Indonesia Berpeluang Raup Rp 6.612 Triliun dari AI tapi SDM Jadi Kendala
Pemerataan infrastruktur dan aktivitas ekonomi digital di berbagai daerah tercatat meningkat. Namun, laporan East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 menyoroti tantangan mendesak: kualitas talenta digital yang belum berkembang secepat laju transformasi digital.
Laporan yang disusun East Ventures bersama Katadata Insight Center menyebutkan AI berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia hingga 12% atau sekitar US$ 366 miliar atau Rp 6.612 triliun (kurs Rp 18.065 per US$) apabila didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengembangkan dan memanfaatkan teknologi tersebut.
Meski demikian, belanja riset dan pengembangan (R&D) Indonesia masih sekitar 0,3% dari PDB, jauh di bawah negara-negara pemimpin AI.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa di tengah perbaikan pada hampir seluruh indikator digital, pilar sumber daya manusia (SDM) menjadi satu-satunya komponen yang mengalami penurunan pada EV-DCI 2026, yakni 2,5 poin. Temuan ini menunjukkan pembangunan infrastruktur digital belum diimbangi oleh kesiapan talenta yang mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.
Penilaian terhadap pilar SDM mencakup jumlah mahasiswa, dosen, program studi di bidang digital, hingga indeks literasi digital. Kondisi ini menunjukkan akses terhadap teknologi berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat untuk memanfaatkannya secara produktif.
Selain itu, kesenjangan kapasitas SDM digital antarwilayah masih lebar. EV-DCI 2026 mencatat skor SDM digital di Pulau Jawa sekitar 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan Sumatra dan Kalimantan, serta hampir tiga kali dibandingkan Maluku dan Papua. Di Indonesia Timur, tantangan utama bukan lagi ketersediaan tenaga kerja, melainkan penguatan kompetensi digital yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Padahal, kebutuhan talenta digital terus meningkat seiring pesatnya pemanfaatan teknologi di Indonesia. Jumlah pengguna internet telah mencapai 229,4 juta jiwa, diikuti meningkatnya aktivitas ekonomi digital.
Penggunaan media sosial sebagai sarana penjualan oleh pelaku usaha naik 20,7 poin, sementara sektor jasa keuangan tumbuh 7,9%, mencerminkan semakin dalamnya inklusi keuangan digital.
Indonesia juga termasuk dalam sepuluh negara dengan jumlah pengguna AI generatif terbesar di dunia.
Secara keseluruhan, EV-DCI 2026 menunjukkan transformasi digital Indonesia terus mengalami kemajuan. Sebanyak 37 dari 38 provinsi mencatat kenaikan skor daya saing digital dan 47 dari 50 indikator penyusun indeks mengalami perbaikan. Median skor EV-DCI meningkat dari 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2020, rata-rata skor daya saing digital provinsi telah meningkat lebih dari 50%.
Meski demikian, kesenjangan antarwilayah masih menjadi tantangan. EV-DCI mencatat selisih skor hampir 60 poin antara provinsi dengan daya saing digital tertinggi dan terendah, menunjukkan daerah yang telah maju masih tumbuh lebih cepat dibandingkan wilayah yang tertinggal.
CEO MySkill Angga Fauzan mengatakan tantangan utama bukan hanya penguasaan teknologi, tetapi juga pemerataan akses informasi dan kemampuan menerjemahkan perkembangan teknologi menjadi pengetahuan yang mudah dipahami masyarakat.
"Salah satu tantangannya adalah belum meratanya penyebaran informasi tentang teknologi terbaru. Selain itu, menerjemahkan teknologi yang terus berubah menjadi informasi yang mudah dipahami dan praktikal bagi masyarakat juga masih menjadi tantangan besar," kata Angga dalam keterangan pers, Kamis (15/7).
Ia menambahkan kesenjangan keterampilan (skill gap) antara lulusan pendidikan formal dan kebutuhan industri juga dipengaruhi lambatnya adaptasi kurikulum terhadap perubahan dunia kerja. Menurutnya, bootcamp dan platform edutech dapat menjadi jembatan yang lebih adaptif dalam membekali talenta dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri.
Sementara itu, Partner East Ventures Melisa Irene menilai Indonesia telah membangun fondasi digital yang kuat. Tantangan berikutnya yakni memastikan pengembangan talenta berjalan seiring dengan laju inovasi teknologi melalui kolaborasi pemerintah, dunia pendidikan, dan industri untuk mempercepat upskilling dan reskilling, memperkuat kompetensi AI, serta menyiapkan SDM yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
"Dengan talenta yang kompetitif, Indonesia tidak hanya dapat menjadi pasar bagi teknologi digital, tetapi juga melahirkan inovasi yang mampu bersaing di tingkat global," ujar Melisa.
