Ramai #CuekinBuzzer, Begini Cara Algoritma Media Sosial Viralkan Konten

Desy Setyowati
6 November 2026, 01:16
Viral tagar #CuekinBuzzer, windah basudara,
Instagram @whatisupindonesia
Viral tagar #CuekinBuzzer
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Tagar #CuekinBuzzer ramai digunakan warganet Indonesia, termasuk streamer game Windah Basudara. Ajakan ini merujuk pada strategi perang digital dari Brasil yang dikenal sebagai Janonisme. Lalu, bagaimana cara kerja algoritma media sosial membuat konten menjadi viral?

Melalui akun Instagram, Windah Basudara mengunggah konten berjudul "#cuekinbuzzer Belajar dari Brasil". Ia mengajak warganet menghentikan engagement terhadap konten buzer dan meningkatkan interaksi terhadap unggahan yang menyuarakan kepentingan masyarakat.

Strategi itu berkaitan dengan cara kerja algoritma media sosial dalam merekomendasikan dan mendistribusikan konten kepada pengguna, sehingga menjadi viral. Setiap platform memiliki mekanisme dan bobot sinyal yang berbeda.

Cara Kerja Algoritma Instagram

Mengutip laporan Social Media Today pada 2025, Kepala Instagram Adam Mosseri menjelaskan tiga faktor utama yang paling berpengaruh terhadap peringkat konten, yakni waktu menonton (watch time), tanda suka (likes), dan kirim (sends).

Menurut Mosseri, bobot ketiga faktor itu dapat berbeda bergantung pada tempat konten ditampilkan dan kelompok pengguna yang menerimanya. Likes misalnya, sedikit lebih penting untuk konten yang ditampilkan kepada pengguna yang sudah terhubung dengan akun kreator konten.

Sementara itu, sends sedikit lebih penting untuk menjangkau pengguna yang belum terhubung.

Ketika unggahan dibagikan, konten itu berpotensi menjangkau orang-orang di luar pengikut akun pembuatnya. Instagram kemudian dapat menggunakan sinyal itu untuk mempertimbangkan rekomendasi konten kepada pengguna lain melalui fitur Explore dan rekomendasi.

Cara Kerja Algoritma YouTube

Wakil Presiden YouTube Cristos Goodrow, melalui laman resmi perusahaan pada 2021, menjelaskan bahwa rekomendasi konten berfokus pada halaman beranda YouTube dan panel, serta Up Next.

Menurut Goodrow, sistem rekomendasi YouTube tidak hanya mengandalkan popularitas atau jumlah penonton. Platform menggunakan kebiasaan menonton pengguna untuk memperkirakan video yang kemungkinan menarik bagi mereka.

YouTube membandingkan kebiasaan menonton seseorang dengan pengguna lain yang memiliki pola tontonan serupa. Informasi ini kemudian digunakan untuk merekomendasikan video lain yang mungkin disukai pengguna.

Dalam menentukan rekomendasi, YouTube menggunakan sejumlah sinyal yang saling berkaitan. Sinyal tersebut meliputi klik, waktu menonton, tanggapan survei, pembagian konten, tanda suka, dan tanda tidak suka.

Ada beberapa faktor yang dijelaskan Goodrow. Pertama, klik (clicks). Ketika pengguna mengeklik video, tindakan ini memberikan indikasi bahwa mereka tertarik untuk menontonnya.

Kedua, watch time. Durasi pengguna menonton video memberikan gambaran mengenai konten yang mereka anggap menarik atau bermanfaat.

Ketiga, tanggapan survei. YouTube menggunakan survei untuk mengukur kepuasan pengguna terhadap video yang ditonton.

Keempat, berbagi, suka, dan tidak suka. Menurut Goodrow, pengguna rata-rata cenderung lebih puas terhadap video yang mereka bagikan atau sukai.

Sistem rekomendasi kemudian menggunakan informasi itu untuk memperkirakan kemungkinan pengguna akan menyukai atau membagikan video lain.

Goodrow juga menjelaskan bahwa setiap sinyal memiliki tingkat kepentingan berbeda bagi masing-masing pengguna. Jika seseorang sering membagikan video, termasuk yang tidak disukai, maka sistem akan menyesuaikan bobot sinyal ini dalam rekomendasi.

Cara Kerja Algoritma TikTok

Dalam laman resmi berjudul "How TikTok Recommends Videos #ForYou" pada 2020, TikTok menyebut halaman For You atau Untuk Anda menampilkan video yang dikurasi berdasarkan minat masing-masing pengguna.

