisi lain, kualitas kredit menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) paylater perbankan turun menjadi 2,36% pada Juni 2026, dibandingkan 2,50% pada Mei.
Kenaikan penyaluran pembiayaan paylater juga dicatatkan perusahaan multifinance yang melesat 57,02% menjadi Rp 13,40 triliun. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan paylater masih menjadi salah satu segmen dengan ekspansi paling tinggi di industri pembiayaan.
"Di sektor PVML, piutang pembiayaan dari perusahaan pembiayaan tumbuh sebesar 1,88% year on year pada Juni 2026 menjadi Rp 511,26 triliun. Hal ini didukung peningkatan pembiayaan modal kerja sebesar 6,36% year on year," kata Agusman dalam kesempatan yang sama.
Di sisi lain, kualitas pembiayaan paylater oleh perusahaan pembiayaan juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) gross turun menjadi 3,09% pada Juni 2026, dari 3,44% pada Mei 2026.
