Bukan Lagi Jawa, Pemerintah Bidik Bitung Jadi Industri Pusat Data Nasional

Rahayu Subekti
24 Juni 2026, 16:57
Bitung, data center
ANTARA FOTO/Adwit B Pramono/wsj.
Kendaraan melintas di gerbang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung di Bitung, Sulawesi Utara, Jumat (17/7/2020).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah mulai melirik kawasan timur Indonesia sebagai pusat pertumbuhan baru industri pusat data. Tak lagi hanya berfokus di Pulau Jawa, pemerintah kini membidik Kota Bitung, Sulawesi Utara sebagai calon hub data center yang dapat melayani pasar Asia Pasifik.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Bitung memiliki posisi strategis yang belum banyak dimanfaatkan dalam peta infrastruktur digital nasional. Salah satu keunggulannya adalah keberadaan titik pendaratan kabel bawah laut internasional yang dapat menghubungkan Indonesia dengan berbagai pusat ekonomi digital dunia.

"Landing point yang belum tersentuh itu sebetulnya ada di Sulawesi Utara, di Bitung. Jadi itu kesempatan yang besar sebetulnya, karena dari Bitung itu dia ke Hawaii sama bisa ke utara," kata Airlangga dalam peringatan 1 Dekade Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), di Jakarta, Selasa (24/6).

Menurutnya, lokasi tersebut berpotensi menjadi gerbang baru konektivitas digital Indonesia yang tidak hanya melayani kawasan ASEAN, tetapi juga pasar yang lebih luas seperti Hong Kong, Cina hingga Amerika Serikat.

“Jadi itu juga satu potensi besar ada di Sulawesi Utara, Bitung. Karena di sana kan ada juga geotermal, ada juga renewable yang lain, termasuk untuk pengembangan energi surya. Jadi supaya kita tidak bisa memacu dengan cepat, daerah itu bisa kita manfaatkan,” ujarnya.

Selain posisi geografis yang strategis, Airlangga menilai Bitung memiliki keunggulan lain berupa ketersediaan sumber energi terbarukan yang dapat menopang operasional data center dalam jangka panjang.

Menurutnya, kawasan Sulawesi Utara memiliki potensi panas bumi atau geotermal yang besar. Selain itu, peluang pengembangan energi surya yang dapat menjadi daya tarik tambahan bagi investor global yang kini semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Alternatif Baru di Tengah Padatnya Jawa

Selama ini mayoritas investasi pusat data terkonsentrasi di Pulau Jawa, khususnya Jakarta dan wilayah penyangganya. Faktor ketersediaan infrastruktur listrik, jaringan telekomunikasi, serta keberadaan tenaga kerja terampil menjadi alasan utama investor memilih Jawa sebagai lokasi pembangunan pusat data.

Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan Pulau Jawa masih menjadi lokasi favorit industri pusat data saat ini.

"Memang rata-rata di Pulau Jawa karena transmisi Jamali (Jawa-Madura-Bali), kemudian juga pool of talent-nya. Di sini masih mudah mendapatkan teknisi dan engineer untuk bekerja di industri data center," ujarnya.

Karena itu, IDPRo juga tengah mendorong pemerintah untuk memperluas investasi pusat data di Indonesia bagian timur. Hal ini khususnya di Bitung yang menurutnya juga sangat strategis.

“Ini yang sedang kita dorong, makanya ada diskusi dengan Kemenko Perekonomian bahwa di daerah Bitung ada kabel bawah laut yang bisa terhubung ke Hong Kong atau ke pantai barat Amerika lewat Guam,” katanya.

Komdigi Siapkan Rencana Induk Pembangunan Pusat Data

Hal ini juga sejalan dengan Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi mendorong pembangunan pusat data di Indonesia Timur sebagai bentuk pemerataan agar pembangunan pusat data tidak terfokus di Indonesia bagian Barat.

“Kami pertimbangkan ke depan bagaimana pusat data bukan lagi sekadar fasilitas penyimpanan data, tetapi telah menjadi tulang punggung ekonomi digital dan fondasi utama bagi pengembangan kecerdasan buatan atau AI,” kata Dirjen Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto usai menghadiri acara Indotelko Forum, di Jakarta, Rabu (29/4).

Wayan mengatakan, saat ini kebutuhan akan komputasi skala besar, penyimpanan data masif, serta integrasi dengan cloud dan edge computing akan terus meningkat. Oleh karena itu, arah kebijakan Kementerian Komdigi ke depan adalah memperkuat ekosistem pusat data nasional sebagai aset digital strategis.

“Ini untuk mendorong kedaulatan data dengan tetap membuka ruang investasi, serta memastikan pengembangan data center yang efisien dan berkelanjutan melalui konsep Green Data Center,” ujarnya.

Ia memastikan Kementerian Komdigi juga menyiapkan master plan untuk pembangunan pusat data dari swasta. Dengan begitu, pembangunan pusat data tidak hanya terpusat di satu wilayah saja.

“Kami akan mencoba mengupayakan agar data center tidak hanya di Barat, tapi juga ada wilayah-wilayah Timur,” kata Wayan. Untuk menyiapkan master plan itu, Kementerian Komdigi juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan. Pasalnya, saat ini Kementerian Komdigi belum memiliki kebijakan untuk mengeluarkan izin yang sifatnya khusus untuk pembangunan pusat data.

“Sekarang (perizinan) data center untuk kebutuhan listrik ke PLN, nanti air ke KLH (Kementerian Lingkungan Hidup), kemudian gedung itu IMB,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...