ATSI Nilai Skema Kuota Hangus Buat Akses Internet Lebih Terjangkau
Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menilai skema kuota hangus tidak bertentangan dengan aturan dan justru dapat membantu konsumen mengakses layanan internet dengan harga yang lebih terjangkau.
Direktur Eksekutif ATSI, Marwan O. Baasir, menjelaskan setiap paket data yang ditawarkan oleh operator seluler merupakan produk berizin dengan syarat tertentu yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Paket internet dengan sistem kuota hangus dinilainya memberikan pilihan bagi konsumen untuk mengakses paket internet dengan harga murah. Dia menyebut ketentuan ini tak menyalahi aturan, selama adanya transparansi informasi dan edukasi kepada pelanggan.
“Paket data yang dijual operator itu sudah diatur dasar hukumnya, termasuk batas kuota dan masa aktif. Misalnya, kuota 3 GB dengan masa aktif dua hari, itu sah-sah saja, selama dijelaskan secara jelas ke pelanggan,” ujarnya dalam Selular Business Forum, di Jakarta Selatan, Rabu (16/7).
Marwan menekankan kuota internet merupakan hak akses terhadap layanan, bukan aset permanen. Oleh karena itu, tidak digunakannya kuota hingga masa aktif habis tidak serta merta berarti pelanggaran.
Sistem layanan prabayar diatur Komdigi, yang saat itu masih bernama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dalam Permenkominfo Nomor 5 Tahun 2021.
Pada pasal 74, menyatakan bahwa saldo deposit prabayar dapat dipergunakan untuk mengakses layanan telekomunikasi termasuk jasa produk multimedia akses internet dengan menggunakan jaringan bergerak seluler. Hal ini diatur juga dalam Pasal 66 termasuk pengaturan mengenai pentarifan.
Hal ini juga terkait dengan aspek teknis dan manajemen jaringan yang harus diperhitungkan oleh penyelenggara layanan. Paket internet rollover bisa meningkatkan biaya layanan.
“Kalau semua kuota bisa diakumulasi ke bulan berikutnya, operator perlu menjamin ketersediaan jaringan di masa mendatang,” ujarnya.
Adapun model bisnis operator kini sudah berubah dibandingkan masa lalu. Model tarif "pay as you use" telah ditinggalkan karena pelanggan lebih memilih paket kuota tetap yang dinilai lebih praktis dan murah.
Harga per gigabyte di pasaran saat ini merupakan hasil dari perhitungan yang mempertimbangkan efisiensi jaringan dan keberlanjutan usaha.
“Kalau semua kuota bisa dikompensasi atau diakumulasi tanpa batas, maka operator akan mengalami beban biaya jaringan yang lebih tinggi. Ini akan berdampak langsung pada harga layanan yang dibayar pelanggan,” kata ATSI.
Sisa kuota internet, misalnya dari total 50 Mbps hanya terpakai 30 Mbps, tidak serta-merta bisa dianggap sebagai kuota yang bisa dikompensasikan ke bulan berikutnya.
Ia menjelaskan hal ini karena penyelenggara layanan internet (ISP) juga berlangganan bandwidth dari penyedia jaringan (NAP) dalam jangka waktu tertentu, biasanya bulanan.
