Trump Ajak Bos ChatGPT, Nvidia, Instagram Makan Malam Bersama Xi Jinping
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut mengajak CEO OpenAI Sam Altman, CEO Nvidia Jensen Huang, dan CEO Meta Mark Zuckerberg untuk menghadiri jamuan makan malam kenegaraan dengan Presiden Cina Xi Jinping minggu depan.
“Presiden Trump telah mengundang beberapa pemimpin bisnis besar Amerika Serikat ke acara makan malam bersama Presiden Xi karena dia akan selalu memprioritaskan pembuatan kesepakatan yang menguntungkan bagi negara kita,” kata seorang pejabat Gedung Putih dalam pernyataan pers, dikutip dari CNBC Internasional, Kamis (17/9).
Kehadiran CEO ChatGPT Sam Altman menjadi perdebatan, lantaran ia merupakan salah satu yang mendukung seruan perlambatan pengembangan akal imitasi atau AI. Seruan ini disampaikan oleh CEO Anthropic Dario Amodei, kemudian didukung Sam Altman dan CEO SpaceX Elon Musk.
Sementara Jensen Huang, ditelepon Trump saat menjadi pembicara dalam acara All-In Summit di Los Angeles, Senin (14/9). CEO Nvidia ini kemudian menyalakan pengeras suara agar percakapan itu dapat didengar oleh peserta acara.
Dalam percakapan sekitar lima menit itu, Trump menyebut penolakan terhadap pembangunan data center dan pengereman pengembangan AI merupakan hoaks. Presiden AS itu menyebut seruan ini bisa menguntungkan Cina.
CNBC Internasional pun melaporkan, AI kemungkinan akan menjadi topik utama diskusi ketika Trump dan Xi Jinping bertemu, terutama karena model-model kecerdasan buatan Tiongkok semakin maju dalam kemampuannya dan mempersempit kesenjangan dengan AI di AS.
Sejumlah sumber Reuters pun menyebut, AS dan Tiongkok disebut berencana membahas risiko keselamatan AI terdepan. Isu ini dapat diangkat dalam pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Xi Jinping pada 24 September.
Cina Tuding AS Mulai Perang Dingin AI
Para bos teknologi Amerika Serikat, seperti Anthropic, OpenAI ChatGPT hingga SpaceX, menyerukan perlambatan pengembangan akal imitasi atau AI karena dinilai membahayakan umat manusia. Namun Cina menuding kampanye ini merupakan strategi ala perang dingin yang menargetkan mereka.
Para pembuat undang-undang AS juga telah mendesak diberlakukannya aturan baru untuk mengatur sistem AI setelah adanya peringatan keras dari dua peneliti Anthropic bahwa AI yang berkembang pesat dapat menyebabkan kepunahan umat manusia di masa depan yang tidak terlalu jauh.
Media yang didukung Pemerintah Cina, Global Times, menyampaikan bahwa agenda sebenarnya dari esai Amodei yakni upaya menghambat pengembangan AI Tiongkok melalui hambatan teknologi dan monopoli regulasi, mempertahankan hegemoni monopoli Washington dalam teknologi mutakhir, serta menyingkirkan Beijing dari sistem tata kelola AI global.
"'Perang Dingin AI diam-diam' ini munafik dan berpandangan pendek," tulis media tersebut, seraya menambahkan bahwa menyingkirkan Cina dari inovasi AI global akan secara signifikan meningkatkan biaya uji coba, serta risiko hilangnya kendali dalam pengembangan AI global.
Seruan untuk memperlambat pengembangan AI itu tertuang dalam esai karya CEO Anthropic, Dario Amodei, yang terbit pada Sabtu (13/9). Ia menguraikan kerangka kerja untuk mengatur laju pengembangan kemampuan model AI terdepan atau frontier AI. Rencana tiga langkah Amodei mencakup:
- Pelibatan evaluator independen yang memiliki akses setara karyawan untuk memverifikasi praktik keselamatan
- Koordinasi antarperusahaan AI terdepan untuk menetapkan standar keselamatan dan membatasi pengembangan AI yang tidak terkendali
- Kerja sama internasional untuk mengelola risiko AI
Ia juga mendorong tersedianya lebih banyak waktu guna mengelola risiko keselamatan yang kian meningkat.
Amodei menyoroti kemampuan AI yang kian meningkat untuk mengembangkan dirinya sendiri. Ia menggarisbawahi kekhawatiran lama mengenai potensi AI melampaui kemampuan manusia dalam mengendalikan operasional, serta insiden baru-baru ini yang melibatkan OpenAI dan Hugging Face, sebagai alasan utama perlunya mengerem laju kemajuan model AI.
Amodei juga mendesak AS untuk memperketat kontrol ekspor cip ke Cina dan menindak praktik yang diduga sebagai distilasi model oleh laboratorium AI Tiongkok. Sebab, menurut dia, akan sama saja hasilnya jika Negeri Panda dan negara-negara pesaing lainnya memilih untuk tidak melakukan hal serupa.
