AS Kerahkan 150 Pesawat Tempur Serang Venezuela, Ini Kecanggihan F-22 Raptor
Amerika Serikat mengerahkan 150 pesawat tempur, pesawat tanpa awak alias drone hingga helikopter saat menyerang Venezuela pada Sabtu (3/1). Salah satunya F-22 Raptor. Bagaimana kecanggihan pesawat-pesawat ini?
Dikutip dari Army Recognition pada Senin (5/1), komponen udara dalam serangan AS ke Venezuela mencakup beragam pesawat tempur, pembom, intelijen, pengawasan dan pengintaian, dukungan elektronik, dan helikopter yang bertugas untuk memungkinkan penyisipan dan penarikan pasukan operasi khusus dengan aman.
Letnan Jenderal Dan Caine saat konferensi pers, mengkonfirmasi bahwa pesawat F-22 Raptor, termasuk di antara pesawat yang terlibat dalam operasi militer AS ke Venezuela.
President Trump Holds a Press Conference, Jan. 3, 2026 https://t.co/5ykCqSNuNa— The White House (@WhiteHouse) January 3, 2026
Citra satelit yang dipublikasikan oleh fotografer Ricardo Arduengo juga menunjukkan setidaknya ada 10 pesawat yang konsisten dengan konfigurasi F-22 Raptor di Pangkalan Angkatan Laut Roosevelt Roads pada 3 Januari.
Menurut Jenderal Caine, komponen udara gabungan bertanggung jawab untuk membongkar dan melumpuhkan elemen-elemen jaringan pertahanan udara Venezuela pada fase awal operasi untuk memastikan koridor udara yang terlindungi bagi helikopter yang membawa pasukan operasi khusus Angkatan Darat AS.
Dalam konteks itu, peran yang paling mungkin dari F-22 Raptor, berdasarkan doktrin dan persyaratan operasional yang diketahui. Pesawat tempur ini bisa digunakan untuk membangun dominasi udara dan perlindungan udara balasan, sehingga mencegah pasukan Venezuela untuk memperebutkan wilayah udara selama fase penyisipan dan penarikan.
Meskipun Departemen Pertahanan AS belum secara resmi mengonfirmasi pengaturan pangkalan atau durasi penempatan, gambar citra satelit menunjukkan penempatan kekuatan udara generasi kelima yang signifikan di Karibia selama jangka waktu operasi.
Sementara itu, dikutip dari The Aviationist pada Sabtu (3/1), pesawat yang diduga diluncurkan dari pangkalan di antaranya F-22 Raptor, F-35 Lightning II , F/A-18 Super Hornet, EA-18 Growler, dan B-1 Lancer, bersama dengan Pesawat Tanpa Awak dan helikopter.
U.S. F-22 Stealth Fighter Secures Air Dominance During Special Forces Operation in Venezuelahttps://t.co/K6HAimzdKu— Army Recognition (@ArmyRecognition) January 5, 2026
Kecanggihan F-22 Raptor
Dikutip dari Army Recognition, desain F-22 Raptor menggabungkan bentuk yang sangat sulit terdeteksi dengan material penyerap radar, sehingga bisa beroperasi jauh di dalam wilayah udara yang diperebutkan dengan probabilitas deteksi yang jauh lebih rendah.
Radar AN/APG-77 (Active Electronically Scanned Array) menyediakan deteksi dan pelacakan jarak jauh dari berbagai target udara, sementara arsitektur fusi sensornya mengintegrasikan radar, tindakan dukungan elektronik, tautan data, dan intelijen di luar pesawat ke dalam satu gambaran taktis. Hal ini memungkinkan pilot F-22 mengidentifikasi, memprioritaskan, dan menyerang ancaman jauh sebelum sistem musuh menyadari keberadaan mereka.
Dilengkapi dengan rudal jarak jauh AIM-120 AMRAAM dan rudal jarak pendek AIM-9X yang dibawa di dalam badan pesawat, F-22 Raptor mampu menyerang banyak target secara beruntun dengan cepat sambil mempertahankan profil siluman, keunggulan penting dalam membangun kendali udara tanpa gangguan.
Dalam konteks Venezuela, ancaman udara-ke-udara paling kredibel yang mungkin dihadapi F-22 Raptor adalah armada pesawat tempur Su-30MK2 buatan Rusia milik Angkatan Udara Venezuela.
Pesawat-pesawat itu, meskipun merupakan platform generasi keempat yang tangguh dan dilengkapi dengan rudal udara-ke-udara jarak jauh dan radar yang mumpuni, tidak memiliki karakteristik siluman, penggabungan sensor, dan kesadaran medan pertempuran yang terhubung jaringan seperti sistem generasi kelima.
Dalam skenario pertempuran potensial, F-22 Raptor kemungkinan akan mendeteksi dan melacak Su-30 pada jarak yang jauh lebih besar, memungkinkan pertempuran di luar jangkauan visual dalam kondisi di mana pilot Venezuela memiliki kesadaran situasional yang terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali.
Pesawat tempur Venezuela lainnya, seperti F-16A/B yang lebih tua dan platform serang ringan, akan menimbulkan risiko yang lebih rendah dalam skenario dominasi udara yang dibentuk oleh pesawat tempur siluman dan aset pendukung.