TikTok menggunakan sistem rekomendasi untuk memperkirakan konten yang kemungkinan menarik bagi seseorang. Alasannya, setiap pengguna memiliki kebiasaan dan preferensi berbeda, halaman For You setiap orang juga tidak sama.

Perusahaan menyebut tiga faktor yang memengaruhi rekomendasi video. Pertama, interaksi pengguna (user interactions), yang mencakup suka, dibagikan, akun yang diikuti, komentar yang ditulis, serta konten yang dibuat pengguna.

Kedua, informasi video (video information) yang mencakup teks keterangan atau caption, suara, dan tagar yang digunakan dalam video. Terakhir, pengaturan perangkat dan akun, yang memuat preferensi bahasa, pengaturan negara, serta jenis perangkat yang digunakan.

TikTok menjelaskan bahwa ketiga kelompok faktor tersebut diproses dan diberi bobot berdasarkan nilainya bagi pengguna.

Selain itu, TikTok menyediakan fitur untuk mengurangi konten yang tidak diminati. Pengguna dapat memilih opsi Not Interested atau Tidak Tertarik, menyembunyikan video dari kreator tertentu, maupun menyembunyikan konten yang menggunakan suara tertentu.

Tindakan itu menjadi bagian dari umpan balik yang digunakan sistem untuk menyesuaikan rekomendasi berikutnya.

Kenapa #CuekinBuzzer Ajak Warganet Abaikan Buzer?

Penjelasan mengenai algoritma Instagram, YouTube, dan TikTok itu memperlihatkan bahwa interaksi pengguna menjadi salah satu sinyal yang diperhitungkan dalam sistem rekomendasi.

Dalam konteks itu, ajakan #CuekinBuzzer memiliki dua prinsip utama. Pertama, menghentikan interaksi terhadap konten buzer. Windah Basudara mengingatkan warganet agar tidak memberikan tanda suka, berkomentar, membagikan tautan, melakukan repost, maupun berdebat dengan akun yang dianggap sebagai buzer.

Bahkan, ia mengingatkan bahwa membalas komentar menggunakan akun palsu atau mengunggah tangkapan layar konten buzer di akun sendiri tetap berpotensi mengarahkan pengguna lain kepada konten tersebut.

Kedua, meningkatkan engagement terhadap konten yang menyuarakan kepentingan masyarakat. Windah Basudara mencontohkan unggahan mengenai karhutla, dampaknya terhadap alam dan masyarakat, serta konsekuensi kebijakan yang dinilai buruk.

Warganet dapat memberikan tanda suka, berkomentar, membagikan konten, menonton video sampai selesai, melakukan repost, dan mengirimkan tautan ke grup percakapan.

Windah Basudara juga mendorong masyarakat membangun jejaring dan grup untuk saling mendukung penyebaran konten tertentu.

Prinsip itu memiliki kemiripan dengan pendekatan Janonisme atau Janonismo Cultural, pendekatan komunikasi politik digital yang diperkenalkan oleh anggota Kongres Brasil dari negara bagian Minas Gerais, André Janones.

Janones menggunakan strategi komunikasi yang mengandalkan pesan emosional, meme, bahasa provokatif, serta mobilisasi pendukung melalui media sosial.

Pendekatan itu menjadi sorotan dalam pemilihan presiden Brasil 2026. Janones membangun saluran WhatsApp bernama Exército do Lula atau Pasukan Lula untuk mengorganisasi pendukung Presiden Luiz Inácio Lula da Silva.

Dikutip dari Al Jazeera, jumlah pengikut saluran itu meningkat dari sekitar 50 ribu menjadi hampir 11 juta pelanggan dalam tiga minggu. Melalui saluran ini, Janones memberikan instruksi kepada para pendukung untuk mempromosikan tagar, menyukai unggahan, membagikan video kampanye, mengomentari siaran langsung, dan merekrut anggota baru.

Namun, strategi Janonisme tidak hanya mengandalkan peningkatan interaksi. Janones juga meminta pendukungnya menghindari komentar pada unggahan lawan politik karena interaksi ini berpotensi meningkatkan visibilitas konten melalui algoritma media sosial.

Pendekatan itulah yang kemudian menjadi salah satu inspirasi gerakan #CuekinBuzzer di Indonesia, yang digaungkan oleh sejumlah kreator konten, termasuk Windah Basudara.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...