Dampak Literasi Digital, Perilaku Berinternet Masyarakat Lebih Terarah
Perkembangan digitalisasi berlangsung signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Tak heran, semakin penting untuk mencermati perilaku masyarakat dalam menggunakan platform digital khususnya bagi pemerintah. Hal ini dibutuhkan untuk membuat kebijakan yang tepat sasaran.
Berdasarkan survei Indeks Literasi Digital Indonesia 2021, perilaku masyarakat bisa dilihat salah satunya dari pola akses dan penggunaan internet. Penelitian yang digagas Kominfo menggandeng Katadata Insight Center (KIC) ini mencatat, sebagian besar rakyat Indonesia (99,7 persen responden) sudah mendapatkan sinyal teleponli seluler di sekitar tempat tinggal. Namun, tetap banyak (88,9 persen responden) yang mengalami ketidakstabilan jaringan sehingga koneksi sering putus.
Mulya Amri selaku Panel Ahli KIC dalam Survei Status Literasi Digital Indonesia 2021 menjelaskan, mayoritas responden mengalokasikan Rp 50.000 – Rp 100.000 per bulan untuk kebutuhan akses internet. Selain itu, mayoritas responden mengakses internet di mana saja menggunakan ponsel pintar.
”Terkait waktu akses internet, pola yang dilakukan responden punya kemiripan dengan tahun 2020. Mayoritas responden mengakses internet pada 19.01 sampai 21.00 dan pukul 07.01 hingga 10.00,” kata Mulya dikutip dari laporan Status Literasi Digital Indonesia 2021 yang dipublikasikan KIC.
Selain memotret pola akses dan penggunaan internet, Survei Indeks Literasi Digital Indonesia 2021 juga mencatat soal praktik berbagi informasi di media sosial oleh masyarakat. Sejauh ini, medsos terus menjadi yang terbanyak diakses tetapi televisi tetap lebih dipercaya. Media sosial Whatsapp dan Facebook merupakan yang paling sering dimasuki. Lebih jauh, medsos Tik Tok terus mengalami peningkatan pengguna.
”Keluarga dan saudara adalah sumber dan tujuan utama berbagi informasi melalui media sosial,” ujar Mulya Amri.
Penelitian soal literasi digital ini turut mengukur perilaku masyarakat dalam menghadapi berita bohong alias hoaks yang kian marak beredar di jagad maya. Informasi dan berita bohong yang beredar tidak sedikit yang terbilang meresahkan bahkan merugikan publik. Adapun, lebih khusus tentang sumber informasi terpercaya dapat tergambar dalam databoks berikut ini.
Masih soal berita bohong, kategori hoaks yang sering ditemui terutama konten-konten terkait politik, kesehatan, dan agama. Lagi-lagi, menurut responden, media sosial Facebook merupakan tempat yang terbanyak bersarangnya hoaks, khususnya soal isu politik.
Namun demikian, survei mencatat pula bahwa semakin banyak responden yang mencari klarifikasi berita bohong. Rujukan klarifikasi ini terutama kepada mesin pencarian di internet (59,6 persen responden). Walaupun tetap ada yang lebih memilih membiarkan begitu saja alias tidak mencari klarifikasi (12,2 persen).
Kajian seputar perilaku masyarakat dalam mengakses internet seperti ini perlu disorot lantaran Indonesia kini menjadi negara dengan jumlah pengguna internet terbanyak keempat di dunia. Penetrasi internet di Indonesia mencakup 73,7 persen dari total populasi atau berjumlah sekitar 202,7 juta pengguna.
Oleh karena itu, Menkominfo Johnny G. Plate mengungkapkan, literasi digital masyarakat yang kini berada pada level sedang (skor 3,49 dari skala 1 – 5) harus terus ditingkatkan. Literasi digital menjadi kemampuan strategis individu dalam menciptakan ruang digital yang bersih, aman, dan nyaman. Warga yang berdaya secara digital akan membuat penggunaan internet lebih terarah dan tepat guna.
”Internet layaknya pisau bermata dua, punya sisi negatif dan positif. Seiring kemudahan yang ditawarkan, juga terdapat sisi gelap. Bisa memberikan dampak yang positif bagi masyarakat namun tidak sedikit informasi yang juga harus disaring,” tutur Johny.
Penetrasi internet yang selaras dengan percepatan adopsi digital oleh masyarakat Indonesia berjalan semakin kencang. Demi menghadirkan ekosistem digital yang aman serta bermanfaat maka keterampilan digital publik perlu ditingkatkan.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menjalankan program khusus guna memperbaiki kompetensi digital masyarakat tersebut, yaitu Gerakan Nasional Literasi Digital. Program ini diharapkan bisa menyasar publik seluas-luasnya.
Pemerintah berambisi agar Gerakan Nasional Literasi Digital berjalan tepat sasaran. Oleh karena itu, Kominfo bersama KIC melakukan pemetaan kompetensi digital masyarakat. Hal ini ditempuh melalui survei status literasi digital dan mengukurnya menjadi Indeks Literasi Digital Indonesia, berlangsung pada 4 – 24 Oktober 2021 di 34 provinsi.
