Lemang Khas Aceh Makin Tren Saat Ramadan

Lemang dijual dengan harga bervariasi antara Rp 30.000 sampai Rp 100.000.
Image title
14 April 2021, 14:04
TRADISI KUAH BEULANGONG MAULID NABI
ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/aww.

Masing-masing daerah di Indonesia lazimnya memiliki kuliner tradisional. Contohnya adalah lemang dari Aceh yang lebih sering muncul pada momen Ramadan. Makanan ini terbuat dari beras ketan yang dimasak menggunakan bambu.

Ya,lemang dimasak di dalam seruas bambu. Sebelumnya, lemang digulung terlebih dulu pada selembar daun pisang. Dan secara keseluruhan, bahan-bahan yang dipakai untuk membuatnya tidak terlalu banyak, yaitu garam, beras ketan, santan yang dimasak dalam daun pisang, dan bambu.

Cara pembuatan Lemang pun terbilang cukup mudah. Langkah pertama yang perlu dikerjakan adalah merendam ketan di dalam santan terlebih dulu. Setelah direndam, masukkan santan ke dalam batang bambu, yang sebelumnya sudah diberi daun pisang. Setelah itu bakar di atas bara api. Maksud dari pemberian daun pisang ialah agar ketan tidak lengket. Pembakaran tersebut dilakukan hingga ketan yang ada di dalam bambu benar – benar matang.

Pembuatan lemang saat bulan puasa bisa dibilang sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Aceh. Kuliner ini adalah salah satu menu takjil andalan.

 

 

Seoran penjual lemang di Aceh mengaku, saat Ramadan bisa menghabiskan 40 sampai 60 bambu beras. Jumlah ini bisa menghasilkan 100 hingga 250 batang bambu yang di dalamnya sudah berisi lemang siap saji.

Lemang dijual dengan harga bervariasi, antara Rp 30.000 sampai Rp 100.000. Saking ramainya peminat lemang, sehari-hari mampu menghasilkan pemasukan sebesar Rp 3 juta - Rp 4 juta. Lapak lemang ini buka sejak 15.30 WIB dan sebelum 18.00 WIB, biasanya lemang sudah habis diserbu pembeli.

Selain hadir ketika bulan suci, lemang juga biasa dijumpai di warung-warung di Aceh. Masyarakat setempat biasanya menikmati lemang di warung kopi, lebih nikmat jika ditambah dengan kopi telor kocok.

Aroma khas lemang sungguh menggugah selera. Perpaduan santan dan beras ketan di dalam bambu yang berderet-deret sungguh menggoda. Setelah matang dalam bakaran, makanan ini dipotong kecil-kecil untuk selanjutnya siap disantap. Tak hanya masyarakat Aceh saja yang suka, wisatawan mancanegara juga gemar.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait