IMF Peringatkan AI Mengancam Lapangan Kerja Anak Muda

Image title
Oleh Magang
13 Oktober 2026, 11:07
IMF, AI, lapangan kerja, anak muda
ANTARA FOTO/Media Center G20 Indonesia/M Risyal Hidayat/wsj/22.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan kecerdasan buatan (AI) mulai menekan pasar tenaga kerja global, terutama bagi lulusan baru yang tengah mencari pekerjaan pertama.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan kecerdasan buatan (AI) mulai menekan pasar tenaga kerja global, terutama bagi lulusan baru yang tengah mencari pekerjaan pertama.

Georgieva mengibaratkan dampak AI terhadap pasar tenaga kerja seperti “tsunami yang bergerak perlahan”. Menurut dia, anak muda menjadi kelompok yang paling rentan karena banyak pekerjaan tingkat pemula yang selama ini menjadi pintu masuk menuju karier profesional berpotensi tergantikan oleh teknologi.

“Orang-orang yang pertama-tama perlu dikhawatirkan adalah kaum muda yang memasuki pasar tenaga kerja,” kata Georgieva, dikutip dari CNBC International, Senin (12/10).

Ia menjelaskan, lulusan baru biasanya memulai karier melalui pekerjaan rutin dan berulang sebelum memperoleh kesempatan untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, otomatisasi pekerjaan tersebut berisiko mempersempit kesempatan mereka untuk mendapatkan pengalaman kerja awal.

Kekhawatiran serupa disampaikan Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam, yang turut menjabat sebagai ketua bersama Dewan Pekerjaan Bank Dunia. Ia mendorong pemerintah menjadikan program dukungan ketenagakerjaan yang diterapkan selama pandemi Covid-19 sebagai bagian dari kebijakan struktural untuk membantu anak muda memasuki dunia kerja.

Menurut Tharman, pemerintah perlu bekerja sama dengan sektor swasta dan memberikan insentif kepada perusahaan agar bersedia merekrut lulusan baru. Pasalnya, permintaan terhadap tenaga kerja untuk posisi awal karier mulai melemah.

“Jenjang pertama dalam pekerjaan, yakni pekerjaan pertama setelah lulus, kini mengalami penurunan permintaan,” ujarnya.

Peringatan tersebut menunjukkan pergeseran fokus pembuat kebijakan. Perdebatan mengenai apakah AI akan mengganggu pasar tenaga kerja mulai bergeser ke upaya mengurangi dampak perubahan tersebut terhadap pekerja.

Tantangan ini semakin besar di tengah penuaan penduduk, terutama di Asia, yang berpotensi mengurangi jumlah angkatan kerja. Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperkirakan sekitar 1,2 miliar anak muda akan mencapai usia 18 tahun dalam 15 tahun mendatang.

Sementara itu, sektor swasta yang selama ini menghasilkan sekitar 75 hingga 85% lapangan kerja di suatu negara harus menyerap sebagian besar angkatan kerja baru tersebut.

Banga mengatakan pemerintah perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan perusahaan memperluas perekrutan. Upaya itu dapat dilakukan melalui pembangunan infrastruktur, penyusunan kebijakan yang mendukung penciptaan lapangan kerja, serta pengurangan risiko investasi bagi sektor swasta.

“Modal swasta yang menciptakan lapangan kerja,” kata Banga.

IMF memperkirakan sekitar 40% pekerjaan di seluruh dunia pada akhirnya akan mengalami perubahan akibat AI, baik melalui peningkatan kemampuan pekerja, penurunan kebutuhan tenaga kerja, maupun penghapusan pekerjaan tertentu.

Paparan terhadap AI diperkirakan mencapai 60% di negara-negara maju, sementara di negara berpendapatan rendah angkanya sekitar 23%. Georgieva menegaskan, angka yang lebih rendah di negara miskin tidak berarti mereka lebih terlindungi, melainkan karena adopsi AI belum meluas.

Tekanan terhadap kesempatan kerja terlihat jelas di sektor teknologi. Tharman mengatakan permintaan terhadap lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam satu abad mengalami penurunan. Keunggulan upah yang biasanya dinikmati pemegang gelar sarjana juga mulai menyusut.

Menurut dia, tanpa kebijakan yang tepat, lulusan baru berisiko kehilangan lebih dari satu tahun kesempatan untuk mengembangkan keterampilan melalui pekerjaan. Situasi tersebut juga dapat mengikis kepercayaan generasi muda terhadap masa depan.

Di sisi lain, AI turut mendorong pertumbuhan ekonomi global melalui peningkatan investasi dan perdagangan terkait teknologi tersebut.
Georgieva mengatakan investasi dan perdagangan yang berkaitan dengan AI membantu menopang pertumbuhan di sejumlah negara. Faktor tersebut turut menjaga ekspansi ekonomi global mendekati 3 persen di tengah guncangan pasokan energi.

“Cintai, benci, atau takutlah terhadapnya. AI sudah hadir dan kita telah melihat gelombang pertama dampaknya,” ujar Georgieva.

Adopsi AI Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi tapi Tidak Otomatis Hasilkan Lebih Banyak Pekerjaan

Ia memperkirakan adopsi AI berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5 hingga 1 poin persentase di negara-negara Asia maju. Sementara itu, di negara berkembang Asia, peningkatannya diperkirakan mencapai 0,2 hingga 0,8 poin persentase.

Pada skenario dengan dampak tertinggi, pertumbuhan tambahan tersebut berpotensi mengimbangi kerugian ekonomi akibat penuaan penduduk.
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tidak otomatis menghasilkan lebih banyak pekerjaan. Tharman mencontohkan Cina, India, dan negara-negara berkembang di Asia Tenggara yang mencatat pertumbuhan ekonomi cukup baik, tetapi penciptaan lapangan kerjanya masih lemah.

Menurut dia, kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja berisiko semakin lebar apabila pemerintah tidak mengambil langkah antisipasi terhadap perkembangan AI.

Tharman menilai dampak AI terhadap pekerjaan akan berlangsung secara bertahap, sesuai dengan jenis tugas yang dapat diotomatisasi. Kondisi ini memberikan waktu bagi pemerintah, perusahaan, dan lembaga pendidikan untuk mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan tersebut.

Ia menekankan pentingnya kesempatan bagi pekerja untuk belajar sambil bekerja. Perguruan tinggi juga perlu mengarahkan pendidikan pada pelatihan terapan agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Di tengah perkembangan AI, tantangan pemerintah bukan sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut menghasilkan kesempatan kerja bagi generasi muda.

Kebijakan perekrutan lulusan baru, pelatihan keterampilan, dan kerja sama dengan sektor swasta menjadi sejumlah langkah yang disoroti para pembuat kebijakan untuk mengurangi risiko terganggunya jalur awal karier akibat otomatisasi.

Penulis: Reihan Cahya (Magang)

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...