OpenAI hingga Google Peringatkan Risiko Serangan Siber AI Makin Dekat

Rahayu Subekti
1 September 2026, 18:50
OpenAI, risiko serangan siber, AI, Bill Gates
Katadata
Ilustrasi risiko siber
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

OpenAI bersama lebih dari 100 perusahaan teknologi dan keamanan siber memperingatkan serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) akan semakin meluas dan canggih dalam beberapa bulan ke depan. Mereka menilai dunia memiliki waktu terbatas untuk memperkuat pertahanan sebelum kemampuan AI semakin banyak dimanfaatkan untuk menyerang.

“Kita memiliki waktu yang terbatas untuk memperkuat pertahanan siber,” demikian tertulis dalam surat terbuka bertajuk A Call for Collective Action on Cyber Defense yang dipublikasikan di situs resmi OpenAI, dikutip Selasa (1/9).

Surat itu ditandatangani oleh ratusan organisasi dari sektor teknologi, keamanan siber, keuangan, telekomunikasi, hingga infrastruktur, termasuk Google, Microsoft, Amazon Web Services (AWS), Anthropic, Cisco, Cloudflare, CrowdStrike, Nokia, Visa, Mastercard, Oracle, Palo Alto Networks, hingga OpenAI.

Jendela waktu yang terbatas disebut tersedia untuk memperkuat pertahanan siber. OpenAI dan para penandatangan memperkirakan dalam beberapa bulan mendatang serangan siber yang didukung AI akan menjadi jauh lebih luas dan canggih seiring kemampuan model AI di berbagai negara terus berkembang.

Mereka juga memperingatkan bahwa ancaman tersebut tidak hanya menyasar perusahaan teknologi. Layanan yang menjadi tumpuan masyarakat, mulai dari rumah sakit, fasilitas pengolahan air, hingga infrastruktur yang menopang internet, juga berada dalam risiko.

Peringatan OpenAI tersebut sejalan dengan kekhawatiran Bill Gates mengenai perkembangan AI. Dalam tulisan di Gates Notes bertajuk The Turbulent AI Era is Here, Gates mengatakan kemampuan AI mulai digunakan untuk serangan siber.

“Para ahli keamanan siber paling cerdas yang saya kenal merasa khawatir akan situasi beberapa tahun ke depan, karena pihak penyerang memperoleh kemampuan baru yang ampuh lebih cepat daripada kemampuan pihak pertahanan dalam memperbaiki segala celah kerentanan,” tulis Gates.

Gates menilai persoalan tersebut muncul karena AI dapat digunakan di dua sisi. Model yang sama yang dapat membantu perusahaan menemukan kelemahan perangkat lunak untuk kemudian diperbaiki juga dapat membantu pelaku kejahatan mengeksploitasi kelemahan tersebut.

Selain itu, Gates menyatakan sumber daya yang diperlukan untuk melakukan serangan juga disebut semakin rendah. Sementara saat ini banyak pihak belum mampu memisahkan kemampuan tersebut dari penggunaan yang bersifat wajar atau tidak berbahaya.

Gates bahkan memperingatkan bahwa pelaku dengan kemampuan terbatas dapat menggunakan AI untuk menargetkan individu, perusahaan, hingga pemerintah. Perlombaan tersebut membuat persoalan keamanan siber menjadi semakin mendesak.

Rumah Sakit hingga Jaringan Listrik Terancam

Risiko tersebut juga menyentuh infrastruktur yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan masyarakat.

Gates menyebut rumah sakit, institusi keuangan, sistem air, jaringan listrik, serta sistem yang digunakan pemerintah untuk menyalurkan bantuan sebagai sejumlah infrastruktur yang dapat menjadi sasaran serangan berbasis AI.

“Ketika institusi-institusi ini diserang, pihak yang akan dirugikan adalah pasien, pelanggan, dan penerima manfaat,” kata Gates, dalam catatannya.

Sementara itu, OpenAI dan para penandatangan surat terbuka secara khusus menyoroti rumah sakit, fasilitas pengolahan air, dan infrastruktur yang menopang internet sebagai layanan yang perlu mendapatkan perlindungan lebih kuat.

Keduanya memiliki kekhawatiran yang serupa, yakni AI dapat memperbesar kemampuan serangan pada saat sebagian infrastruktur penting masih memiliki kelemahan lama.

“Kemajuan AI saat ini telah memberikan cara-cara baru bagi pihak pertahanan untuk mengatasi kelemahan yang telah menumpuk selama bertahun-tahun. Jika kita bertindak secara tegas, kita dapat memanfaatkan momentum bagi pihak pertahanan ini untuk menjadikan dunia digital kita jauh lebih aman,” tulis surat terbuka yang dipublikasi OpenAI.

OpenAI juga menyebut sejumlah persoalan seperti bug yang belum diperbaiki, kesalahan konfigurasi, perangkat lunak yang tidak aman atau belum diperbarui, autentikasi yang lemah, pemberian hak akses berlebihan, serta technical debt pada sistem lama. Tim keamanan siber, khususnya yang melindungi infrastruktur kritis, juga dinilai selama ini kekurangan sumber daya.

AI Lawan AI

Meski memperingatkan ancaman, OpenAI dan perusahaan yang ikut menandatangani surat tersebut tidak menyerukan pembatasan penggunaan AI untuk keamanan siber. Sebaliknya, mereka mendorong agar kemampuan AI digunakan lebih agresif oleh pihak yang bertugas mempertahankan sistem.

AI dinilai dapat membantu lebih banyak tim keamanan memperoleh kemampuan khusus, sekaligus membuat pekerjaan keamanan siber menjadi lebih cepat, murah, dan efektif. Perusahaan juga mendorong penggunaan AI untuk menguji pertahanan secara terus-menerus terhadap kemampuan serangan siber terbaru.

“Berdayakan lebih banyak pihak pertahanan dengan AI yang memiliki kapabilitas siber,” tulis surat terbuka tersebut.

Mereka mengusulkan agar perusahaan keamanan dan penyedia teknologi memperluas akses terhadap AI pertahanan, terutama bagi operator infrastruktur kritis yang memiliki keterbatasan anggaran dan sumber daya.

Informasi mengenai ancaman, alat keamanan, serta perbaikan yang telah teruji juga didorong untuk dibagikan agar satu organisasi tidak harus menghadapi ancaman secara sendiri-sendiri.

OpenAI dan para penandatangan juga meminta pemerintah meningkatkan koordinasi pertahanan siber di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Pemerintah didorong memperkuat pertukaran informasi mengenai ancaman, memprioritaskan risiko paling serius, serta mengoordinasikan respons dan pemulihan ketika terjadi serangan.

Pemerintah juga diminta mendanai pertahanan siber, terutama untuk layanan penting yang tidak memiliki cukup staf maupun anggaran. Rumah sakit, perusahaan utilitas air, dan pemerintah daerah disebut perlu memperoleh akses terhadap AI pertahanan, pengujian keamanan yang terotorisasi, serta dukungan teknis.

Sementara perusahaan AI terdepan didorong menyediakan akses model secara bertanggung jawab, pendanaan, pelatihan, dan dukungan langsung kepada organisasi yang mengelola infrastruktur kritis tetapi memiliki sumber daya terbatas.

 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...