Alih-alih melakukan serangan elektronik langsung, F-22 Raptor dapat digunakan untuk mendeteksi dan melacak emisi radar, mengidentifikasi simpul pertahanan udara, dan memberikan penargetan atau isyarat ancaman kepada pilot di pesawat tempur lain.
Namun tidak ada pernyataan resmi yang menunjukkan bahwa F-22 digunakan dalam kapasitas itu selama operasi militer ke Venezuela.
Kecanggihan F-35, Pesawat Siluman AS
F-35 Lightning II adalah jet tempur multirole siluman generasi kelima yang dikembangkan oleh Lockheed Martin untuk Angkatan Udara AS, Korps Marinir AS, dan Angkatan Laut AS, serta sekutu NATO dan negara mitra lainnya. Jet ini dirancang untuk melakukan misi superioritas udara, serangan darat presisi, pengintaian, dan dukungan pertempuran terpadu.
Dalam doktrin militer Amerika Serikat, F-35 bahkan diposisikan bukan sekadar pesawat tempur, melainkan sensor terbang dan node informasi di medan perang modern. Avionik F-35 dibangun dengan arsitektur sensor fusion terintegrasi penuh.
Semua sensor utama, radar, infra-merah, elektro-optik, sistem peperangan elektronik, dan data dari platform lain, diproses secara real-time oleh komputer misi utama. Hasilnya adalah satu gambaran medan tempur terpadu (single integrated tactical picture) yang langsung ditampilkan ke pilot tanpa perlu interpretasi manual yang rumit.
Radar AN/APG-81 Active Electronically Scanned Array (AESA) pada F-35 bukan hanya untuk mendeteksi dan mengunci target udara atau darat, tetapi juga menjalankan fungsi high-resolution mapping, electronic attack dan electronic support, serta pelacakan multi-target secara simultan.
Menurut Angkatan Udara AS, radar itu mampu beroperasi dengan low probability of intercept, sehingga sulit dideteksi oleh sistem musuh.
F-35s returning to Puerto Rico this morning after an overnight U.S. strike on Venezuela. pic.twitter.com/QBV74XjHJG— OSINTtechnical (@Osinttechnical) January 3, 2026
AN/AAQ-37 Distributed Aperture System (DAS) terdiri dari enam sensor infra-merah ditempatkan di seluruh badan pesawat F-35. Ini memberikan cakupan visual 360° tanpa blind spot, yang membantu pilot mendeteksi peluncuran rudal secara otomatis, melihat ancaman dari segala arah, hingga bisa menembus ‘badan pesawat’ melalui tampilan helm.
Teknologi pada F-35 itu mengubah cara pilot memahami posisi ancaman, bahkan tanpa harus memutar pesawat.
F-35 juga dilengkapi Electro-Optical Targeting System (EOTS) yang terintegrasi di dalam badan pesawat (tanpa pod eksternal). EOTS menggabungkan sensor infra-merah, TV resolusi tinggi, dan laser designator untuk identifikasi serta penandaan target presisi.
Integrasi internal itu menjaga profil siluman sekaligus meningkatkan akurasi serangan udara-ke-darat.
AS Butuh 2 Jam 28 Menit untuk Culik Presiden Venezuela Maduro
AS membutuhkan waktu dua jam 28 menit untuk menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1) dini hari. Meski begitu, strategisnya direncanakan selama berbulan-bulan.
Kunci keberhasilan operasi yang diberi nama ;Operasi Absolute Resolve’ yakni kerja sama CIA dan badan intelijen AS lainnya. Sejak awal Agustus, tim memantau pola hidup Maduro.
“Ini untuk memahami bagaimana ia bergerak, di mana ia tinggal, ke mana ia bepergian, apa yang ia makan, apa yang ia kenakan, dan apa saja hewan peliharaannya,” kata Ketua Kepala Staf Gabungan AS Letnan Jenderal Dan Caine, dikutip dari The Guardian, Minggu (4/1).
Drone mata-mata menjadi bagian dari cara CIA memantau Maduro. Mereka juga memiliki sumber informasi manusia di dalam pemerintahan Venezuela.
Selain itu, sebanyak seperempat dari seluruh kapal perang Angkatan Laut AS telah berada di Karibia sejak November 2025, diperkuat oleh kedatangan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, dengan sekitar 4.000 pelaut dan awak pesawat di dalamnya.
Namun terlepas dari pengerahan pasukan di dekat Maduro, pada malam operasi, tujuan militer AS yakni mencapai kejutan taktis dan dominasi udara. Langkah pertama yang dilakukan yakni membersihkan koridor udara, dengan menghancurkan penerbangan dan pertahanan udara Venezuela.
Pangkalan udara dan pusat komunikasi dibom, kemungkinan oleh rudal jelajah Tomahawk dan senjata anti-radiasi AGM-88 Harm, yang dirancang khusus untuk mendeteksi dan menghancurkan sistem pertahanan udara.
Ada juga laporan tentang jet tempur F-35 yang membom pesawat tempur Venezuela di landasan, setelah pertahanan udara berhasil dilumpuhkan. Secara total, lebih dari 150 pesawat AS terlibat dalam serangan malam itu.
