Kemampuan Model AI Cina Zhipu DeepSeek Makin Setara ChatGPT tapi Lebih Murah

Rahayu Subekti
29 Juni 2026, 07:20
Cina, DeepSeek, openai, chatgpt, Zhipu AI
ChatGPT, Katadata/Desy Setyowati
Ilustrasi Zhipu AI
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perusahaan kecerdasan buatan (AI) asal Cina, DeepSeek, meluncurkan model AI Zhipu GLM 5.2. Model open source ini disebut memiliki kemampuan yang hampir menyamai model AI terbaru milik OpenAI maupun Anthropic, tetapi dengan biaya operasional yang jauh lebih rendah.

Dikutip dari CNBC Internasional, GLM 5.2 mencatatkan performa yang hanya terpaut sekitar satu poin persentase dari Opus 4.8 milik Anthropic pada salah satu tolok ukur (benchmark) yang mengukur kemampuan AI menjalankan tugas secara mandiri atau agentic.

Berdasarkan hasil pengujian yang dipublikasikan Z.ai, GLM 5.2 tidak hanya mendekati Opus 4.8 milik Anthropic, tetapi juga mencatat skor sedikit lebih tinggi dibandingkan GPT-5.5 milik OpenAI pada benchmark FrontierSWE untuk tugas rekayasa perangkat lunak jangka panjang

Biaya penggunaan model AI Cina itu juga diperkirakan hanya sekitar seperlima dibandingkan model pesaing.

Peluncuran GLM 5.2 disebut memicu antusiasme yang mengingatkan pada saat DeepSeek pertama kali meluncurkan model AI-nya tahun lalu.

Model AI baru ini berhasil melampaui model open source lain yang telah tersedia di pasar. Berbeda dengan model DeepSeek sebelumnya yang lebih dikenal sebagai chatbot, GLM 5.2 dirancang untuk menangani pekerjaan yang lebih kompleks, seperti menyusun perencanaan, menulis kode pemrograman, melakukan pengujian (testing), hingga menjalankan proses kerja secara berulang (looping). Kemampuan tersebut menjadi salah satu fokus perusahaan yang tengah mengadopsi AI untuk mengotomatisasi berbagai proses bisnis.

Minat pengembang terhadap model ini juga meningkat. Lalu lintas token GLM 5.2 melalui platform OpenRouter disebut tumbuh lebih cepat dibandingkan ketika DeepSeek merilis model V4 pada April lalu.

Kemunculan GLM 5.2 terjadi ketika banyak perusahaan mulai menghadapi lonjakan biaya penggunaan AI. Pengeluaran untuk token, satuan yang digunakan untuk mengukur data yang diproses maupun dihasilkan model AI, menjadi semakin besar seiring meningkatnya pemanfaatan AI.

Dalam kondisi tersebut, perusahaan kini lebih memperhatikan efisiensi biaya dibandingkan hanya mengejar kemampuan model AI. CNBC Internasional menyebut metrik yang kini semakin penting adalah intelligence per dollar, yaitu kemampuan AI yang diperoleh untuk setiap dolar yang dikeluarkan. Model seperti GLM 5.2 dinilai menarik karena menawarkan performa tinggi dengan biaya yang lebih rendah.

"Saya terus terkejut melihat seberapa cepat model open source mampu mengejar ketertinggalannya," kata salah satu pendiri Harvey, Gabe Pereyra, dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (28/6).

Menurutnya, GLM 5.2 menjadi salah satu model open source pertama yang benar-benar mampu bersaing dengan model AI tertutup (closed source) terdepan.

Kemunculan GLM 5.2 Cina juga dinilai menunjukkan semakin kuatnya posisi AI open source. Model ini dapat diunduh secara gratis, disesuaikan (fine-tune), dan dijalankan di server milik perusahaan sendiri.

Kondisi itu terjadi ketika akses terhadap sejumlah model AI tertutup menghadapi ketidakpastian. Anthropic harus menarik model Fable Mythos-class setelah adanya perintah dari pemerintahan Presiden Donald Trump. Sementara itu, OpenAI mengumumkan pada Jumat (26/6), bahwa akses terhadap model GPT-5.6 dibatasi menyusul permintaan dari pemerintah.

Pengawasan pemerintah AS itu membuat model AI open source yang dapat dijalankan sendiri oleh pengguna, seperti buatan DeepSeek Cina, menjadi semakin menarik karena aksesnya tidak bergantung pada keputusan penyedia layanan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...