Indonesia dan India Perkuat Kolaborasi AI, Ekonomi Digital Diramal Rp 5.604 T
Indonesia dan India akan memperkuat kolaborasi membangun ekosistem kecerdasan buatan atau AI. Terlebih, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital atau Wamen Komdigi Nezar Patria melihat pertumbuhan ekonomi digital di India sangat positif.
“Pertumbuhan ekonomi digital India akan mencapai US$ 1 triliun (Rp 16.981 triliun dengan kurs Rp 16.981 per dolar AS) pada 2030. Indonesia diprediksi sekitar US$ 330 miliar (Rp 5.604 triliun),” kata Nezar dalam konferensi pers Global AI Pre-Summit 2026 di Jakarta, Rabu (21/1).
Nezar menyampaikan akan memperkuat kolaborasi dengan India untuk sejumlah hal. Dua di antaranya memperkuat pembangunan infrastruktur AI dan talenta digital.
Oleh karena itu, Nezar memastikan akan membawa misi untuk mendorong inklusivitas dalam Global AI Summit 2026 di India dan Sovereign AI.
Sovereign AI adalah konsep negara mengembangkan, mengelola, dan menggunakan teknologi AI sesuai dengan nilai, regulasi, dan kepentingan nasional. Tujuannya, memastikan kedaulatan digital dan keamanan suatu negara dalam menghadapi dominasi teknologi global.
“Jadi kami sama-sama mengusung no one left behind dalam soal perkembangan teknologi ini,” ujarnya.
Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty mengatakan saat ini tantangan terbesar inklusivitas yaitu bagaimana AI bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas masyarakat miskin. Selain itu juga meningkatkan layanan di sektor pendidikan, kesehatan, dan melindungi lingkungan.
Dalam kesempatan Global AI Summit 2026 di India, Chakravorty mengatakan nantinya akan membahas bagaimana AI bisa meningkatkan kualitas hidup. Selain itu juga menjembatani kesenjangan sosial dan ekonomi.
“Maka, betul-betul AI bisa lebih berdampak. India menjadi representasi untuk negara di Global South sehingga posisinya penting sebagai leader di global dan Asia. Diharapkan ada pembelajaran multidimensi dari satu negara dengan negara lain. India juga bisa belajar dari negara lain termasuk Indonesia,” kata Chakravorty.
