Bos Nvidia Jensen Huang Jadi Sekutu Trump untuk Hadapi Polemik Bahaya AI
Seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai potensi bahaya yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersekutu dengan CEO Nvidia Jensen Huang untuk memperkuat posisinya dalam menyikapi polemik ini.
“Robot-robot itu tidak akan menguasai dunia,” ucap Trump kepada Huang dalam perbincangan di telepon pada acara All-In Summit di Los Angeles, Senin (14/9), seperti dikutip CNBC.
Dalam sesi telepon yang sama Trump turut mengulang pernyataannya di sosial media dan berkata bahwa kekhawatiran terkait penggunaan teknologi AI dan pusat-pusat data hanyalah omong kosong.
Di belakang jalinan komunikasi ini, sebelumnya Trump dan Huang memang sudah menjalin hubungan yang sangat baik. Menurut laporan CNBC, para ahli mengatakan Huang memiliki pengaruh yang sangat besar di Gedung Putih. Bahkan menurut sumber yang meminta untuk dirahasiakan namanya, Huang telah dijadwalkan untuk hadir dalam jamuan makan malam kenegaraan yang diselenggarakan Trump untuk Presiden Tiongkok Xi Jinping, pada pekan ini.
Selama ini Nvidia telah memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan teknologi AI. Bahkan, sebelum peluncuran ChatGPT pada akhir tahun 2022. Saat ini, Perusahaan teknologi tersebut menyuplai unit pemrosesan grafis yang digunakan oleh OpenAI, Anthropic, dan perusahaan lainnya untuk melatih model-model terbaru produk mereka, serta digunakan untuk menangani beban kerja yang kompleks.
Pada tahun fiskal terbaru, pendapatan Nvidia mencapai US$215 miliar atau Rp3.830,76 triliun (kurs Rp17.820 per dolar AS), naik US$17 miliar atau Rp302,9 triliun dibandingkan dengan pendapatan 2021.
Dengan posisinya sebagai pemimpin perusahaan terbesar di dunia sekaligus produsen cip yang memainkan peran penting di era ini menjadikan Huang sangat berpengaruh dan membuatnya dapat berbicara langsung dengan pemimpin-pemimpin negara mengenai berbagai topik terkait AI.
“Trump hanya menyukai orang-orang yang sukses dalam apa yang mereka lakukan. Jensen sangat pandai berbicara dengan cara yang dimengerti oleh Trump,” kata Samuel Hammond, Direktur Kebijakan AI di lembaga pemikir Foundation for American Innovation.
Sejak awal masa jabatan keduanya, Trump dan Huang telah tampil bersama setidaknya enam kali di depan umum. Mereka pernah pergi ke Arab Saudi dan Inggris, serta baru-baru ini ke Tiongkok menggunakan pesawat Kepresidenan AS.
Saat ini Huang sedang berupaya mendorong perkembangan teknologi AI di AS agar lebih berjalan cepat. Sementara itu, beberapa klien penting Nvidia, seperti OpenAI dan Anthropic, mendesak pemerintah untuk meregulasi teknologi kecerdasan buatan ini, seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai potensi bahaya yang ditimbulkan AI.
Jacob Coxon, yang sebelumnya bekerja di OpenAI, mengatakan ia mengundurkan diri awal bulan ini karena khawatir lembaga-lembaga penelitian kecerdasan buatan mereka sedang “mempertaruhkan nyawa umat manusia". Pengunduran diri Coxon memicu reaksi keras di sosial media, dan mendorong lebih dari 20 anggota Kongres untuk menuntut adanya pengawasan yang lebih ketat terkait perkembangan teknologi akal imitasi.
Sebelum kejadian Coxon, kekhawatiran mulai muncul ketika OpenAI mengungkapkan adanya insiden keamanan serius pada bulan Juli lalu. Dalam insiden itu, dua model buatan OpenAI berhasil “melarikan diri" dari sistem pengelolaanya, mengakses jaringan internet, dan membobol repository data AI milik Hugging Face.
Setelah insiden tersebut, CEO Anthropic Dario Amodei juga merespons dengan sebuah artikel yang mengejutkan seminggu lalu. Dalam artikel tersebut ia mendesak para pengembang AI untuk memperlambat laju pengembangan model AI mereka yang canggih.
Amodei juga mendorong perusahaan-perusahaan untuk bekerja sama secara langsung dengan pemerintah AS, dan menekankan pentingnya regulasi yang matang terkait penggunaan AI.
Usulan untuk mengerem pengembangan AI ini juga didukung pemimpin industri teknologi lainnya, termasuk Sam Altman, Elon Musk, serta Demis Hassabis yang memimpin Google Deepmind.
Tidak akan Menimbulkan Risiko Apapun
Berbeda dengan posisi pimpinan perusahaan sebelumnya, dalam polemik ini Huang cenderung optimistis dalam percepatan pengembangan AI. Dalam perjumpaan publik minggu lalu, ia mengatakan prediksi-prediksi negatif mengenai AI tidak didasarkan pada fakta ilmiah yang kuat. Menurutnya para pengembang model AI bertanggung jawab untuk memastikan keamanan produk mereka sebelum diluncurkan ke pasar.
