Tren AI Hapus Kekhawatiran Bubble Dotcom di Tengah Maraknya PHK

Ringkasan
- OJK telah menghapus iklan-iklan promosi fintech P2P lending yang melanggar aturan, dengan total konten yang dihapus sejak awal tahun mencapai 45.
- Pada triwulan pertama 2024, OJK memantau 2.210 iklan produk dan layanan jasa keuangan, menemukan beberapa yang melanggar aturan dan meminta penyedia layanan untuk menghapus dan memperbaiki iklan tersebut. Penyelenggara yang melakukan pelanggaran berulang kali akan dikenakan sanksi.
- OJK mengatur secara ketat promosi produk dan layanan keuangan melalui POJK nomor 1 tahun 2013 dan POJK nomor 22 tahun 2023 agar informasi yang disediakan kepada konsumen jelas, akurat, dan tidak menyesatkan guna meminimalisir potensi kerugian pada konsumen.

Tren teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang populer dalam beberapa tahun terakhir ini dinilai meredakan kekhawatiran para investor, di tengah isu kehancuran teknologi seperti dotcom (.com) pada tahun 2000-an.
“Analisis lebih dalam mengenai kinerja teknologi meredakan kekhawatiran kehancuran teknologi pada 2000-an akan terulang,” kata Chief Investment Officer Hou Wey Fook dalam acara DBS Chief Investment Officer (CIO) Insights 2Q24: “A Broadening Rally” secara virtual, Senin (1/4).
Ia menyampaikan, era tech winter kali ini tidak seperti era .com pada akhir 1990-an yang didorong oleh valuasi. Sebab, kenaikan harga saham teknologi saat ini didukung oleh fundamental pendapatan kuat.
Setelah kinerja aset-aset berisiko yang begitu kuat, pertanyaan yang terus muncul adalah: "Apakah aset-aset berisiko menguat secara berlebihan?"
Perlu dicatat bahwa kenaikan harga baru-baru ini, sejauh ini memang didorong oleh sekelompok saham terkait teknologi atau disebut "Magnificent 7" yang terdiri dari Apple, Alphabet, Amazon, Microsoft, Meta, Nvidia, dan Tesla. Ketujuh perusahaan tersebut secara bersama-sama memiliki bobot signifikan di Indeks S&P 500.
Meski Bank Sentral Amerika Serikat (AS) enggan untuk mengumumkan keberhasilan dalam mengatasi inflasi dan ketidakjelasan menyeluruh dalam linimasa kebijakannya, Fook mengatakan bahwa aset-aset berisiko sudah mulai menunjukkan gairah keberhasilan.
“Investor telah memperhitungkan pelonggaran oleh Bank Sentral AS, yang pada akhirnya akan terjadi tahun ini, dengan S&P 500 menguat 8% dan selisih imbal hasil obligasi AS berbunga tinggi mengetat sebesar 22 bps,” ujar dia.
Fook mengatakan bahwa teknologi termasuk AI, dan barang-barang mewah, mencetak keuntungan besar. Menurut dia kinerja perusahaan teknologi raksasa dunia seperti Magnificent 7 mengesankan, karena manifestasi dari pertumbuhan produk berkualitas dengan harga yang sesuai, atau Quality Growth-at-a-Reasonable Price (Q-GARP).
Kinerja para perusahaan raksasa teknologi tetap menguntungkan, meskipun industri ini melakukan banyak pemutusan hubungan kerja sejak beberapa tahun belakangan ini.
Sejak awal tahun 2024, raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, Amazon, hingga induk usaha TikTok, ByteDance telah melakukan PHK karyawan.