Komdigi Kejar Perluasan Broadband untuk Dukung Program 3 Juta Rumah
Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi menegaskan pembangunan infrastruktur digital akan berjalan seiring dengan program tiga juta rumah. Perluasan jaringan internet berkecepatan tinggi, termasuk fixed broadband, menjadi salah satu fokus yang dikejar agar kawasan hunian baru tidak hanya layak secara fisik, tetapi juga terhubung secara digital.
Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan setiap kawasan hunian baru harus didukung akses internet yang memadai. Dengan begitu, masyarakat dapat memanfaatkan berbagai layanan digital, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga layanan pemerintahan.
"Program pembangunan rumah rakyat harus diikuti dengan hadirnya konektivitas digital. Kami pastikan konektivitas aman di hunian baru," kata Meutya dalam pernyataan tertulis, Jumat (31/7).
Pernyataan tersebut disampaikan saat Meutya mendampingi Presiden Prabowo Subianto meresmikan pelaksanaan massal akad Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi di 165 titik yang tersebar di 372 kabupaten dan kota di 36 provinsi. Kegiatan itu merupakan bagian dari program tiga juta rumah yang ditujukan untuk memperluas akses kepemilikan rumah layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah alias MBR.
Menurutnya, rumah layak huni di era digital tidak lagi hanya membutuhkan infrastruktur dasar seperti listrik, air bersih, dan akses jalan. Ketersediaan konektivitas internet juga menjadi kebutuhan penting agar masyarakat dapat belajar, bekerja, berusaha, dan memperoleh layanan publik secara digital.
"Setiap kawasan hunian baru harus disiapkan menjadi kawasan yang terhubung. Ketika keluarga menempati rumah baru, mereka juga harus memiliki akses untuk belajar, bekerja, berusaha, dan mengakses layanan publik secara digital," katanya.
Ia memastikan Kementerian Komdigi akan terus memperluas jaringan internet berkecepatan tinggi agar pembangunan perumahan berjalan selaras dengan pembangunan infrastruktur digital nasional. Saat ini, cakupan layanan 4G di kawasan permukiman Indonesia mencapai sekitar 97,45%.
Meutya menilai penyediaan internet di kawasan hunian baru akan membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat. Selain mendukung pola kerja jarak jauh, konektivitas digital juga dinilai dapat mendorong pengembangan UMKM berbasis rumah, mempermudah akses layanan kesehatan digital, serta memperluas pemanfaatan layanan pemerintah secara daring.
"Pembangunan fisik dan pembangunan digital harus berjalan bersama sehingga setiap keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang," ujarnya.
Indonesia Belajar dari India
Presiden Prabowo mengatakan pemerintah tengah mempelajari pengalaman India yang berhasil membangun 40 juta rumah dalam kurun 12 tahun. Ini menjadi salah satu referensi untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan perumahan di Indonesia.
"Saya tertarik pada pengalaman bangsa India. Mereka mampu membangun 40 juta rumah dalam 12 tahun, atau kira-kira 3 juta rumah setiap tahun. Ini sedang saya pelajari, bagaimana caranya. Ada teknik-teknik tertentu, dan ini bisa kita coba," kata Prabowo dalam pidatonya pada acara akad massal KPR Sejahtera melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di Batang, Jawa Tengah, dikutip dari Antara, Kamis (30/7).
Prabowo mengatakan capaian pembangunan perumahan yang telah diraih pemerintah patut diapresiasi. Namun kebutuhan rumah bagi masyarakat masih sangat besar sehingga diperlukan langkah-langkah yang lebih inovatif.
Prabowo mengatakan metode pembangunan yang selama ini telah terbukti efektif tetap akan dilanjutkan. Namun, ia menilai Indonesia juga harus memiliki keberanian untuk berpikir lebih terbuka, belajar dari negara lain, mengambil risiko, serta mencari inovasi dan terobosan dalam pembangunan.
"Kita akan belajar dari pengalaman beberapa negara. Kalau bangsa kita mau bangkit dan bertransformasi, kita tidak boleh malu untuk belajar dari siapa pun," ujarnya.
Prabowo mengatakan Indonesia menghadapi tantangan yang besar seiring besarnya jumlah penduduk dan berbagai persoalan pembangunan.