Huang berujar solusi untuk masalah-masalah terkait keselamatan adalah pendekatan teknik berbasis model yang mengandalkan prinsip matematika, fisika, serta hukum dasar yang telah teruji selama ratusan tahun, atau good old-fashioned engineering.
“Ada beberapa insiden yang terjadi, tetapi untungnya, insiden-insiden tersebut tidak menimbulkan kerusakan apa-apa,” kata Huang
Pendapat Huang sebagian besar juga senada dengan David Sacks, seorang pengusaha ventura yang pernah menjabat sebagai kepala divisi kecerdasan buatan dan teknologi kripto di bawah kepemimpinan Trump.
Sacks juga dikenal salah satu pembawa acara podcast “All-In”. Acara podcast tersebut merupakan bagian dari acara yang diselenggarakan pada hari Senin (14/9) lalu, yang mencakup percakapan antara Trump dan Huang.
“Satu-satunya hal yang dapat mengendalikan atau ‘mengatur’ kecerdasan buatan tersebut adalah seorang presiden yang kuat dan cerdas (dengan IQ yang tinggi!). Amerika Serikat memiliki banyak sekali presiden seperti itu!” kata Trump dalam sebuah unggahannya di Truth Social pada hari yang sama dengan penyelenggaraan pertemuan tersebut.
Sebelum polemik ini membesar, Nvidia tengah sibuk menghadapi rencana pengendalian ekspor cip di Washington. Tahun lalu, Nvidia berusaha menjual cip AI-nya ke negara-negara yang memiliki keterbatasan tertentu, termasuk Tiongkok.
Tindakan ini menuai kritik keras dari legislator AS. Beberapa anggota Kongres, sebut saja Senator Elizabeth Warren dari Partai Demokrat asal Massachusetts, dan Josh Hawley dari Partai Republik asal Missouri, memeringatkan penjualan perangkat keras Nvidia kepada Tiongkok dapat mengancam keamanan nasional Amerika Serikat dan mengurangi keunggulan Amerika di bidang kecerdasan buatan.
Namun, pada akhirnya kritik tersebut hanya bermuara di media. Adapun Huang berhasil menjalankan rencananya untuk mengekspor cip ke Tiongkok. Pada bulan Desember 2025, Trump mengumumkan Nvidia telah mendapatkan izin untuk mengirimkan cip H200-nya kepada pelanggan di Tiongkok. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat akan memungut biaya sebesar 25% dari penjualan tersebut.
Dengan diabaikannya kritik dan peringatan sebelumnya, keputusan ini menjadi sangat kontroversial dalam pandangan politik maupun perdagangan AS.
Hanya Bermotif Keuntungan
Nvidia dan Huang berpendapat bahwa melarang ekspor produk Nvidia ke Tiongkok akan merugikan kepentingan Amerika Serikat. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa tindakan semacam itu akan mendorong ekonomi dan pasar komputasi terbesar kedua di dunia untuk mengembangkan chip AI canggih mereka sendiri. Saat ini H200 bukan lagi cip paling kuat milik Nvidia, karena Nvidia telah memasarkan dua generasi prosesor Blackwell yang lebih baru di Amerika Serikat.
Namun, nasib Nvidia tidak sepenuhnya berada di tangan para pembuat undang-undang di Amerika Serikat. Pihak berwenang di Tiongkok Lah yang sebenarnya menghalangi impor cip H200 tersebut.
Motif Nvidia untuk memperoleh keuntungan yang jelas membuat sejumlah pakar menilai bahwa Nvidia lebih serius memperhatikan kekhawatiran yang disampaikan oleh para pengembang model AI dibandingkan kekhawatiran dari perusahaan pembuat cip. Sebab, laboratorium atau perusahaan pengembang model AI-lah yang sebenarnya bertanggung jawab atas teknologi AI itu sendiri.
“Nvidia merupakan perusahaan yang paling agresif dalam hal mencari keuntungan, di setiap kesempatan, mereka selalu berusaha memastikan bahwa segala tindakan yang mereka lakukan tetap menguntungkan bagi Nvidia ” kata Andrew Yoon, seorang peneliti di CivAI, sebuah organisasi nirlaba yang memperingatkan akan bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan.
Ambisi Nvidia di Tiongkok akan menjadi topik pembicaraan utama saat jamuan makan malam Kenegaraan pada hari Kamis (24/9) nanti, ketika Trump, Huang, dan Xi berada di ruangan yang sama.
Menurut CNN, Gedung Putih juga berencana mengadakan pertemuan dengan para eksekutif utama di bidang kecerdasan buatan pada kesempatan tersebut. Para eksekutif industri lainnya, termasuk Altman, diperkirakan akan hadir pula.
Namun, kehadiran Huang memiliki arti yang penting. Selama sidang di DPR pada hari Senin, Menteri Keuangan Scott Bessent ditanya apakah Trump memahami ancaman yang ditimbulkan oleh teknologi AI.
“Saya hanya ingin mengatakan bahwa Presiden sepenuhnya sejalan dengan pendapat Jensen Huang, CEO Nvidia,” kata Bessent.
