Meta Akui Akun Buzzer Marak di Instagram dan Facebook Meskipun Sudah Dilarang

Kamila Meilina
16 Juli 2025, 10:06
Ilustarasi media sosial, sosmed, medsos
123rf
Ilustarasi media sosial, sosmed, medsos
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

 Perusahaan induk Facebook dan Instagram, Meta, mengakui bahwa akun-akun tidak autentik termasuk akun ‘buzzer’ masih marak di platform mereka. Namun demikian, Meta menegaskan melarang keberadaan akun ganda maupun akun palsu.

Kepala Kebijakan Publik Meta Indonesia, Berni Moestafa, menegaskan bahwa akun ganda dan akun yang mengimpersonasi pengguna lain melanggar kebijakan komunitas Meta dan seharusnya tidak diperbolehkan.

“Buat kami akun ganda itu sebenarnya dilarang. Yang kami tekankan adalah user yang autentik. Kalau ada dua akun atau akun yang mengimpersonasi user lain, itu pelanggaran dan akan kami take down jika ada laporan," kata Berni dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi I DPR RI bersama perwakilan Meta, YouTube, dan TikTok, di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (15/7).

Namun, ia mengakui bahwa kesenjangan antara kebijakan dan implementasi masih terjadi. Akun-akun tidak autentik, termasuk yang digunakan untuk menyebarkan propaganda atau konten manipulatif, masih beredar di platform milik Meta.

“Akun yang sifatnya kayak buzzer yang tidak autentik itu sebenarnya tidak ada tempat di platform kami. Tapi kami akui, itu masih sangat terjadi,” katanya.

Ia menyebut pihaknya terus berupaya memperkuat penegakan kebijakan guna mengatasi permasalahan ini.

Pengakuan ini disampaikan Berni sebagai respons atas usulan Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Soleh, agar dalam revisi Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran, dimuat larangan tegas terhadap pembuatan akun media sosial lebih dari satu per penggunaan, baik individu, perusahaan, maupun lembaga.

“Saya minta agar platform digital tidak boleh membuat akun ganda. Hanya satu akun asli saja. Ini satu-satunya cara untuk menangkal konten-konten ilegal yang terus beredar di medsos,” kata Oleh.

Ia menilai, akun ganda menjadi akar dari berbagai permasalahan seperti penipuan digital, disinformasi, hingga penyebaran ujaran kebencian, yang sulit ditelusuri karena identitas pengguna sering kali tidak autentik.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...