Telkom, Indosat, hingga DCI Indonesia Berebut Cuan dari Ledakan Data Center

Rahayu Subekti
24 Agustus 2026, 15:15
data center, Indonesia, TLKM, ISAT, DCII
ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/tom.
Foto udara pembangunan data center di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (6/8/2025).

Zankore merencanakan fase pertama AI Factory berkapasitas 200 MW dan berpotensi meningkat hingga 1 GW dalam tiga tahun. Pembangunan fase awal AI Factory direncanakan akan dilakukan pada apruh pertama 2027 dengan kapasitas awal sekitar 200 megawatt (MW).

BRI Danareksa memperkirakan porsi ISAT di Zankore dapat memberikan nilai tambahan yang signifikan bagi perseroan.

Berdasarkan perhitungan BRI Danareksa, dengan asumsi valuasi Zankore lima kali EV/EBITDA, nilai kepemilikan 30% ISAT diperkirakan mencapai Rp 28,7 triliun. Perhitungan tersebut berpotensi meningkatkan target harga saham ISAT dari Rp 2.500 menjadi sekitar Rp 3.350 per saham.

DSSA Masuk ke Hyperscale AI

Sementara itu, Dian Swastatika Sentosa juga membangun pijakan di bisnis data center melalui SM+.

DSSA saat ini mengoperasikan 24 data center edge di Indonesia dengan total kapasitas 10 MW. Perusahaan kemudian mengembangkan SMX01, fasilitas hyperscale di Jakarta melalui usaha patungan dengan LG.

Proyek tersebut memiliki nilai investasi sekitar US$ 300 juta atau Rp 5,31 triliun. Tahap pertama dirancang dengan kapasitas IT 18 MW dan dapat ditingkatkan hingga 60 MW. SMX01 juga diposisikan sebagai fasilitas yang siap mendukung beban kerja AI, antara lain melalui teknologi liquid cooling dan desain Tier IV.

Dengan proyek tersebut, DSSA tidak hanya mengandalkan bisnis edge data center yang sudah berjalan, tetapi mulai masuk ke segmen hyperscale dengan kebutuhan komputasi yang lebih tinggi.

 

Adu Cepat Mengubah Pipeline Jadi Bisnis

Persamaan dari keempat perusahaan tersebut adalah adanya ruang ekspansi yang masih besar. Namun, tingkat kematangan bisnisnya berbeda.

DCII telah memiliki basis kapasitas operasional terbesar sebagai pemain pure-play. TLKM memiliki aset data center yang terhubung dengan bisnis telekomunikasinya dan sedang menyiapkan ekspansi NeutraDC.

Sementara itu, ISAT mengembangkan kombinasi infrastruktur data center dan bisnis AI. Sedangkan DSSA memperbesar eksposur melalui pembangunan fasilitas hyperscale yang dirancang untuk kebutuhan AI.

Perbedaan strategi tersebut membuat persaingan ke depan bukan hanya soal siapa yang memiliki proyek paling besar. Kemampuan mengisi kapasitas, mendapatkan pelanggan, menyediakan pembiayaan dan mengoperasikan fasilitas secara efisien juga akan menentukan seberapa cepat investasi pusat data berubah menjadi sumber pendapatan.

“Kami memandang perusahaan-perusahaan ini masih berada pada tahap awal siklus pertumbuhan pusat data mereka, dengan rencana penambahan kapasitas yang substansial yang memberikan ruang luas untuk ekspansi di masa depan,” kata tim analis BRI Danareksa Sekuritas.

BRI Danareksa menilai Indonesia berpeluang untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai industri data center regional. Namun, peluang tersebut tidak tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia.

BRI Danareksa mencatat Jakarta masih menjadi pusat utama data center Indonesia. Sekitar 55% kapasitas terpasang nasional masih berada di Jakarta.

Berikut pipeline data center Asia Tenggara pada semester I 2026 berdasarkan data Cushman & Wakefield yang dikutip dalam riset BRI Danareksa:

Singapura

  • Pasar utama: Singapura
  • Kapasitas data center yang sudah beroperasi: 1.043 MW
  • Kapasitas dalam pembangunan (under construction/U/C): 20 MW
  • Kapasitas yang masih direncanakan: 237 MW

Malaysia

  • Pasar utama: Johor
  • Kapasitas data center yang sudah beroperasi: 1.110 MW
  • Kapasitas dalam pembangunan: 602 MW
  • Kapasitas yang masih direncanakan: 3.088 MW

Indonesia

  • Pasar utama: Jakarta
  • Kapasitas data center yang sudah beroperasi: 322 MW
  • Kapasitas dalam pembangunan: 395 MW
  • Kapasitas yang masih direncanakan: 1.699 MW

Thailand

  • Pasar utama: Bangkok
  • Kapasitas data center yang sudah beroperasi: 134 MW
  • Kapasitas dalam pembangunan: 895 MW
  • Kapasitas yang masih direncanakan: 2.084 MW

Riset tersebut menyebutkan Jakarta lebih banyak ditopang permintaan domestik. Sementara itu, Batam diposisikan sebagai bagian dari limpahan data center regional, terutama karena kedekatannya dengan Singapura dan akses terhadap konektivitas kabel bawah laut.

Di Batam, 71% komposisi pasar data center merupakan hyperscale. Sebagian besar kapasitas tersebut dikembangkan oleh operator swasta dan asing. Beberapa pemain yang tercatat antara lain DayOne, BW Digital, Princeton Digital Group, Global Data Centre, dan Racks Central.

Bahkan, sejumlah proyek di Batam mulai diarahkan untuk memenuhi kebutuhan AI. DayOne, misalnya, memiliki rencana pembangunan fasilitas berkapasitas 450 MW di Kabil yang disebut berorientasi pada kebutuhan AI compute.

 

Halaman:
add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...