Kapasitas Data Center RI Kalah dari Malaysia, Tertinggal Hampir 5 Kali Lipat
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria menyebut kapasitas data center Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 580 megawatt (MW). Apabila dibandingkan dengan kapasitas data center negara tetangga, Malaysia, yang mencapai 3 gigawatt (GW), Indonesia tertinggal jauh. Pemerintah menargetkan kapasitas data center Indonesia meningkat menjadi 1,3 GW pada 2027–2028.
“Angka 1,3 GW buat Indonesia itu masih terlalu kecil. Kalau sekarang dalam kondisi existing hari ini kita compare dengan Malaysia mereka punya 3 GW. Jadi kita belum sampai setengahnya dari apa yang dicapai oleh Malaysia,” kata Nezar dalam Bali Tech Week 2026 di Sanur, Bali, Kamis (22/10).
Padahal, jumlah penduduk Indonesia jauh lebih besar dari Malaysia dan terbesar di Asia Tenggara.
“Jadi kami perlu menata dan kemudian juga memberikan safeguard dalam pembangunan data center ini supaya dia bisa bertumbuh baik ke depannya,” ucap Nezar.
Indonesia tercatat memiliki 204 fasilitas data center pada September 2026, menjadikannya negara dengan jumlah pusat data terbanyak keempat di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Cina, India, dan Jepang.
Menurut DataCenterMap, Cina menempati posisi teratas dengan 376 fasilitas data center atau pusat data. India menyusul dengan 305 fasilitas, sedangkan Jepang memiliki 261 fasilitas.
Indonesia berada di urutan keempat dengan 204 fasilitas, sekaligus menjadi pasar data center terbesar di Asia Tenggara dalam daftar tersebut. Malaysia berada di posisi berikutnya dengan 125 fasilitas, disusul Korea Selatan sebanyak 105 fasilitas.
Adapun Amerika menempati posisi teratas dengan data center terbanyak di dunia sebanyak 4.767 fasilitas tercatat.
Dari sisi persebaran fasilitas pusat data di dalam negeri tersebar di 32 kota di Indonesia dan masih terkonsentrasi di Jakarta. Ibu kota tercatat memiliki 107 fasilitas, atau lebih dari separuh total pusat data nasional dalam daftar tersebut.
Ekspansi Data Center ke Indonesia Bagian Timur
Di samping itu pemerintah tengah menyiapkan langkah untuk memperluas pembangunan data center swasta ke Indonesia bagian timur, termasuk Sulawesi dan Kupang. Upaya ini bertujuan membuka peluang investasi infrastruktur digital yang selama ini masih terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Wayan Toni Supriyanto mengatakan, pemerataan pembangunan pusat data membutuhkan perencanaan terpadu. Pemerintah perlu mempertimbangkan kesiapan pasar, ketersediaan sumber daya, pasokan energi, serta dukungan konektivitas nasional dan internasional.
“Kami perlu memprioritaskan kawasan-kawasan tertentu dengan mempertimbangkan kebutuhan pemerintah, industri, dunia pendidikan, dan layanan publik. Selain itu, pasokan energi dan kesesuaian lokasi juga merupakan hal penting,” ujar Wayan dalam sesi diskusi panel pada Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, Selasa (20/10).
Menurut Wayan, pengembangan pusat data tidak cukup hanya mengandalkan investasi dan pembangunan fisik. Pemerintah perlu memastikan setiap lokasi memiliki ekosistem pendukung yang memadai agar pusat data dapat beroperasi secara andal dan memenuhi kebutuhan pengguna.
Ia menegaskan, pemerataan investasi pusat data perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan perkembangan pasar dan kesiapan ekosistem di setiap wilayah. Sulawesi dan Kupang menjadi sejumlah kawasan di luar Jawa yang masuk dalam pertimbangan pengembangan sesuai potensi dan kebutuhan pasarnya.
